capture 16

3.9K 178 9
                                        

⚠️Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻Happy Reading


Setelah serangkaian pesta pernikahan yang terasa tak berujung, akhirnya Lilyana dan Alasdair bisa beristirahat.
Kereta mereka berhenti di Istana Bintang, kediaman khusus pangeran utama yang terletak sekitar tiga puluh menit dari istana pusat.

Udara malam terasa berat ketika mereka tiba. Aroma mawar putih dari taman istana bercampur dengan kabut yang turun perlahan, menimbulkan suasana seolah seluruh dunia sedang menahan napas.

Alasdair turun lebih dulu. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi.
“Dengar baik-baik,” ucapnya, suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Kita menikah hanya untuk satu tujuan — memancing keluar orang yang telah membunuh Daysi.”

Sebelum Lilyana sempat menjawab, ia sudah berbalik dan melangkah menjauh, meninggalkan sang pengantin wanita berdiri sendirian di gerbang besar Istana Bintang.

Seorang pelayan segera menghampiri dan menunduk hormat.
“Mari, Tuan Putri. Izinkan saya mengantar Anda.”

Lilyana hanya diam, langkahnya ringan tapi hatinya berat.

Begitu sampai di depan kamar, pelayan itu menjelaskan dengan sopan, “Ini adalah kamar yang sebelumnya disiapkan untuk Putri Daysi. Maaf, kami belum sempat mengubah apapun. Semuanya masih sesuai selera beliau. Jika Tuan Putri ingin kami menggantinya, kami akan segera melakukannya.”

“Terima kasih. Kau boleh pergi,” ucap Lilyana lembut. Ia menutup pintu sebelum pelayan itu sempat menunduk lagi.

Begitu ia berbalik, udara di kamar itu terasa menyesakkan.
Dinding-dindingnya berwarna merah muda lembut, tirai bergelombang halus, bunga segar di vas kristal, bahkan seprai dan sarung bantal berhiaskan renda.
Semuanya—setiap inci ruangan—berteriak tentang Daysi.

Lilyana menatap sekeliling, merasa seolah dirinya bukan pengantin, melainkan penyusup di kehidupan orang lain.

---

Tok… tok… tok…

“Maaf, Tuan Putri,” suara lembut terdengar dari balik pintu. “Kami ditugaskan Pangeran untuk membantu Anda membersihkan diri.”

“Masuklah,” jawab Lilyana datar. Ia tidak punya tenaga untuk membantah. Yang ia butuhkan hanya tubuh yang segar dan kepala yang tenang.

Beberapa saat kemudian, setelah para pelayan pergi, ia berbaring di ranjang besar itu. Tapi tidur tak datang. Tubuhnya lelah, namun pikirannya berputar tak henti.

Hingga—

Drrrtt...

Suara engsel pintu berderit pelan. Lilyana segera memejamkan mata, berpura-pura tidur, jantungnya berdegup cepat. Ia tahu, seseorang baru saja masuk ke kamarnya.

“Bangkitlah. Aku tahu kau tidak tidur.”

Suara itu… Alasdair.

Lilyana membuka matanya perlahan dan duduk tegak. Ia menatap pria itu yang kini berdiri di ujung ranjang, wajahnya setengah tertutup bayangan cahaya lilin.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang