Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rate 18+ 🙏
**
Seperti anak kecil yang mainannya direbut, Sastra cemberut dan tidak mau menatap mataku.
Cowok itu ngambek.
Sebby sudah pulang sepuluh menit yang lalu diiringi tatapan sinis Sastra tentunya.
Keduanya bahkan belum sempat berkenalan, saat aku mendapati mereka berdiri canggung di depan pintu.
Sebby yang ekstrovert saja dibuat mati kutu dengan sorot mata tajam dari Sastra, apalagi aku.
Namun, kalau dipikir-pikir lucu juga.
Aku malah jadi gemas sekarang ingin mencium pipi Sastra.
Cowok itu tidak akan tambah marah kan kalau aku cium tiba-tiba?
Detik jam dinding seolah menjadi backsound penghitung waktu aku mengumpulkan keberanian.
Sayangnya, baru dua puluh detik berlalu aku dinyatakan kalah telak.
Bukan karena tidak berani, tapi Sastra sudah mencuri start duluan.
Cowok itu menarik pinggangku hingga aku berada di pangkuannya. Lantas membenamkan wajahnya di ceruk leherku.
Aku bisa merasakan hangat napasnya menyentuh permukaan kulit.
Kemudian, bibirnya menjelajah. Kecupan-kecupan kecil tersebar merata dan bermuara di bibirku.
Sastra hanya menempelkannya, cukup lama. Seolah memberi jeda agar aku bersiap.
Barulah ia menunjukkan sisi aslinya. Ganas, liar dan seduktif.
Aku mendesah tertahan di bawah kendalinya. Meremas rambut hitam legam miliknya yang mulai panjang dan merasakan rambut-rambut halus di belakang lehernya.
Sastra akhirnya melepas tautan sesaat paru-paruku hampir kosong tanpa udara.
Aku menghirup udara banyak-banyak. Mengisi paru-paru ketika diberi kesempatan.
"Kakak brutal banget,"
"Kalo gak gini, bukan gue namanya."
Aku mengangguk saja.
Lalu beringsut turun dari pangkuannya. Tapi, Sastra kembali memelukku lebih erat.
"Tetap kayak gini, bentar lagi gue harus balik, gue mau puas-puasin meluk lo Kala."
"Oke."
Kalau begitu, aku tak punya pilihan lain.
Membiarkan dia bebas melakukan apa yang ia inginkan.
"Kak, mulai besok aku bakalan sibuk banget, eh salah, kita bakalan sibuk banget."
Sastra mengangguk. Tangannya mengusap punggungku.
"Persiapan album baru, konser, tur dunia, pemotretan, promosi."
"Katanya lo bakal handle buat tur dunia ya?"
Aku mengiyakan. "Iya, ada beberapa negara yang udah familiar bagi aku. Jadi, CEO minta aku buat handle persiapan tur dunia, ngomong sama penyelenggara event konser, penginapan kalian, tim keamanan kalian, semuanya deh."
Sastra kembali menghujani wajahku dengan ciuman.
Tangannya yang ada di belakangku bergerak acak, membentuk pola abstrak yang membuatku berjengkit sesekali.
Sastra terkekeh ketika menyadari tingkahku.
Bukannya berhenti, cowok itu malah memasukkan tangannya ke dalam kausku.
"Kak!" Aku terpekik saat merasakan kulitnya menyentuh punggungku tanpa penghalang.
Tawa Sastra kembali pecah.
"Kamu gampang geli ya?"
Aku melepaskan diri dari pelukannya.
"Iya! Jangan aneh-aneh dong!"
Sastra masih saja tertawa.
Saat ia hendak menarikku mendekat, aku buru-buru menjauh hingga ke ujung sofa.
Ponselku berdering, ada panggilan video dari Sarah.
Aku jadi lengah. Mengalihkan perhatian dari Sastra yang menatapku lamat dari sisi lain sofa.
Wajah Sarah memenuhi layar ponselku, matanya tampak sayu dan ia menceracau tak jelas.
Di belakangnya terlihat terpal kuning khas milik warung tenda pinggir jalan yang menjual Soju dan berbagai makanan serta cemilan teman minum alkohol tersebut.
Wajah Sebby muncul setelahnya.
"Kala, lo tau nomor telepon supir pengganti gak? Gue belum ada SIM di sini, ntar kalo gue nekat bawa mobilnya Sarah jadi masalah lagi."
"Ada, ada, kalian lagi berdua aja?"
Aku mencari nomor telepon supir pengganti langgananku di daftar kontak.
Tiba-tiba saja, sisi sofa di sebelahku memberat. Ada pergerakan asing di sana. Namun, aku tak bisa mengalihkan perhatian dari ponsel.
Sarah benar-benar mabuk. Berapa botol Soju yang sudah ia habiskan? Dia mabuk sepagi ini? Bahkan matahari belum mencapai puncak kepala. Wah, Sarah sudah tak waras.
"Ketemu! Ahh, gue kirim lewat chat yahh, ntar kabarin gue kalau kalian udah sampai rumah."
"Oke, muka lo kenapa? Kok mesem-mesem gitu?"
"Gapapa! Udah ya bye!"
Sialan! Sastra ini benar-benar gila. Bagaimana tidak?
Tiba-tiba saja ia menaruh kepala di pahaku, lantas tangannya bergerak naik dan masuk ke belakang kaus lalu melepaskan pengait bra yang aku kenakan. Tidak sampai di situ saja, tangannya mulai menjalar ke depan dan meremas lembut buah dadaku.
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.