15. Teka Teki Bunga Sakura

260 41 0
                                        

**

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**

"Sar, ada bunga sakura mekar ya?"

"Bunga Sakura apanya? Diluar aja suhunya udah lima derajat, udah musim gugur. Ada-ada aja lo nanyain bunga sakura," ujar Sarah yang disambung memuji menu di kantin siang ini.

Aku mengambil nampan makanan. Mengikuti langkah Sarah mencomot satu per satu lauk yang ada.

Kantin di kantor memang menyediakan makan gratis bagi para karyawan.

Sudah satu minggu aku kerja sebagai Ketua Manajemen SDM dan sudah tiga bulan aku kerja sebagai Manajer tujuhbelas, meski harus menyembunyikan identitas, dan ini pertama kalinya aku makan di kantin perusahaan.

"Tapi kok tadi gue liat di jaket Sastra ada bunga sakura loh Sar."

"Loh, lo udah ngobrol sama Sastra?" tanya Sarah penuh semangat, malah terdistraksi hal lain.

Aku mengangguk sekilas. Teringat kalimat jahat yang Sastra ucap kemarin. Aku lalu menceritakan semuanya pada Sarah.

"Pantesan riasan mata lo agak beda," komentar Sarah sembari mengamati wajahku.

"Gue gak pake riasan di area mata. Eh ... pake deh, bedak doang."

Sarah berdecak, mulai berceloteh panjang pendek perihal make up yang harus digunakan secara all out ketika seorang wanita sedang di luar rumah.

Aku mendengarnya acuh tak acuh. Mengangguk tanpa minat.

Sejak kembali menjadi diriku sendiri, aku malah malas menggunakan make up. Karena saat menjadi Kala, aku jarang memakai make up dan itu terasa lebih efisien.

Kebiasaan itu terbawa hingga sekarang.

Makanya, aku kerap diceramahi Sarah.

"Untungnya muka lo mendukung, jadi mau no make up, lo tetep cakep," akhir celotehan Sarah.

Siang ini, kantin tidak terlalu ramai. Beberapa meja terisi oleh satu dua orang.

Kira-kira tak sampai sepuluh orang termasuk aku dan Sarah yang makan siang di sini.

Seketika rombongan grup tujuhbelas datang. Mereka heboh sekali entah apa yang sedang mereka bicarakan.

Aku melirik ke arah Sastra. Ia tak memakai jaket, hanya t-shirt hitam dan ikat kepala warna merah.

Mereka mengantri mengambil makanan yang dihidang secara prasmanan.

"Hana, ntar pulang bareng gue ya," ajak Sarah.

Aku memutus perhatian dari Sastra. Lantas menatap Sarah penasaran.

"Gue belum tau mau pulang jam berapa ntar."

Sarah cemberut.

"Temenin gue ke beli make up," ujarnya lagi terdengar setengah memohon.

Aku melirik ke sekitar, merasakan beberapa pasang mata mengarah kepadaku dan Sarah.

Lost You Again! (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang