Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Sastra mendorongku masuk ke jok penumpang belakang.
Ia dengan mudah menarik crop top yang aku kenakan karena pengaitnya sudah ia lepas duluan. Aku sontak menyilangkan tangan di depan dada.
"Kenapa sih lo suka banget bikin gue pusing akhir-akhir ini?" suara Sastra terdengar berbeda, nafasnya juga berat.
Entah kenapa aku merasa terancam.
"Kak jangan aneh-aneh!" sentakku.
"Kenapa? Kita kan pernah ngelakuin ini."
"Kak kita lagi di tempat parkir."
"Gue gak peduli. Lo duluan yang mulai Kala."
"Kok aku? Padahal cewek-cewek di sana malah terang-terangan cuma pake bh doang. Kenapa Kakak nafsunya cuma ke aku?"
Bukannya menjawab, Sastra menarik tanganku yang bersilang di depan dada.
"Aku gak mau Kak!"
Seolah tuli, Sastra malah memelukku lalu mengendus ceruk leherku.
Aku meremang, segala hal menakutkan yang pernah aku alami berkumpul menjadi satu dalam kepala.
Tangisku pecah. Aku mendorongnya menjauh.
"Aku gak mau Kak! Please stop!"
Namun, Sastra tidak berhenti.
Lantas, tanpa terduga, tanganku melayang dan mendarat di pipinya begitu keras.
Aku bahkan sampai terkejut karena suaranya, telapak tanganku jadi berdenyut.
Sastra berhenti. Ia termangu di posisinya. Aku langsung bergeser ke samping, memakai crop top ku lagi lalu mengacingkan kemeja pantai. Aku tersedu, tangisku tak bisa berhenti.
Kemudian aku kembali ke kursi kemudi dan bersiap pergi menuju penginapan.
"Duduk yang bener, pake sabuk pengamannya Kak." Suaraku bergetar. Aku perlu mengendalikan diri.
"Maaf Kala, gue ...."
"Diem, jangan ngomong apa-apa kalau gak mau aku tinggal di sini."
**
Sesampainya di penginapan, aku memarkirkan mobil di halaman depan penginapan yang sedang ramai.
Beberapa member tujuhbelas sedang asik bermain di lapangan berumput di depan penginapan.
Aku langsung turun dari mobil yang disambut oleh Lingga.
"Kasih kompres es buat Kak Sastra Bang," ucapku sambil lalu dan bergegas masuk ke dalam penginapan.
Sesampainya di dalam kamar, aku mendapati raut khawatir di wajah Sarah.
"Mata lo bengkak, abis nangis ya? Siapa yang bikin lo nangis."
Aku jadi menangis lagi.
Sarah langsung memelukku. Aku menangis sepuasnya di bahu Sarah. Tidak peduli dengan bajunya yang basah karena air mataku.
"Ayo bilang ke gue siapa yang bikin lo nangis?"
Aku menyedot hingus dan menenangkan diriku sebelum bicara.
Namun, Sarah menyerobot tidak sabaran dan membuat praduga asal-asalan.
"Jangan bilang ada musuh bokap lo di sini? Atau lo kan tadi pergi bareng Sastra, lo ngeliat Sastra sibuk ngobrol sama back dancer yang seksi?"
Aku menggeleng.
"Bukan. Jangan asal nebak deh!"
"Ya makanya ngomong!" Sarah berseru gemas.
Aku menarik napas siap untuk bicara. Tiba-tiba saja aku jadi bingung hendak mulai bercerita dari mana.
"Ih anjir kok malah bengong sih?" Sarah mengguncang tubuhku.
"Jangan marah dong! Tadi itu ... gue sama Kak Sastra ... egh, jadi kan tadi panas ya, gue buka baju," Aku lantas melepas kemeja pantai yang aku kenakan.
Kemudian lanjut bercerita, "mungkin tadi ... dia sange liat gue kayak gitu ... terus pas di mobil dia buka crop top gue, dibuka kayak mau merkosa orang, lo ngerti kan gimana maksud gue, karena kita pernah kayak gitu, gue rasa dia pengen ngelakuin yang sama di mobil. Cuma gue gak mau, posisi kita lagi di parkiran dan meskipun lagi sepi tapi tetep aja itu tempat umum. Gue udah nolak tapi dia tetep maksa, alhasil gue nangis dan nampar dia."
"Lo nampar Sastra?" ulang Sarah.
"Iya."
"Bagus! Cowok sangean kayak dia emang harus dikasih pelajaran!"
Aku terharu, siap hendak menangis lagi. Tapi, perkataan Sarah membuat air mataku enggan keluar.
"Tapi, aneh gak sih seorang Sastra yang jago ngendaliin dua belas bocah grup tujuhbelas, masa dia gak bisa ngendaliin nafsunya ke lo."
Ah, hal itu jadi tanda tanya. Benar juga, apa Sastra sedang banyak pikiran ya hingga cowok itu tidak bisa mengendalikan diri.
"Udah-udah jangan dipikirin. Tindakan lo emang bener. Terlepas dia artis naungan lo, dia tetep pacar lo kan. Gak ada yang namanya paksaan dalam suatu hubungan," ujar Sarah lagi.
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.