Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Hari ini kami akan ke pantai. Besok dan lusa kami akan disibukkan dengan persiapan konser grup tujuhbelas. Hanya hari ini adalah hari libur kami yang tersisa.
Semalam, aku tak sempat bicara dengan Sastra seperti yang cowok itu niatkan. Aku sibuk mengurus hadiah yang akan dibagikan kepada fans grup tujuhbelas sewaktu konser nanti. Terlebih lagi, aku mendapat telepon dari kantor bahwa aku harus segera pulang besok, minimal dengan penerbangan terakhir. Ada masalah cukup pelik yang telah terjadi.
Perhatianku melayang dari setumpuk pekerjaan di Seoul nanti saat Sastra tiba-tiba muncul dengan celana renang pendek tanpa atasan.
Aku mengerjap kaget melihat otot perutnya yang kotak-kotak dan tampak liat. Aku jadi ingin menyentuhnya.
"Gak ikut main air?" tanya Sastra.
Aku melirik ke arah kehebohan saat rombongan grup tujuhbelas, Fay dan Sarah berlari menuju tepi pantai.
"Gak, lagi gak pengen main air," jawabku. Sembari memandang iri pada Fay dan Sarah yang benar-benar memakai bikini.
Sementara aku hanya mengenakan kemeja pantai kebesaran dan celana hot pants.
"Kenapa? Lagi gak enak badan ya?" Sastra mendekat, kemudian menempelkan tangannya di dahiku.
"Enggak papa kok kak. Aku gak demam."
"Terus kenapa gak mau main air? Ada Kak Sarah sama Fay juga loh."
Aku menggeleng lagi.
Sastra memiringkan wajahnya bingung. Cowok itu tidak puas dengan jawabanku. Mau tak mau aku perlu meyakinkannya lagi. aku meraih tangannya dan menggenggam erat tangannya.
"Aku gak papa Kak, ke sana gih, bentar lagi yang ngelatih kalian surving bakal dateng."
"Oke deh, nanti kalau ada apa-apa kasih tau gue ya, sayang,"
Aku terhenyak saat mendengar Sastra memanggilku dengan sebutan itu. Perutku rasanya seperti digelitik. Aku mengulum bibir dan menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Sastra menyeringai lalu mengusak rambutku dan berlalu pergi setelahnya.
Tak lama Lingga datang, ia membawa seseorang yang tak terduga.
"Hana, salah satu pelatih surving gak bisa dateng, mereka ngabarin gue dan bilang temennya yang bakal gantiin dia. Jadi, kenalin namanya Kevan."
Terik matahari cukup menyengat ketika pusat bumi itu merangkak naik perlahan.
Aku meminta Lingga untuk mengingatkan anggota grup tujuhbelas memakai sunscream mereka.
Dino tampak berlari mendekat. Cowok itu membawa cream sunscream padaku dan meminta aku untuk mengoleskan di wajahnya.
Aku menurut, mulai mengoleskan krim sunscream di wajah Dino.
"Lo sama Kevan temen satu sekolah ya?"
Aku kaget. Tak menyangka info itu sudah menyebar luas.
"Kok tau? Dia cerita ya?"
"Iya, terus bang Sastra kepo nanyain tentang lo."
Aku terkekeh. "Dia nanyain apa aja?"
"Banyak, tapi gue gak terlalu dengerin sih."
"Udah. Lo bisa buka mata lo." Aku menutup tubesunscrean dan mengembalikan ke pemiliknya.
"Tapi, dari yang gue liat, Bang Sastra cemburu keknya sama Kevan," ucap Dino lagi sambil lalu dan terkekeh.
Tepat pada saat itu, para pelatih surving kembali. Termasuk juga Kevan.
Sesi latihan berselancar sudah selesai. Aku lihat di pinggir pantai hanya Dino, Hasan dan Yuma yang masih asik bermain.
Aku rasa yang lainnya sedang beristirahat dan siap-siap untuk makan siang.
Aku lantas memanggil Sarah dan mengurus pembayaran kepada ketiga pelatih surving.
"Gue boleh minta kontak lo ga?" tanya Kevan padaku.
"Boleh, boleh banget."
Aku lantas memberikan nomor ponselku dan akun sosial media yang masih aku gunakan.
"Lain kali kalau lo ke London, kita bisa main-main ke kampus."
Kevan tergelak, ia mengangguk setuju. "Rencananya gue juga bakal lanjut S2 di London."
"Wah, bagus dong. Tapi, toko lo gimana?"
"Dijual, gue bisa buka toko roti di London nanti."
Aku nyengir. "Bisa gitu ya, dari toko surving jadi ke toko roti."
"Bisa, apa sih yang gak gue bisa. Kalau gitu sampai ketemu lagi Hana," pamitnya.
Aku mengantar mereka sampai ke kendaraan masing-masing.
Mereka semua pun pergi dengan lambaian tangan.
Saat aku kembali, Sarah yang sudah mengenakan auter mengerlingkan mata padaku.
"Dia temen SMA gue, temennya Sebby juga. Asli Miami."
Sarah ber-oh panjang setelahnya. Kemudian ia menyikutku dan menunjuk Sastra yang memasang ekspresi masam.
"Liat tuh cowok lu mukanya asem banget, padahal dia yang ngorek informasi sendiri, lah dia yang jadi kesel sendiri," tawa Sarah terdengar puas setelahnya.
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anw, keknya ku halu soal mixtape scoups bulan ini, soalnya info itu aku dapet random dari twitter dan gak sempet aku rt. Sampai sekarang ku ubek-ubek gak ketemu:(