Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
From Lingga : Hana, Sastra di tempat lo ya?
To Lingga : Iya Bang, gue kira lo udah tau
From Lingga : Tau, Sastra udah lapor kok. Cuma gue mau mastiin aja. Besok pagi ingetin Sastra ke salon ya, dia bakal ganti gaya rambut
Aku melirik pintu kamarku yang terbuka.
Lalu kembali menaruh atensi pada ponsel dan membalas pesan Lingga.
To Lingga : Siap Bang
Aroma lezat dari mie rebus dia atas meja membuat perhatianku teralih.
Aku berdecak teringat kalau tadi Sastra yang menawarkan diri akan memasak mie untukku.
Namun, cowok itu malah terlelap seperti bayi setelah membuatku hampir telanjang.
Sungguh, tadi itu benar-benar ... luar biasa.
Tangan Sastra yang besar meraba di mana-mana. Bibirnya juga tak tinggal diam, memberikan jejak merah di setiap tempat.
Kelakuan gilanya persis seperti dalam pikiran liarku.
Kami lantas berpindah ke atas ranjang. Ia lalu berbaring dan mencicip rakus buah dadaku. Mengulum puncak dada bak bayi yang kehausan.
Kemudian, tanpa diduga ia terlelap begitu saja.
Ah, sial. Jika dilanjutkan pasti seru, tetapi aku tahu ia lelah sehabis konser.
Aku akan memakluminya untuk kali ini.
Ponselku kembali berdering. Kali ini pesan masuk dari Sarah.
Ia mengirimkan sebuah video yang menampilkan Sebby sedang berada di club. Cowok itu terlihat mabuk.
From Sarah : /sent a video/ Liat deh, mantan pacar lo ini, dia mabuk kayak orang gila dan traktir seisi club.
Astaga! Dia kira mudah ya mencari uang hingga begitu gampangnya berfoya-foya.
Sarah kembali mengirimkan pesan.
From Sarah : Gue berhasil bawa dia pulang dan liat apa yang gue temuin di rumahnya /sent a photo/
Aku memperbesar foto yang Sarah kirim.
Foto itu berupa bingkai foto seukuran 3R. Aku dan Sebby ada dalam frame tersebut, mengenakan seragam sekolah.
Aku ingat, foto itu diambil dari kamera Sebby yang cowok itu dapat sebagai hadiah ulang tahun ke-17.
Ternyata, ia masih menyimpan foto itu.
Ada pesan masuk dari Sarah lagi. Kali ini lebih panjang.
From Sarah : Dia bener-bener gak bisa move on dari lo Han, keliatan banget dia tersiksa abis liat lo sama Sastra cipokan di parkiran belakang tempat konser tujuhbelas. Dia ngajak gue ke club. Kira-kira sebotol wiski abis sendiri sama dia. Gue gak tau harus kasih saran kayak apa sementara gue sendiri masih jomblo. Yang terpenting gue harap kalian berdua tetap bahagia, mau sama siapapun jodoh kalian nantinya. Duh, gue jadi melankolis begini. Udah ya, sampai ketemu besok di kantor. Btw, ini rekor gue masih sober padahal udah mimik-mimik di club
**
"Hana, sayang?"
"Iya!"
Aku keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah lengkap berpakaian.
Biasanya, aku akan mengenakan pakaian di kamarku dan hanya mengenakan handuk sehabis mandi, tapi kali ini pengecualian. Sebab, Sastra masih ada di kamarku. Tadinya ia masih tidur, tetapi kini sudah duduk di tepi kasur dengan wajah mengantuk.
Aku melirik jam dinding, sudah pukul enam pagi. Dia bangun tepat waktu, padahal aku akan membangunkannya sehabis mandi.
Aku mendekat lalu mengecup pipinya.
"Masih ngantuk ya?"
Ia mengangguk.
"Bang Lingga bilang kalau kamu harus ke salon pagi ini. katanya dia bakal jemput kamu jam tujuh."
Itu isi pesan Lingga yang baru kubaca pagi ini.
Sastra mengganguk lagi. Lalu ia menoleh.
"Maaf ya ...."
"Kenapa sih dari semalem minta maaf terus. Tapi, ujung-ujungnya aku juga ditinggal tidur."
Mendengar protesanku Sastra terkekeh.
"Ngantuk banget, serius, baru kali ini gue gak bisa nahan kantuk."
"Maaf ya, harusnya aku gak ajak Kakak nginep semalem, kalau Kakak pulang kan bisa langsung tidur."
"Jangan minta maaf. Gue juga udah berencana mau ke apart lo. Gue udah kangen berat." Kemudian, ia memelukku dari samping seraya mencium telingaku lantas berujar, "kamu wangi banget."
"Aku kan abis mandi."
Sastra terkekeh lagi, ia lantas menjauh. "Semalem kita ngapain aja?"
Aku buru-buru memalingkan wajah dan berujar. "Kakak hampir bikin aku telanjang."
Sastra mengerjap, agaknya ia tak memperhitungkan kalau aku akan mengeluarkan kalimat frontal itu. Namun, sedetik kemudian ia terkekeh.
"Kamu manis banget semalem."
Aku berdecak. Buru-buru berdiri dan menjauh. Gelenyar panas yang terasa aneh serta kilas bayangan liar semalam kembali terlintas.
Aku benar-benar tak menyangka bisa begitu santainya membiarkan orang merobek bajuku dan membuat aku telanjang.
Eh, benar juga! Crop top ku!
Aku lantas meraih crop top nahas yang sudah terbelah dua itu dari keranjang pakaian kotor dan memperlihatkannya pada Sastra. "Ganti crop top aku Kak!"
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.