"Iya kenapa? Tassia Devicaly?" Ah, suara Nico langsung menyejukan pagi hari Tassia. Pipi Tassia berubah warna menjadi merah seperti tomat matang. Ini memalukan, bahkan ini memalukan karena dia berada di kawasan senior. Tassia bersemu.
DUA PULUH ENAM
❄❄❄
Kafe klasik di pinggir jalan protokol. Lebih tepatnya di kota Erlangen, Jerman. Warna coklat keemasan mendominasi pengelihatan disini. Kopi susu racikan barista terkenal terlihat lebih menggoda ketika aroma kopi memasuki hidung Nico. Duduk bersama laptop dan secangkir kopi, baru kali ini Nico merasa betah berlama lama di dalam kafe yang terbilang cukup ramai. Ah ya, kafe ramai tetapi hati Nico terasa sunyi, hampa dan kosong.
Sudah sebulan Nico berada di negeri orang. Melaksanakan dua tugasnya disini. Bekerja dan belajar. Waktu luang Nico digunakan hanya untuk menyantap kopi dan berdiam di kafe kecil ini sampai fajar.
"Hai?" Sapa perempuan yang baru datang dan langsung duduk di kursi depan Nico. "What are you doing in here?"
"Bisakah kamu berbicara bahasa Indonesia saja?" Ucap Nico, malas. Tanpa melihat wajah Lisa yang berada di depannya. Tangannya terus mengaduk kopi.
"Tentu," Lisa mencoba untuk mencari topik lain dari pembicaraan ini. "Hmm, kamu terlihat lebih sehat dari kemarin."
Nico menatap sinis perempuan berambut pirang di depannya. Dan kembali lagi menyibukan diri mengaduk kopi dengan gerakan pelan. Melisa Rossky, sekretaris cantik perusahaan milik papanya Nico yang sekarang menjadi sekretaris Nico. "Apa kamu di bayar untuk berbicara disini dengan saya?"
Lisa terdiam dan kembali melanjutkan pembicaraan "Ah ya, besok jadwalmu kesekolah,--"
"Ya, saya sudah tahu itu." Potong Nico. Nico memberi jeda, "pergilah mencari kesibukan lain. Hari ini bukan hari kerjamu,"
Lisa berdiri dari kursinya, "ada satu hal yang aku ingin katakan,"
"Katakan saja,"
Lisa menarik nafasnya dengan pelan dan kembali menghembuskannya dengan perlahan. Rasanya jantung Lisa sudah berdekup lebih kencang dari biasanya dia berbicara dengan presiden perusahaan sekarang. "Aku suka padamu, Nico."
"Aku tidak, pergilah." Ucap Nico, santai.
Nico langsung mencari kesibukan dengan mengetik suatu pekerjaan. Tanpa merasaka bagaimana menjadi Lisa ketika kata per kata yang keluar dari bibir merah segar Nico menusuk tepat di hati Lisa. Ingat, ini bukan yang pertama kali Nico berbuat seperti ini. Di sekolahnya yang lama, dia dianggap sebagai monster es yang selalu menyakiti hati perempuan yang suka dengannya dengan sikapnya yang dingin dan perkataannya yang bikin sakit hati. Begitulah Nico.
"Baiklah aku pergi mencari kesibukan lain," Lisa menjauh seraya menyeka kedua matanya yang hampir menjatuhkan tetasan air mata. Tetapi dilain orang, Nico justru merasa tidak bersalah dengan apa kejadian tadi. Dia merasa dirinyalah tidak melakukan apapun, hanya mengikuti pikirannya. Hatinya beku sehingga ia tidak bisa mengikuti kata hatinya.
Nico menghubungi temannya di Indonesia menggunakan skype. Ya, waktu itu sebulan yang lalu. Nico, sempat terkena omelan dari Alfi. Sampai sampai Alfi mengamuk. Karena dirinya sama sekali tidak memberitahu keberangkatan menuju Jerman dan kepindahannya. Alfi menghubungi nomor indonesia Nico tetapi itu percuma saja. Nomor itu tidak berlaku di jerman. Dan ide Alfi benar, Alfi menghubungi Nico melalui akun skypenya dan sampai sekarang dua sahabat itu tidak bisa terpisahkan. Walaupun sudah beda negara sekalipun.
