Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
Konser hari ini berlangsung lancar. Tidak ada masalah seperti kemarin. Aku bahkan bisa membeli cemilan yang dijual di luar area konser.
Sambil duduk menonton penampilan grup tujuhbelas di belakang panggung, aku mengunyah sate ayam goreng yang panjangnya selenganku bersama Fay.
Satu per satu anggota tujuhbelas datang untuk berganti pakaian. Dino berhenti di depanku lantas tanpa meminta izin ia menggigit daging ayam di ujung sate. Setelahnya ia berlalu sambil mengucapkan terimakasih. Kemudian Yuma datang dan melakukan hal yang sama. Begitu pula Wira. Terakhir, Sastra yang mendekat.
Aku mengulurkan sate ayam padanya. "Nih."
"Gue bukan mau ini," ujarnya. Lalu mendekat dan berujar lagi, "tapi ini." kemudian secepat kilat ia menempelkan bibirnya di bibirku sebelum menegakkan punggung dan mengerlingkan mata. Lantas, ia berlalu begitu saja.
Astaga! Apa yang barusan itu?
Berani sekali dia menciumku di sini. Ada Fay pula.
Yah meski area belakang panggung lengang dan minim pencahayaan, tetapi tetap saja yang Sastra lakukan barusan itu sungguh nekat.
Aku berusaha menenangkan diri sambil memakan sate ayam yang tersisa empat potong lagi.
Konser berlangsung lebih lama hari ini. Sebab hari ini adalah hari terakhir konser. Aku menepi agak ke sudut, masih di belakang panggung.
Kali ini, aku sendirian. Sarah entah kemana rimbanya.
Sambil menselonjorkan kaki aku memainkan ponsel.
Anggota grup tujuhbelas masih akan di London hingga dua hari ke depan. Setelah itu mereka akan pindah ke Miami, kemudian tiga negara lainnya di Eropa.
Setelahnya, tur Asia pun akan dilangsungkan. Untuk tur Asia, aku akan tetap stay di Korea.
Banyak pekerjaan yang menanti.
"Kala? Seru ya duduk di sini?" Wira datang, ia beringsut naik dan duduk di sebelahku.
Tempat aku duduk masih bagian belakang panggung. Ada celah lebar dan lumayan tinggi, kata panitia konser, aku aman duduk di sini.
"Capek ya?"
Aku mengulurkan tisu pada Wira. Dahinya penuh dengan keringat. Kendati wajahnya tampak bahagia.
"Gak juga, tapi seru," kekehan Wira terdengar.
Milan lalu datang, disusul Vernon dan Sastra.
Seolah sudah terbiasa, Wira menggeser duduknya dan membiarkan Sastra duduk di dekatku.
Aku tidak bisa menolak karena aku duduk di paling sudut.
Untungnya Sastra tidak melakukan tindakan nekat seperti tadi.
"Besok kita beneran boleh ke rumah lo?" tanya Vernon mengawali obrolan.
Aku mengangguk. Aku juga sudah mengkonfirmasi ke Fay dan Lingga, keduanya setuju-setuju saja.
"Boleh, kabarin aja besok gue tunggu di rumah. Deket kok dari sini."
**
Sejak pagi aku sudah repot di dapur. Membuat cookies dan puding susu.
Aku ingin menyambut anggota grup tujuhbelas yang datang berkunjung dengan kudapan manis.
Semalam, Dino mengirim pesan kalau ia sudah tidak sabar ke rumahku. Tentunya Dino pasti datang, tetapi ia tidak memberitahu siapa lagi yang akan datang pagi ini.
Aku mengantar nenek ke acara senam mingguan untuk lansia di taman kota. Nenek sudah menjadi anggota tetap acara itu.
"Nikmati waktu dengan teman-temanmu ya, aku senang akhirnya kamu bisa membawa teman ke rumah lagi." Itu pesan Nenek sebelum aku kembali pulang.
Ah, Nenek memang paling tahu perjalanan hidupku. Selain Sarah dan Sebby (ia masih masuk hitungan karena ia juga temanku semasa SMA).
Setibanya di rumah, rombongan grup tujuhbelas juga baru datang.
Pas sekali. Aku menyambut mereka dan membawa masuk ke dalam rumah.
Tidak semua member yang datang. Hanya ada Dino, Sastra, Han dan Yuma saja. Sarah ikut dengan mereka. Sarah lah yang menunjukkan jalan tadi.
"Masih sama ya, gue kangen nenek, mana nenek?" tanya Sarah.
"Lagi di taman, ada acara senam lansia. Gue baru aja nganter nenek tadi."
Aku menyiapkan puding susu dan mengajak mereka untuk duduk di meja makan.
Sastra asik memotret foto masa kecilku. Nenek memang memajang semua foto diriku sejak kecil. Semuanya nenek yang lakukan.
Aku sudah menebak kalau mereka pasti penasaran karena hanya potret nenek, aku dan Daddy saja yang ada di foto.
Sarah mencolek pinggangku. "Mau yang kayak gimana?"
Aku kontan tergelak. Hal itu malah membuat semua mata tertuju kepadaku.
"Sorry sorry." Aku mencoba menahan geli karena ucapan Sarah benar-benar membawa kenangan lama. Dulu, setelah kenal dengan Sarah, aku kerap berbohong perkara Mama, entah ia bekerja di luar negeri lah, punya suami baru lah, Sarah juga ikut dalam kebohongan itu.
"Biarin gue jujur Sar, dosa gue udah banyak keseringan bohong." Sarah terkekeh saja sebagai tanggapan.
"Jadi, nyokap gue gak ada. Gak ada dalam artian gue gak pernah sama sekali ketemu dia. Dari kecil. Nenek cerita, waktu gue lahir, dia pergi ninggalin gue. Kalau cerita menurut versi Daddy, nyokap gue itu pergi ninggalin Daddy setelah gue lahir karena pernikahan mereka gak pernah disetujui dari pihak keluarga nyokap."
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.