31. Kekacauan di Dapur

263 26 0
                                        

**

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

**

Selarik cahaya dari celah gorden bagaikan benang halus yang menempel di dinding adalah hal yang pertama aku lihat setelah membuka mata.

Aku meraba nakas dan tidak menemukan ponselku di sana. Aku lalu berguling ke sisi kasur dan meraih jam kotak digital. Sekarang pukul enam tepat.

Aku meregangkan badan seraya duduk di tepi kasur. Berusaha mengumpulkan kesadaran dan ingatan kejadian semalam.

Setengah sadar aku merasa melayang dan dibaringkan di atas kasur. Rengkuhan hangat adalah hal terakhir yang bisa aku ingat.

Sekarang, di mana sosok itu?

Suara berisik terdengar dari luar. Aku bergegas bangkit, membuka pintu dan kaget melihat api yang berasal dari dapur.

"Maaf, lo kaget banget pasti," sahut Sastra sesaat ia menyajikan makanan, sepiring steak di hadapanku.

Tak hanya steak saja, ada spaghetti dan juga kentang goreng.

Aku sudah sadar sepenuhnya setelah membasuh muka. Sastra tampak rapi, agaknya cowok itu juga sudah mandi.

"Kakak bangun jam berapa siapin semua ini?"

"Jam setengah lima kalo gak salah."

"Pagi banget, kakak gak tidur?"

Pipiku tiba-tiba panas setelah mengajukan tanya, teringat bahwa rengkuhan hangat yang aku rasakan semalam benar-benar nyata.

"Tidur."

Aku memalingkan wajah, tak sanggup menatapnya.

"Jam berapa?"

"Hmm ... gak tau tepatnya jam berapa, yang gue inget terakhir kali lo ngigau."

"Ha?"

Sastra menyeringai.

"Lo ngigau Kala," ulangnya.

Ah, hancur sudah imejku di depan Sastra.

Aku cemberut. Menatap Sastra takut-takut.

"Aku ngomong yang aneh-aneh ya?"

Senyum Sastra terbit dengan kedua lesung pipitnya. Sungguh, untuk pertama kalinya senyum itu terlihat menyebalkan.

"Hmm, ngomong apa yaaaaa?" ujarnya dengan nada mengejek.

Aku mencebik. Memutuskan untuk tidak bertanya lagi dan mulai melahap makanan.

Untuk ukuran sarapan, steak dan spaghetti merupakan sarapan yang berat di pagi hari. Tapi, aku fine-fine saja karena Sastra yang sudah memasaknya untukku.

Denting sendok dan garpu menjadi backsound keheningan kami.

Sastra tampak gelisah. Seperti harus pergi ke toilet.

"Sebenarnya ...." Sastra buka suara.

"Hm?"

"Sebenarnya bukan gue yang masak steak sama spaghettinya. Gue cuma ngegoreng kentang doang."

Aku terpekur sesaat. Lantas melirik dapur di belakang Sastra dan kekacauan yang sudah cowok itu buat hanya untuk menggoreng kentang.

Seolah mengerti kesalahannya, dengan wajah memelas Sastra berjanji akan membereskan kekacauannya itu dan mencuci piring.

"Lain kali, gak usah ke dapur lagi Kak."

Aku menatap jerih. Takut-takut apartemenku hangus nantinya.

Aku sudah kepalang nyaman tinggal di sini. Aku bukan tipe orang yang suka berpindah tempat tinggal.

"Maaf," ucap Sastra penuh sesal.

Aku menghela napas. Lantas, membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa apel lalu memotongnya.

"Hari ini Kakak ada schedule latihan ya?"

Aku teringat papan schedule di ruang latihan grup tujuhbelas. Untuk hari ini hingga tiga hari ke depan tujuhbelas akan melakukan rekaman choreography.

"Mau ke kantor bareng gak?"

Hening. Tak ada jawaban.

Aku menoleh kebelakang, ke arah wastafel yang lengang. Semua piring dan alat dapur bekas kekacauan Sastra sudah dicuci bersih.

Tapi sosoknya tak ada di sana.

Kemudian aku menoleh ke sisi kiri dan kaget bukan main mendapati bibir Sastra yang menempel di pipiku.

Aku menyikutnya dan gelak tawa membuncah keluar dari mulut Sastra.

"Apaan sih pagi-pagi crige banget," ejekku pura-pura sebal demi menutupi rasa salting ini.

Sastra mendekat lagi. Kali ini ia merebahkan kepalanya di bahuku sembari memeluk pinggangku.

"Kak, aku lagi megang pisau loh ini."

"Gue kira lo bakal trauma liat pisau."

"Setelah pernah ditusuk, aku jadi pengen main-main sama pisau."

Tiba-tiba Sastra melepaskan tangannya dari pinggangku, tubuhnya beringsut menjauh.

Aku menoleh sambil menyeringai, sedetik kemudian tergelak karna ekspresi Sastra membuatku tidak kuat berlama-lama untuk pura-pura.

Cowok itu berdecak. Memajukan bibir, cemberut.

**

**

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Date : 30 Juni 2023

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Date : 30 Juni 2023

Lost You Again! (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang