"Zie, kita pulangnya bareng ya"
"Sorry Ndi. Aku ada urusan harus buru-buru pulang"
Usai membereskan perlengkapan kegiatan, Kenzie langsung berjalan cepat menuju area parkir. Bahkan ketika Stefan sempat memanggil namanya, ia hanya menoleh sekilas sambil mengangkat tangan sebagai tanda permisi sebelum kembali mempercepat langkah.
"Balik ke apart dulu... atau langsung jalan?"Kenzie berhenti di samping motornya. Pandangannya beralih ke jam tangan di pergelangan kirinya.
Pukul 22.50.
Ia mengembuskan napas panjang. Kalau kembali ke apartemen, waktunya akan semakin terbuang. Tapi kalau langsung berangkat naik motor, perjalanan menuju rumahnya akan memakan waktu sekitar empat jam.
Kenzie mengeluarkan ponsel, berharap masih ada kereta yang beroperasi menuju Jakarta. Jemarinya bergerak cepat membuka aplikasi, tetapi layar hanya menampilkan jadwal keberangkatan untuk esok pagi.
"Hah... ya udah deh. Naik motor aja."
Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku jaket, mengenakan helm, lalu menyalakan mesin motornya. Tak ada lagi barang yang perlu diambil di apartemen. Dompet, ponsel, dan beberapa barang penting sudah berada di dalam tas ranselnya.
Mesin motor meraung pelan sebelum akhirnya melaju meninggalkan parkiran fakultas. Kenzie memutuskan langsung menuju Jakarta, berharap bisa tiba sebelum fajar menyingsing.
Kenzie mengendarai motornya dengan kecepatan normal. Jalanan yang semula masih dipenuhi kendaraan sekarang semakin lengang, hanya sesekali truk-truk besar dan bus antarkota melintas dari arah berlawanan. Angin malam menerpa wajahnya yang tertutup helm, membawa hawa dingin yang perlahan mulai menusuk hingga ke tulang.
Biru: mamanya Nana meninggal
Kenzie mengembuskan napas panjang di balik helm. Ia masih sulit mencerna kabar itu. Selama beberapa minggu terakhir ia terlalu sibuk mengurus pameran hingga tak benar-benar menyadari Nana sudah lama tak terlihat di kampus.
Hal terakhir yang masih jelas diingatnya adalah pertemuan singkat mereka di lobi apartemen malam itu. Nana berbicara di telepon sambil menangis, Kenzie sempat melihatnya. Tapi ia hanya mengira Nana sedang memiliki masalah pribadi dan hanya melihat dari jauh Nana yang tengah menangis. Sekarang, setelah mengetahui ibu Nana telah meninggal, kejadian malam itu terus berputar di kepalanya.
Bagaimana kalau saat itu Nana sebenarnya sedang meminta bantuan?
Bagaimana kalau telepon itu berkaitan dengan kondisi ibunya?
Kenzie tau, mungkin kehadirannya tidak akan mengubah apa pun. Tapi pikiran itu tetap membuat dadanya terasa sesak.
Motor terus melaju membelah jalan raya. Di layar ponsel yang terpasang pada holder, estimasi waktu menuju Jakarta masih menunjukkan beberapa jam lagi.
Kenzie menarik napas panjang. Perjalanan selama empat jam bukanlah hal yang mudah, apalagi ditempuh seorang diri di tengah malam.
Sesekali Kenzie menggerakkan bahunya yang mulai pegal, lalu mengatur kembali posisi duduknya agar tetap nyaman. Matanya tetap fokus menatap jalan di depan. Pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia bahkan belum sempat memberi kabar kepada Mama Caca. Entah bagaimana reaksi wanita itu saat mendapati dirinya tiba-tiba muncul di depan rumah larut malam tanpa pemberitahuan.
"Semoga Mama udah tidur..."
gumamnya lirih.
Kalimat itu justru membuat dadanya semakin sesak. Tidak semua orang masih memiliki kesempatan untuk pulang dan melihat ibunya tertidur dengan tenang.
Kenzie menarik napas panjang. Jemarinya menggenggam setang motor sedikit lebih erat sebelum kembali memutar gas. Motornya melaju membelah gelapnya jalan raya.
