29. Privilege Sebagai Pacar

237 30 1
                                        

**

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**

Lelah adalah satu kata yang cocok untuk mendeskripsikan diriku sekarang.

Wajah kuyu, bahu merosot, rambut kusut, muka berminyak dengan dua tentangan koper ukuran besar dan satu tas selempang, aku duduk bersandar di kursi ruang tunggu bandara.

Urusan event konser di lima negara sudah selesai aku urus. Hari ini akhirnya aku bisa pulang setelah satu minggu bolak balik dari satu negara ke negara lain.

Untuk urusan penginapan, keamanan dan kenyamanan grup tujuhbelas selama tur dunia adalah tanggungjawabku. Aku tidak bisa mengandalkan panggilan telepon saja, aku harus langsung melihat lokasi dan meninjau area konser serta penginapan mereka.

Untungnya aku punya kenalan dari beberapa negara, mereka adalah beberapa pegawai Daddy yang mau ikut membantuku.

Masih ada sembilan negara lagi yang mesti aku kunjungi, namun pekerjaan sedang menungguku di kantor. Aku harus segera kembali.

Burung besi tampak gagah dibalik dinding kaca ruang tunggu. Aku termenung sejenak. Sesaat teringat Sastra yang sudah lima hari tak menghubungiku.

Cowok itu kesal dan cemburu. Sebab, ia memergoki aku dan Sebby yang hampir berciuman.

Kejadian itu terjadi di apartemenku, sehari sebelum aku harus berangkat ke luar negeri. Sebby merengek dan memeluk serta hendak mencium pipiku sebagai bentuk perpisahan. Lantas, tahu-tahu Sastra datang dan melihat semuanya.

Itu salahku juga, sih.

Yah, mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa mengendalikan kebiasaan Sebby yang memeluk dan menciumku.

Hal itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kami berteman dekat dan susah diubah.

Aku memutar video yang dikirim Fay, situasi ruang latihan dengan fokus kamera pada Sastra.

Aku merindukannya, sungguh.

Aku belum sempat meminta maaf secara langsung pada Sastra karena urusan pekerjaan yang mesti diselesaikan secepatnya.

Aku hanya mengirim pesan saja dan sama sekali tidak ada balasan dari cowok itu.

Sastra tampak bersemangat seperti biasa. Di dalam video, ia tampak menggemaskan dengan kupluk merah.

Kira-kira, jika aku menghubunginya sekarang apa ia akan merespon?

Aku segera menempelkan ponsel di telinga setelah mendapat info dari Fay kalau anggota grup tujuhbelas sedang istirahat.

Nada sambung terdengar cukup lama hingga suara operator terdengar.

Memberitahukan bahwa nomor yang aku tuju sedang sibuk.

Ah, panggilanku di reject.

Jahatnya.

**

Langit sudah gelap sesaat aku melangkahkan kaki keluar bandara.

Aku segera masuk ke dalam taxi yang terparkir di depan bandara dan menuju apartemenku.

Rasanya lelah, yang aku inginkan sekarang hanya berendam air panas lalu tidur.

Perjalanan menuju apartemen cukup singkat, tidak ada kemacetan dijalanan dan wakttu yang diperlukan hanya dua puluh menit.

Aku lantas menaruh koper dan melepas pakaian. Langsung ke kamar mandi untuk mengisi bathup dengan air panas.

Tiba-tiba ponselku berdering. Ada rentetan notifikasi masuk.

Di bar notifikasi paling atas ada nama kontak Sastra.

Aku refleks terpekik. Menegakkan punggung dan membuka aplikasi chat tersebut.

From Sastra :
Sorry, tangan gue licin jadi ke reject. Mau gue telpon lagi?

Tangannya licin ya?

To Sastra :
Mauuuuuuu

Tak menunggu lama, nama kontak Sastra muncul di layar ponselku. Bukan panggilan telepon biasa, tapi cowok itu melakukan panggilan video.

Aku jadi deg-degan.

Wajahnya langsung memenuhi layar ponselku setelah aku menggeser tombol hijau.

Lesung pipinya muncul dengan bibir merah nan penuh yang membentuk lengkung senyum.

Mataku memanas, ingin menangis saking rindu dengan sosoknya.

"Hei, kok diem?" tanyanya setelah aku tak mampu membuka mulut hanya sekedar menyapa.

"Aku kangen Kakak," balasku terdengar parau.

Suaraku jadi serak.

"Kamu gak papa? Ada yang sakit?" Raut wajahnya tampak khawatir.

Sial, aku jadi benar-benar ingin menangis sekarang.

"Enggak, cuma capek aja baru sampai apart. Kakak lagi dimana?"

Layar kamera tampak buram, agaknya Sastra di ujung sambungan sedang berpindah tempat.

Pintu dan dinding abu-abu terlihat setelah kamera tenang. Ruangan yang sangat aku kenali, itu ruang latihan.

Sosok Sastra muncul sedetik kemudian. Ia duduk di kursi dengan setengah badannya muncul di layar.

"Masih di sini, bentar lagi mau pulang."

Aku mengangguk.

"Boleh minta hug online gak? Kayak yang biasa kakak lakuin ke fans tiap fansign online."

Apa dia akan mengabulkan permintaanku?

Sastra tampak mendekat, hingga seluruh wajahnya muncul di layar ponselku.

"Kenapa harus hug online? Lo pacar gue bukan fans gue, ketika lo bisa dapat yang lebih dari itu."

**

**

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Date : 24 Juni 2023

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Date : 24 Juni 2023

Lost You Again! (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang