11 | Tassia Devicaly (3)

6K 275 0
                                        

S E B E L A S
❄❄❄

Kalian pasti tahu, bagaimana rasa sakit di fisik dan menahan malu ketika jatuh ke dalam lubang, sedangkan lagi berada di suatu acara ramai. Malu banget pasti.

Sekarang aku masuk kedalama hawa dingin, suhu yang sepertinya sudah mencapai di bawah rata rata kedinginan. Tepat seperti sedang mendaki gunung Everest. Rasanya kalau kaki ini tidak memar, aku lebih memilih lari masuk ke dalam keramaian disana dan Nico tidak berada di sampingku.

Antara senang dan takut. Senang karena Nico bisa menemaniku di dalam ruang tamu seperti ini, Takutnya kalau tiba tiba Maya masuk kedalam, dan hanya melihat aku dan Nico. Sialnya, pasti aku akan dapat luapan marah dari Maya.

Keheningan menyelimuti aku dan Nico. Dia berada di sofa lain dan aku hanya meringis ke sakitan berharap Hani segera datang dan langsung mengobati memar ini. Sesekali mataku menatapnya namun Nico hanya diam menatap gelas bening berukuran kecil yang berada di atas meja.

Saat aku menatapnya lekat, dia membalas tatapanku dan membuat pipi ini seperti blushing. Aku langsung memalingkan wajahku ke arah kaki, berharap itu bukan suatu awal musibah. Kepergok ngeliatin dia. Ah, apa apaan aku ini. Dia milik orang lain jangan sampai aku menanam perasaan yang terlalu dalam.

"Mau saya obatin?"

Oh my god, Nico menatapku dengan iris matanya yang hitam pekat sambil mengucapkan tiga kalimat yang bisa membuat jantungku hampir copot, dan untungnya aku tidak pengidap penyakit jantung. Jadi, tidak begitu khawatir.

"Ada ka Maya di luar, gue takut kalau di omelin." Jujur, aku takut dengan Maya, apa lagi statusku masih kelas sepuluh yang masih hangat hangatnya masuk sekolah.

"Dia di luar lagi manggung,"

"Intinya gue takut, ka." Usahaku untuk tidak berkontak mata sia sia. Dia yang menatapku duluan dengan mata cokelat terang yang dingin.

Nico berjalan mendekat ke sofa yang aku singgahi, jongkok dan lagi lagi matanya itu menatap kakiku yang memar. "Sebentar,"

Lelaki dingin dengan aroma acqua itu jalan menuju dapur yang tidak jauh dari ruang tamu tempat aku menyelonjorkan kaki yang sepertinya hampir remuk. Tidak sopan sih, main masuk masuk begitu saja ke dapur orang. Tapikan tadi Kemal sudah menyuruh Nico untuk mengHandle memar pada kaki aku. Jadi mungkin memang sudah di perbolehkan.

Nico kembali dengan membawa mangkuk kecil yang berisi batu es dan kain kecil berbentuk persegi lalu duduk kembali di hadapanku, ya bukan jongkok sekarang seperti aku di anggap spesial olehnya.

Stop, Tassia. Dia pacar orang.

Tidak di sangka saat aku diam sedikit bengong ada suhu dingin di sekitar kaki kananku. Nico sudah menempelkan batu es yang sudah di bungkus dengan kain berwarna kream yang tadi dia bawa bersama mangkuk untuk mewadahkan batu es.

"Aw, shh." Aku meringis kesakitan ketika memarku sedikit di tekan.

"Kenapa bisa jatuh?"

Aku mengambil nafas, dan membuangnya pelan. "Tadi gue sempet jalan pas habis markir mobilnya Hani, dan waktu gue pengen ke arah pintu masuk gak taunya itu jalanan kayak jembatan yang harus ngelewatin selokan kecil. Kirain gue gak ada selokan, ya gue main jalan aja dengan biasa. Eh gak taunya kaki kanan gue nyeblos ke selokan kecil sampai badan gue ke banting ke kanan dan yang lebih parahnya lagi gue di ketawain."

Nico hanya tertawa kecil selesai mendengarkan aku bercerita seperti mendengarkan lolucon aneh. Itu reaksinya tidak ada apa apa lagi dan dia kembali lagi mengompres memarku. Aku baru lihat kulkas tertawa.

Coldest Senior✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang