TIGA PULUH DUA
❄❄❄
Pagi ini hujan mengguyur deras. Untungnya gadis dengan rambut di kuncir kuda sebahu itu sudah sampai di koridor sebelum rintikan air jatuh dari langit. Tassia mengelap wajahnya dengan handuk putih yang sepertinya menaruh banyak kenangan. Handuk yang di beri dari lelaki yang mempunyai kedinginan maksimal. Sampai saat ini Tassia tidak bisa melelehkan kastil esnya.
Kenapa pagi pagi gue langsung mikirin ka Nico sih.
Langkah kaki jenjangnya santai sambil melipat jaket yang biasa dia gunakan pagi hari dan dimasukan ke dalam tas punggungnya.
Langkah Tassia berhenti, pupil matanya membulat semprna. Sosok laki laki dengan kacamata yang berjengger di hidungnya, lelaki itu tidak asing. Wajahnya akhir akhir ini terlihat di dekat dekat Tassia. Dan... Tassia mulai curiga.
Tassia mencoba untuk menghiraukan lelaki berkacamata itu di ujung koridor sana dekat tangga. Menarik nafas dan mencoba tidak melakukan sesuatu tapi pikirannya langsung mengingat kata kata Alfi tempo hari.
Dia ngapain di sana?
Gadis berambut dengan kuncir sebahu itu memutar arah, berbalik dan tubuhnya terbentur sesuatu. Tubuh tinggi Fachri membuat Tassia berhenti melangkah. Tangan Tassia terus mengusap keningnya yang terbentur dagu lelaki berambut spike itu. Tassia meringis kesakitan, keningnya berdenyut hampir merasakan pusing tapi Tassia tahan karena ini bukan saatnya untuk pingsan atau sejenisnya.
"Eh, kenapa lo?" Fachri dengan entengnya menoyor kening Tassia yang masih berdenyut sampai Tassia meringis nyeri.
Aw, Tassia melotot marah. Sekarang bukan saatnya berantem dengan jelmaan setan di depannya ini. Karena yang di belakang Tassia tadi lebih menakutkan dirinya dari pada Fachri. "Bukan urusan lo!" Bentak Tassia menyingkirkan Fachri dengan tangannya kasar, lalu langsung berlari menuju tangga yang satunya. Walau Tassia tahu tangga sebelah timur lebih jauh dari kelasnya.
Peduli setan! Yang penting gue nggak ketemu cowo itu.
Fachri masih bingung, kenapa Tassia bersikap seperti itu. Padahal masih pagi pagi seperti ini, matahari juga tidak muncul sepenuhnya sampai hujan menggantikan. Kenapa sih? Fachri meluruskan pandangannya lagi berjalan menuju tangga barat. Langkah kaki proposionalnya santai, lantunan musik di aerphone-nya membuat Fachri berkomat kamit sesekali mengangguk angguk. Tapi... tubuh Fachri seolah ada yang menarik menjauhi tangga yang menjadi tujuannya.
Kantin, bukan ini bukan arah kantin. Kalaupun Fachri di bawa ke kantin, Pasti itu yang menarik adalah Alfi atau teman temannya. Tapi ini? Belakang gedung sekolah yang terlihat sepi. Kerah belakang Fachri terus ditarik sampai lelaki berambut spike itu memberontak.
"Anjing!" Fachri meninju kasar pipi orang itu. "Ada apaan sih narik narik gue?! Huh!"
Orang berkacamata tadi mengusap pipinya yang baru saja sukses terkena tinjuan dari Fachri. "Lo masih suka sama Tassia? Bukannya lo pacaran sama Hani?jawab!"
"Bukan urusan lo, anjing!" Fachri mendorong sekuat tenaga sampai orang itu berada sudah tidak di bawah atap sekolah lagi. Orang berkaca mata itu diguyur hujan. Sampai baju dan rambutnya lepek. Fachri merapihkan seragamnya dan langsung pergi meninggalkan orang aneh itu.
Fachri menuju kelasnya. Seperti biasa, dua kancing bajunya tebuka begitu saja memperlihatkan kaus hitam. Seragamnya tidak dimasukan dan... kali ini rambut spike andalannya sedikit lepek terkena percikan air hujan tadi.
Bukan langsung duduk di tempatnya, Fachri malah berbelok dulu ke tempat duduk Tassia. Wajah gadis manis itu seperti tembok, padahal hari ini di kabarkan pak Firman tidak masuk. Lagi lagi Fachri menoyor kepala Tassia sampai gadis itu bangun dari lamunannya.
"Sori, penggemar rahasia lo tadi gue tonjok." Ucap Fachri, "orang aneh itu semakin gila sama lo."
Wajah Tassia masih datar walaupun setelah mendengar ucapan Fachri tadi. Menurut Tassia biarin saja orang itu kena pukulan Fachri, Tassia sama sekali tidak peduli. Catat, sama sekali.
