3 | Kelabu dan Biru

10.1K 400 2
                                        

T I G A
❄❄❄

Beberapa helai rambut yang tidak ikut terikat bebas menyapa angin dingin hari ini. Gadis manis dengan rambut yang terkuncir, menyelipkan beberapa rambutnya ke sela telinga. Memandang lurus ke lapangan dari lantai dua, depan kelasnya.

Sejak lima menit lalu murid berlalu lalang, berlari dan tertawa. Sudah jam istirahat, tapi Tassia memilih untuk menikmati angin jam sepuluh dengan warna hati yang kelabu dan pikiran yang sedang mudik entah kemana.

Beberapa murid lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya dengan suasana tenang, seperti yang Tassia lakukan saat ini. Menenangkan pikirannya dari apapun pemikiran buruk yang datang. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Berbagai pertanyaan menyerbu Tassia dari berbagai sudut kepala. Sepertinya kepala Tassia sebentar lagi akan migren.

Ah.. kerasa banget ya lo jauhin gue. Kenapa sih ri? Kenapa?

Tassia menarik napas panjang, menenangkan pemikiran dan juga hatinya. Berbalik dan berganti melirik kelas. Hitam pekat Tassia langsung terfokus pada lelaki berambut spike yang sibuk dengan gadgetnya. Sapu tangan yang di lipat dan diikat di bagian kepala membuat Fachri sedikit keren. Sial.

Bego, ngapain juga gue ngeliatin dia.

Gadis manis itu berusaha kuat untuk mefokuskan pandangannya ke arah lain. Tapi sia sia, terus saja matanya menatap tidak berkedip sampai negara api menyerang.

Damn! Fachri menoleh ke arah Tassia yang berada di luar kelas. Tassia yakin mereka saling menatap. Tassia diam seribu kata, tapi Fachri malah meliriknya sinis dan kembali lagi sibuk dengan gadgetnya. Tassia berharap kejadian dua detik lalu dimusnahkan dan pindahkan Tassia ke kutub utara agar tidak merasakan kejadian akward tadi.

Lelaki bertubuh sedikit gemuk lewat di hadapan Tassia dengan membawa sebungkus cimol hasil dia beli di kantin. Darren. Apa harus Tassia menayakan sifat Fachri ke teman sebangkunya Fachri itu? Harus? Kalau Tassia tanya, dan Darren nanya balik, Tassia harus jawab apa?

Tanpa aba-aba, Tassia menarik tangan Darren membawa lelaki gemuk itu ke tempat yang Tassia yakin tidak dilihat Fachri. Darren menatapnya seperti melontarkan pertanyaan. "Kenapa Tassia?"

Tanya , enggak, tanya, enggak. Kan bego lagi.

"Yaelah mau nanya aja pake mikir?" Ucap Darren. Entah kebetulan atau.. Darren bisa membaca pikiran? Ucapan Darren tadi benar, Tassia berpikir untuk bertanya. "Tanya aja kali."

"A.... anu." Tassia melirik kesana kemari berharap mendapat hidayah lebih hari ini. Menarik napasnya dan menghembuskan dengan pelan pelan. "Temen lo lagi kenapa?"

"Yaampun Tassia, lo narik gue sampe sini cuman mau nanya Fachri kenapa?" Kata Darren dan dibalas dengan anggukan malu Tassia. "Fachri tuh lagi pms, diakan cewe."

Tassia membalasnya dengan tatapan tajam dan serius disusul dengan satu pukulan yang mendarat di lengan gemuk Darren. "Gue nanya serius, ren."

"Lo suka sama dia ya?" Celetuk Darren sambil menyengir kuda.

Siapapun yang bisa mindahin gue. Pindahin sekarang.

"Kalau ditanya tuh jawab, bukan malah diem." Cerocos Darren. "Benerkan apa yang gue bilang? Udah jujur aja, nanti gue bakal kasih tau alesan Fachri begitu."

Coldest Senior✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang