Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Aroma obat tercium jelas.
Aku mengerjap dan hanya mendapati warna putih di sekelilingku.
Kenapa aku bisa ada di sini?
Ah, iya.
Bunga sakura!
Bunga sakura kecil yang sudah dilaminating. Seketika beberapa bunga sakura ada di hadapanku. Banyak sekali. Memenuhi warna putih yang kini tiba-tiba tampak seperti lantai.
Aku mengambil satu di antaranya. Melihatnya begitu dekat. Iseng, aku memasukkannya ke dalam mulut.
Aneh, tidak ada rasanya.
Aku bahkan tidak bisa merasakan gigiku.
Aneh bukan?
Aku ada di mana?
Kenapa semuanya putih dan hanya bunga sakura itu saja yang berbeda.
Apa ini tempat singgah sebelum ke akhirat?
Apa malaikat maut akan menjemputku di sini?
Sapuan hangat di punggung tanganku terasa. Aneh, aku bisa melihat tanganku sendiri tapi tidak ada siapa pun yang menyentuhnya. Namun rasanya begitu nyata.
Aneh bukan?
Meski tempat ini asing, tetapi aku merasa nyaman. Seolah ini adalah tempat melepas penat.
Tempat singgah layaknya rest area di tepi jalan tol. Meski janggal karena hanya ada warna putih di sekelilingku.
Aku mencoba mengingat sesuatu tapi aku malas lalu tiba-tiba saja mengantuk.
Aku menguap kemudian semuanya kembali gelap.
**
"Kala gak papa, pendarahannya udah berenti, dia juga udah nerima tiga kantong darah, pelakunya udah di penjara."
"Tapi, kenapa dia belum bangun?"
"Dokter bilang tubuhnya butuh waktu untuk pulih."
*
"Hei Hana, sedih banget gue baru dateng disambut lo bobo di rumah sakit, yuk pulang, gue banyak bawa oleh-oleh."
"Hana, gue kangen, pengen peluk, lo janji loh mau ajarin gue jadi investor di tempat lo kerja, Hana ayo bangun."
*
"Kala, maaf."
"Aku salah udah marah sama kamu. Maafin aku Kala, please bangun."
*
Semua percakapan itu jelas terdengar. Aku ingin menyahut namun tak bisa.
Entah sudah berapa lama aku seperti ini. Aku tak bisa memperkirakan hari, jam, menit dan detik yang berlalu.