"Nico monyet, lo tau lo skype sama gue jam barapa?" Omel Alfi menyambut Nico di sebrang monitor. "Masih pagi monyet! Gue bahkan belum sempet nge-cek ke kelasnya Tassia. Lo mau Tassia di ambil Fachri?"
"Apaan sih lo lebay!" Balas Nico dengan cengiran khasnya yang jarang sekali Nico gunakan.
Yup, Nico menyuruh Alfi untuk memata-matai Tassia dan siapa saja yang mendekati Tassia selama Nico di Jerman. Kalian pasti bingungkan kenapa Nico seperti ini, se alay ini sampai menyuruh Alfi untuk selalu melapor setiap hari tentang Tassia kepada Nico walaupun Tassia memang bukan siapa siapanya Nico. Itu semua karena Nico mulai di selimuti rindu dengan kehadiran Tassia yang selalu membuat Nico risih.
"Gue masih ngantuk," Alfi menguap dan terlihat jelas dari layar laptop Nico. "Eh eh, tuh lewat depan kelas. Sebentar,"
Alfi menghilang dari layar laptop. Tubuhnya yang agak jangkung berlari kencang menuju pintu kelas dan hampir terbentur meja. Sedetik, dua detik, semenit Alfi juga tidak balik dan nongol di depan layar laptop. Kelihatannya ada sedikit kendala di kelas.
"Hello, fi? Lo masih hidup kan?" Tidak ada jawaban sama sekali dari sebrang sana.
"Baaaaaaa!" Alfi mengejutkan Nico. Dan Nico hanya terlihat biasa saja tidak ada yang berubah dari wajah Nico yang datar. "Si monyet nggak kaget. Liat nih,"
Alfi menarik tas berwarna abu abu kuning ke depan layar laptopnya. Si pemilik tas itu belum memperlihatkan wajahnya dengan betul betul dan masih samar samar. Nico disini masih kebingungan apa yang di lakukan Alfi di sana? Terdengar suara perempuan berteriak, siapa siswi itu?
"Tassia, sini! Liat nih siapa?"Alfi masih terus menarik tas milik Tassia.
"Ngapain sih lo bawa gue kesini? Inikan kawasan kelas sebelas. Lo mau mempermalukan gue?" Bantah Tassia dan sedikit membentak Alfi. Tassia belum tahu siapa yang ada di layar laptop sana. Perkelahian singkat itu membuat Nico terkekeh. Baru kali ini Nico tertawa seikhlas ini.
"Loh, ka Nico?" Mata Tassia membulat. Kelihatannya Tassia baru menyadari Nico ada di layar laptop Alfi setelah Alfi menarik paksa Tassia untuk melihat ke arah layar laptop.
"Iya kenapa? Tassia Devicaly?" Ah, suara Nico langsung menyejukan pagi hari Tassia. Pipi Tassia berubah warna menjadi merah seperti tomat matang. Ini memalukan, bahkan ini memalukan karena dia berada di kawasan senior. Tassia bersemu.
Tassia langsung menjauh dari laptop dan menuju pintu kelas untuk keluar. Seraya teriak gemas tidak peduli sekitarnya kelas sebelas "Tambah ganteng. Ya ampun."
"Tuh liat si Tassia, baru ketemu lewat skype aja udah begitu. Apa lagi ketemu langsung," ucap Alfi nyerocos menggantikan Tassia yang sudah menghilang dari kelas sebelas. "Lo kapan balik bro?"
Nico hanya terkekeh menjawab pertanyaan itu. "Udah ya, gue harus istirahat. Jangan lupa tugas lo,"
Nico langsung mematikan sambungan skype nya dan melanjutkan pekerjaannya di laptop sesekali senyum sendiri. Ya mungkin sebagian orang menganggap Nico sebagai orang gila yang senyum sendiri kalau memngingat sebagian kecil apa yang tadi ia lewatkan. Tapi, ini menyenangkan mengisi sedikit kehampaan Nico. Oke, Nico bahagia hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Teen Fiction[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
