Lagi revisi ya!
Completed!
(Fiction about S.Coups)
Menjadi korban taruhan memang tidak enak. Aku terpaksa bekerja sebagai manajer grup tujuhbelas demi membuang lintah darat di perusahaan.
Namun, aku malah jatuh hati dengan Sastra yang dengan tulus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
**
"Sarah, kenapa lo datangnya cepet banget sih?" Aku protes.
Sarah menyipitkan mata. Sedetik kemudian tawanya membuncah.
"Mentang-mentang udah baikan ya, ini kerjaan lo numpuk, jangan mikirin pacaran aja."
Aku mendengus. Menerima kumpulan dokumen dari Sarah. Sudah saatnya aku kembali bekerja.
Pintu toilet lalu terbuka, Sastra keluar dari sana. Ia tersenyum menatapku seraya mendekat.
"Gue harus latihan koreo hari ini, ada rekaman di studio juga, maaf ya gak bisa nemenin lo lama-lama." Sastra terdengar menyesal.
Aku menggeleng pelan dan menarik ujung bibir membentuk senyum.
"Gak papa Kak, semangat ya buat hari ini. Makasih udah nemenin aku."
Di sudut ruangan, Sarah terduduk bersama beberapa dokumen di pangkuannya. Kendati wajahnya tampak serius, aku yakin ia pasti sedang menahan tawa.
"Sama-sama cantik. Nanti gue datang lagi ya, gue pergi dulu. Kak Sarah, gue pamit ya." Sastra membungkuk penuh hormat pada Sarah yang dibalas anggukan. Ia lalu mencuri kecup di pipiku lantas berlalu pergi.
Tepat ketika pintu tertutup tawa Sarah meledak.
Ah, dia memang suka iri melihat sepasang kekasih. Namanya juga jomblo, mesti dimaklumi.
Aku mengabaikan tawa Sarah yang berubah ke level tidak wajar. Saat nada suaranya terdengar sama dan panjang namun wajahnya terlihat datar.
Kalau seperti itu, Sarah tampak seperti psikopat.
Kemudian, aku beralih ke dokumen-dokumen yang Sarah bawa. Satu dari sekian banyak dokumen berkaitan dengan profil manajer baru.
Ada tiga orang, mereka sudah mulai bekerja lima hari yang lalu.
Itu artinya mereka sudah masuk kualifikasi Fay dan Lingga. Padahal harusnya aku ikut menginterview mereka, seminggu yang lalu.
Dokumen yang lain berisikan tentang iklan, investor dan perpanjangan kontrak.
Omong-omong soal investor, aku lupa dengan Sebby, temanku yang kaya raya itu. Dia akan aku daulat sebagai investor baru, jadi uang yang dimilikinya bisa berguna.
Harusnya ia sudah datang ....
"Sebby udah datang dua hari yang lalu, dia belum ketemu CEO karna lo yang bakal nemuin dia sama CEO, belum sadar. Anaknya bentar lagi dateng," Sarah memberitahu dengan mata fokus menatap layar laptop.
Sarah juga mengenal Sebby, ia satu kampus denganku, namun satu jurusan dengan Sarah.
Dulu, aku dan Sarah mulai berteman sejak SMP. Sarah harus pindah keluar kota sejak lulus dan kembali bertemu denganku di bangku kuliah.
Sementara Sebby adalah temanku semasa SMA. Sejak Sarah pergi, Sebby sudah aku anggap sebagai pengganti Sarah.
Hingga kami kuliah di kampus yang sama, aku, Sarah dan Sebby jadi berteman baik.
Seperti yang Sarah bilang barusan, lima menit kemudian Sebby datang.
Cowok itu menghambur memelukku. Begitu erat.
"Kangen, kangen banget, gue kaget nyampe di sini tau-tau lo lagi bobo di rumah sakit. Kasian banget gadis kecil ini."
Aku memukul punggungnya. Protes disebut sebagai gadis kecil.
"Gue bukan gadis kecil."
Sebby tergelak. Ia melepas pelukannya dan menepuk-nepuk puncak kepalaku.
"Lo tetep gadis kecil bagi gue, tinggi lo aja gak sampai sebahu gue," ujarnya sembari menyeringai.
Aku menghembuskan napas keras-keras. Cemberut. Yang malah semakin membuat Sebby senang mengejekku.
"Bisa gak kalian tidak memperlihatkan pemandangan menjijikan di pagi hari ini, udah dua kali dan dua-duanya ada di hadapan gue, lama-lama gue eneg tau," omel Sarah.
"Loh, lo di situ?" Sebby pura-pura kaget.
Seperti yang aku duga, ada benda yang tiba-tiba terbang dan mendarat dengan mulus di dahi Sebby.
Ia mengaduh, sementara Sarah tersenyum penuh kemenangan.
"Hanaaaaa, sakit," Sebby merengek seperti anak kecil padaku.
Wajahnya dibuat semelas mungkin dengan bibir cemberut.
Ia mencondongkan kepalanya ke arahku, menyibak poni dan memperlihatkan jejak merah hasil lemparan gulungan kertas dari Sarah.
Aku tergelak, lantas mengusap dahinya.
"Kalaaaaa, eh ...."
Tiba-tiba pintu ruang rawatku terbuka.
Di sana ada Dino, Vernon dan Wanza.
Ketiganya terdiam menatapku dan Sebby bergantian.
Ada yang salah ya?
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.