LIMA PULUH SATU . DUA
❄❄❄
Gadis manis remaja berdiri anggun memamerkan kemanisannya. Ia tersenyum manis kehadapan cowok dingin yang masih tidak bisa melepaskan pandangannya ke gadis itu. Sedikit, Nico bisa merasakan sela jalan untuk ia kembali kepada pemilik hatinya.
Gadis itu masih berdiri diam, tak lupa seulas senyum manis yang telah lama tidak muncul, kini diberikan kepada pemilik hatinya.
"Ka Nico? Gue udah siap lho." ucap Tassia membangunkan lamunan Nico.
Nico mengangguk, dan ia segera berdiri. Hal yang tidak terduga terjadi. Tanpa bertanya sebelumnya, cowok dingin ini langsung meraih dan menggenggam tangan mungil Tassia. Gadis itu terkejut, pasalnya detak jantungnya masih begitu cepat lalu sekarang di tambah dengan kelakuan Nico seperti ini.
"Ibu kamu kemana?" tanya cowok itu.
Tassia mencoba menahan segala salahtingkahnya. "Ada ada, dikamarnya? Mau ngapain?"
"Mau izin, mau minjem putri manisnya hari ini, boleh apa nggak."
"Gue?" Tassia menunjuk dirinya sendiri.
Cowok itu terkekeh pelan. Ia tahu benar, Tassia sedang salah tingkah. "Iya, kan kamu anak tunggal, cha."
"Boleh boleh, tapi hati hati ya Nico." ucap wanita yang sedang menuruni anak tangga. Senyumnya ramah dan manis persis dengan putri tunggalnya.
Cowok itu mengangguk. "Saya berangkat ya tante." pamit Nico dalam keadaan tangannya yang masih mengenggam tangan gadis manisnya erat.
Sovie mengangguk memperbolehkan mereka pergi.
Masih dengan genggaman cowok itu, Tassia berusaha menenangkan kembali detak jantungnya yang seperti sedang bermain wahana menegangkan. Ritmenya lebih cepat, sebisa mungkin Tassia bersikap lebih tenang. Nico membawa Tassia masuk kedalam mobil yang masih terparkir di luar gerbang kediaman keluarga Tassia.
Mereka sudah berada di dalam mobil. Nico melirik ke arah Tassia, tak henti hentinya cowok itu melukis senyum. "Pakai seatbeltnya sendiri, saya bukan cowok romantis yang masang seatbelt untuk cewek."
"Emang kapan ka Nico pernah romantis?"
Nico diam, mencerna ucapan Tassia seraya memikirkan kejadian romantis yang pernah ia lakukan. Nyatanya nihil, memang benar Nico tidak pernah dan mungkin tidak bisa.
"Nggak pernah ya?"
"Pernah sih, tapi ... Yaudah lanjut jalan aja. Mau kemana kita?" ucap Tassia melupakan pembicaraannya tadi.
Sebelum menancap gas, tangan Nico beralih mengambil dua pipi Tassia. Lagi lagi wajah gadis itu berubah warna. Bisa bisa Tassia serperti bunglon kalau begini terus.
Nico mengapit pipi Tassia dengan tangannya. Membuat bibir gadis itu maju dan menggemaskan. "Saya mau romantis, boleh nggak?"
Tassia diam.
"Yaudah kalau nggak boleh." tangan Nico menjauh dari pipi Tassia. Ia beralih untuk fokus menyetir mobilnya.
Akhirnya gadis manis ini bisa bernafas lega setelah lagi lagi Nico melakukan hal diluar sikap biasanya. "Gue nggak bilang kalau nggak boleh."
Nico melirik sebentar, lalu melanjutkan lagi fokus untuk membelah jalan protokol. "Udah lewat, cha."
"Ish yaudah." Tassia berdesis kesal. Di detik berikutnya Nico kembali lagi mengunpat di dalam sikapnya yang dingin.
Cowok itu fokus untuk menyetir.
"Kayak superman cepet banget berubahnya. Tadi sok banget manis sekarang dingin lagi!!" Tassia melirik sebentar ke arah Nico. Tapi melihat Nico tidak menanggapi dirinya, Tassia terus saja kesal dan merutuki dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Teen Fiction[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