"Teman gue lo apain ri?" Heboh Vanny dengan suara cempreng khasnya. Membuat Hani melirik dan langsung menghampiri Tassia.
Hani langsung berdiri diantara Fachri dan Tassia, "ada apaan sih ini?"
"Nggak tau tuh cowo lo," lirik Vany sinis ke arah Fachri, padahal seratus persen Tassia diam bukan gara gara Fachri, melainkan kaka kelas pengganti Nico yang aneh. Ralat, tidak ada yang bisa menggantikan Nico di hati Tassia. Tapi.. itu hanya kata kata sementara. Melupakan, kata yang utuh dari hati Tassia.
Fachri meninggalakan tempat itu dan langsung duduk di barisan paling belakang bersama kawannya yang lain. Sebagian temannya bertanya kenapa Fachri lepek seperti itu dan sebagiannya lagi malah heboh meledek Fachri. Fachri masih menatap ke arah Tassia bingung, pikirannya mengingat kejadian beberapa menit lalu, kesal.
Cowo tadi sebenernya siapa sih? Dia tau masa lalu gue. Dia tau pacar gue. Dia.. senior anjing. Kesel aja bawaannya. Ini lebih anjing dari Nico yang ninggalin Tassia.
Selama jam pelajaran berlangsung, kepala Tassia terasa migren memikirkan masalah yang seharusnya bukan urusannya. Terlebih masalah keluarga Tassia dengan Fachri yang belum selesai dengan jelas. Walaupun berkali kali Tassia telah membujuk ibunya untuk menarik lagi fonis tersebut, tapi ibunya tetap saja keukeuh dengan pendiriannya. Apalagi, masalah orang asing itu, dan tidak ada kabarnya Nico. Ah.. Tassia bisa stres kalau terus terusan seperti ini.
Kelopak mata Tassia sayup sayup melemah. Tidur mungkin pilihan yang tepat untuk mengisi jam istirahat nanti masuk pelajaran selanjutnya. Tassia melipat tangannya di atas meja melapisi dengan jaket agar sedikit empuk untuk menjadi bantalan. Menenggelamkan kepalanya di dalam bantal buatannya itu.
Iris mata cokelat terang muncul di balik pintu kelas. Membawa sebuah bingkai berukuran sedang dengan berbagai foto. Tassia terkejut bukan main, wangi acqua yang dia rindukan kini memasuki lagi indra penciumannya. Tubuh atletis dengan kedua kaki yang proposional ditambah kedua lengan yang terlihat sedikit berotot. Rambut badai milik lelaki itu yang selalu ingin Tassia sentuh.
Tubuh gadis manis ini seperti terbang melangkah cepat. Melepas semua rasa rindu kepada lelaki yang.. tiba tiba mengilang. Iris mata cokelat terang yang selalu menatap Tassia dingin. Satu alis tebal yang sering naik ketika Tassia bersikap aneh. Tangan yang selalu ingin Tassia genggam dulu, kini terbalaskan.
Pelukan erat dari gadis manis ini membuat Nico sedikit sesak tapi tidak berarti dapat melepaskan rindu gadis manis ini. Nico membalas lagi pelukan Tassia sampai terasa kaki gadis inisedikit melayang. Berputar putar dalam pelukan Nico. Melepas kerinduan yang dinantikan. Menatap lebih dekat warna cokelat terang dalam mata Nico, seakan mata pekat gadis itu berkata can you be mine?
Pelukan Nico melemah, melepaskan dan jauh dari Tassia. Tassia diam dengan apa yang Nico lakukan. Padahal dirinya belum sempat berucap. Nico tersenyum kecut, lalu mendorong Tassia sampai jatuh kedalam jurang. Entah sejak kapan mereka berdiri tepat di ujung jurang. Jatuh kedalam kegelapan.
Tubuh Tassia mengejang, bangun dari tidurnya dan mimpi yang selalu muncul begitu saja. Sempat terdengar suara cempreng Vanny juga ikut berpartisipasi dalam membangunkan Tassia.
"Lo kenapa?" Teriak suara cempreng itu tepat di samping telinga Tassia.
Mata Tassia menatap keseluruh ruang kelas, hanya tinggal dia dan Vanny yang ada. Gadis manis itu langsung bangkit dari duduknya dan melirik arloji yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Masih jam sepuluh, kenapa sudah pada pulang? Pikir Tassia bingung.
Vanny juga ikut berdiri menjelaskan apa yang terjadi di sekolah dan di kelas sampai sesunyi ini. "Abis istirahat langsung dipulangin semua murid. Guru ada rapat." Katanya, "untung lo nggak gue tinggal sendiri disini. Abisnya lo nyenyak banget tidurnya."
Tassia terseyum samar, matanya masih berat untuk di buka. Tapi kakinya memaksa untuk berjalan dan tidur di rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Teen Fiction[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
