Tanggung jawab pertama Kenzie

550 91 22
                                        

Kenzie berdiri di depan ruang sekretariat himpunan sambil mengecek pesan di ponselnya sekali lagi. Jam di layar menunjukkan hampir pukul lima sore. Ia menghela napas pelan sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian dan mengetuk pintu.

"Masuk"sahut suara dari dalam. Kenzie membuka sepatu dan mendorong pintu sambil melongokkan kepala.

"Permisi kak"ujarnya. Di dalam sekretariat ada tiga orang senior yang tampaknya sedang sibuk. Kenzie jadi tak enak karena sudah mengganggu.

"Oh Kenzie, ya?"salah satu dari mereka menoleh. Namanya kak Stefan.

"Iya, kak"jawab Kenzie canggung sambil masuk ke dalam.

"Ayo sini duduk"senior yang sama kembali bersuara sementara dua senior perempuan masih sibuk dengan laptop mereka masing-masing. Tapi begitu Kenzie duduk, keduanya mendongak bersamaan menunggu Kenzie berbicara.

"Jadi gimana? Udah ada hasil rapat angkatan?"tanya salah satu senior perempuan dari divisi event. Kak Cahya namanya.

"Kemarin kami rapat cukup lama. Ini beberapa poin yang udah disepakati sama teman-teman"
Kenzie mengangguk. Ia membuka map berisi catatan hasil rapat angkatannya.

"Pertama soal konsep pamerannya. Angkatan kami sepakat temanya tetap tentang eksplorasi identitas visual maba. Jadi karya yang ditampilkan bukan cuma tugas kelas aja, tapi juga dari proyek personal"

"Oke, bagus bagus"Salah satu senior perempuan berkacamata mengangguk sambil mengetik sesuatu di laptop. Kenzie tidak tau namanya siapa. Belum pernah melihat senior ini sebelumnya.

"Kalau untuk bentuk display, tiap kelas rencananya punya satu booth. Booth itu nanti diisi karya dari masing-masing kelompok kak"jelas Kenzie lagi.

"Kelompoknya ada berapa orang?"
tanya kak Cahya.

"Rata-rata empat sampai lima orang per kelompok, kak"

"Hm... okelah. Berarti pembagian kelompoknya sudah jelas"

"Terus teman-teman juga ngusulin supaya pamerannya gak cuma display statis aja. Ada beberapa yang pengen bikin instalasi interaktif juga kak"tambah Kenzie. Kak Cahya langsung mengangkat alis.

"Interaktif?"

"Iya kak. Tapi itu masih konsep awal aja. Kami juga sadar kalau interaktif butuh tambahan alat dan penjaga booth"

"Bagus sih idenya. Tapi kalian harus realistis juga. SDM kalian cukup gak buat jaga booth seharian?"tanya kak Stefan. Kenzie menghela napas kecil.

"Itu juga yang jadi concern kita di rapat kemarin. Makanya kami pengen diskusi dulu sama kakak-kakak himpunan"balas Kenzie.

"Menurutku konsepnya udah oke. Tapi jangan terlalu ambisius dulu. Ini kan pameran pertama kalian"
sahut senior berkacamata tadi.

"Iya kak"Kenzie mengangguk. Senior perempuan itu kemudian menunjuk kertas di depan Kenzie.

"Terus soal tempat, kalian sudah ada gambaran belum?"

"Kalau dari teman-teman sih pengennya tetap di hall fakultas, kak. Karena lebih gampang diakses"

"Hm... Boleh tapi kalau soal itu harus kita koordinasikan sama pihak fakultas dulu"balas Kak Stefan.

"Iya, siap kak"Kenzie mengangguk lagi.

"Angkatanmu kelihatannya cukup serius ya ngerjain ini"Kenzie tersenyum kecil mendengar ucapan kak Cahya.

"Lumayan kak. Soalnya ini pameran pertama kami juga"

"Bagus. Berarti kamu berhasil mimpin anak-anak angkatanmu"
Kata Kak Stefan memuji lalu menepuk pundak Kenzie pelan.

"Sebagian besar sih mereka yang kerja, kak. Aku cuma nyampein aja"ujar Kenzie menggaruk tengkuknya tampak canggung. Tidak biasa mendengar pujian seperti ini.

SON|| SEQUEL HUSBANDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang