Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Benar apa yang Daddy bilang, untuk mendengarkan saran dari yang lebih ahli.
Kemarin di TKP penyerangan, aku diobati oleh perawat di ambulance, katanya aku harus segera ke rumah sakit untuk mendapat pengobatan yang lebih baik.
Namun, aku ngeyel dan hanya memberikan salep luka saja.
Alhasil, pagi ini tangan kananku jadi kaku, memerah dan tidak bisa digerakkan. Rasa nyeri luar biasa terasa jika bersingungan dengan sesuatu.
Saat memakai baju saja, aku harus sangat berhati-hati memasukkan lengan baju di tangan kanan. Aku menyerah untuk memakai make up dan segera memesan taksi untuk ke rumah sakit.
Aku menghubungi Fay dan Sarah, memberitahu kalau aku akan telat datang ke kantor. Sekedar informasi jika mereka ingin menemuiku.
Tak banyak pasien yang mengantri untuk berobat saat aku datang. Aku hanya perlu menunggu sekitar sepuluh menit barulah namaku dipanggil untuk diperiksa.
Ternyata tangan kananku cukup parah. Katanya ada retakan dan perlu di gips.
Setelah memohon ke dokter supaya tidak diberi gips super besar, tanganku berakhir dibalut perban tebal dari pergelangan tangan sampai ujung jari dan memakai arm sling.
Aku diwanti-wanti untuk tak banyak menggunakan tangan kanan selama satu minggu dan rajin minum air putih serta mengonsumi kalsium.
Meski aku kidal, tetapi rasanya tetap aneh dengan tangan kanan dalam kondisi diam di arm sling.
Aku tiba di kantor satu jam lebih telat dari jam masuk biasanya.
Beberapa pasang mata menatap ke arahku. Aku hanya acuh dan langsung menuju counter kafe untuk membeli es americano.
Tanpa sadar, aku bercermin pada dinding metal di balik meja counter kafe. Aku tampak polos tanpa make up dengan tangan dibedong, terlihat sangat menyedihkan.
"Loh Hana?" Sapa Dino tampak kaget melihat tanganku. "Tuh kan kemaren aja udah merah banget, apa kata dokter?"
Wanza menyerobot, menyahut kekhawatiran yang sama. Ia juga iseng menusuk-nusukkan jarinya ke arm sling tangan kananku.
"Sakit ga?" tanyanya.
Aku mengeluarkan tangan kananku sebentar dari arm sling, memperlihatkannya pada Dino dan Wanza. "Engga, malah gak kerasa."
Tanpa sadar, Sastra dan kawan-kawan datang, ikut mengantri di belakangku.
"Jadi apa kata dokter?" Dino mengulang pertanyaannya yang belum sempat aku jawab.
"Parah, dokter bilang gue bandel karena gak dengerin kata perawat di ambulance yang ngasih pertolongan pertama. Terus kemaren gue paksa juga buat ngetik jadinya malah begini."
Dino menghela napas panjang, tampak prihatin.
Sementara itu, Wanza tiba-tiba merangkul bahu kananku dan menarik Dino mendekat. Ia berbisik. "bang Sastra pasti gak tahan mau nanyain soal tangan lo, tapi dia pura-pura cuek, najis gue." Wanza berujar salty.
Dino balas tertawa canggung sambil melirik ke belakangku.
"Maaf ya, waktu itu gue gak tau harus gimana. Yang lain juga lagi capek dan suasananya jadi gak enak karena Bang Sastra lagi marah," ucap Wanza saat kami jalan bersisian menuju lift. Aku berada di tengah antara Wanza dan Dino. Kami sudah mendapatkan pesanan kopi masing-masing.
"Gak papa, tapi jujur aja waktu itu gue sedih banget," balasku, teringat kejadian saat Sastra meminta untuk tidak saling bertemu dulu.
Wanza tampak hendak bicara lagi, tetapi ia kembali bungkam dan beralih mengelus arm sling tangan kananku. Usapannya begitu hati-hati, seperti mengusap pipi bayi saja.
"Gue juga berusaha ngerti situasinya, yang penting sekarang tuh persiapan kalian buat konser 'kan?"
Aku menatap Dino dan Wanza bergantian.
Kedua cowok itu akhirnya tersenyum lebar lantas sama-sama merangkul bahuku dan bernyanyi sampai kami masuk lift dan pintu lift tertutup.
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.