Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Sejak aku pandai membaca dan memahami alasan kenapa Daddy kerap membeli rumah di tiap negara, selalu menyimpan pistol di bawah bantal dan laci mobil, aku sudah dicekoki berbagai macam kode rahasia.
Dari kode morse pramuka hingga yang absurd.
Aku adalah anak satu-satunya yang akan meneruskan nama keluarga Viz ke generasi berikutnya.
Diculik, disekap, bahkan hampir dibunuh sudah pernah aku rasakan.
Sebenarnya aku punya banyak jejak luka, hanya saja skincare zaman sekarang makin canggih, jadi semua borok tersebut lenyap tak bersisa.
Sejak masuk SMA, aku belajar IT sendiri bersama orang kepercayaan Daddy, namanya Kevin, aku memanggilnya Om Kevin.
Kami meretas ponsel agar bisa digunakan untuk telepon satu arah dengan tampilan layar putih seperti ponsel rusak.
Hal itu lah yang aku lakukan sekarang. Menghubungi Om Kevin saat situasi terdesak.
Diujung sambungan, Om Kevin sudah mengangkat panggilanku. Layar ponsel langsung berubah putih dan aku segera meneriakkan kode rahasia yang hanya, aku, Om Kevin dan Daddy yang tahu.
"I WANNA EAT PIZZA RIGHT NOW!"
Kode itu dibuat dadakan ketika mendengar teriakan anak tetangga di sebelah rumah Om Kevin yang merengek minta dibelikan pizza.
Suasana di dalam mobil berubah hening. Sedetik kemudian, kedua orang di kursi depan itu mengumpat dengan dialek khas orang Kanada, yakni campuran ejaan Bahasa Inggris Amerika dan Britania Raya.
Pria yang berbau alkohol itu merebut ponselku, ia bahkan sengaja menyentuh pahaku yang polos karna aku memakai rok pendek. Aku langsung menepisnya dan ia terkekeh-kekeh sambil mengedipkan mata.
Bangsat sekali! Ingin ku sumpal mulutnya dengan pantat botol wiski.
Fay di sebelahku hanya bisa diam, keningnya berkeringat.
Taksi itu berbelok masuk ke dalam gang. Di sisi kiri dan kanan banyak rumah-rumah kayu dengan hamparan rumput hijau di halaman.
Dari rumah satu ke rumah lainnya berjarak cukup jauh.
Visualnya persis seperti di film-film western yang pernah aku tonton.
Ponselku yang dipegang si bau alkohol itu sedang diotak-atik.
Sayangnya, layar ponsel yang putih seakan sudah rusak membuatnya tak bisa melakukan apapun.
Ia menggeram marah, lalu melempar ponsel ke arahku, yang membuat ponsel tersebut menghantam keras tanganku yang diperban.
Sialan sialan!
Tanganku berdenyut nyeri, aku sampai menggertakkan gigi menahan rasa sakitnya.
Melihat aku yang mengernyit kesakitan, si bau alkohol itu kembali terkekeh-kekeh.
Ingin sekali aku melayangkan tinju ke giginya yang kuning itu.
Mobil berhenti di tepi jalan di depan rumah bercat kuning cerah.
Si bau alkohol langsung keluar dan sesaat kemudian membawa dua orang pria bertubuh gempal dari dalam rumah.
Sial, lama sekali Om Kevin.
Perutku jadi mual.
"Hana, kayaknya kita bakal mati deh," cicit Fay disebelahku.
Aku menggigit bagian dalam pipiku kuat, merasakan rasa karat di sana.
"Tahan pintunya Fay!" seruku ketika dua pria gempal dan si bau alkohol melangkah mendekat menuju pintu penumpang taksi.
Sayangnya, usahaku dan Fay menahan pintu tak membuahkan hasil.
Tanganku sampai tergores oleh pegangan pintu bagian dalam yang terlepas. Darah pun menetas ke jok taksi dan rok yang aku kenakan.
Fay yang sudah pucat makin pasi saja.
"OUT OUT!" seru salah satu pria gempal di luar taksi. Ia membuka pintu dan menyeretku keluar.
Tubuhku rasanya melayang sepersekian detik sampai kakiku menjejak aspal.
Tiba-tiba dari arah belakang suara tembakan terdengar, disusul klakson kencang.
Aku refleks menutup kepala dengan tangan dan menunduk. Sebuah mobil jeep hitam besar berhenti di tengah jalan. Seseorang melompat turun dengan pistol di tangan.
Akhirnya bantuan datang.
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.