Hati ini sendiri yang memilih siapa yang akan ia jadikan tuan. Bahkan bibir ini, membisu.
Apa hanya kamu yang aku mau?
-Coldest Senior
⛄
LIMA PULUH TIGA . EMPAT
❄❄❄
Ada banyak yang harus dipikirkan Nico untuk liburan ini. Tentang gadisnya, tentang temannya, tentang papanya, tentang makluk yang sangat menyebalkan seperti Angga.
Cukup sekali saja Nico mengalah dengan perasaannya saat itu. Kali ini Nico tidak akan pernah membiarkan siapapun mengambil Tassia dari kepemilikannya. Ini sangat berlaku untuk Angga.
Sejak kejadian kemarin, Nico memilih untuk lebih dulu meninggalkan villa. Sedangkan Angga dan Viola entah pergi kemana. Begitupun Tassia yang melihat langsung kejadian kalapnya dua cowok itu membuat gadis ini lebih takut dari kemarin. Kenyataannya, semua teman Tassia ikut kembali lagi ke ibukota.
Tassia duduk di samping Nico dengan diamnya sambil melihat ke luar jendela mobil. Mengamati jalan tol yang ramai mobil. Tassia menangkupkan dagunya di tangan kiri. Wajahnya kesal karena liburannya telah selesai, tapi apa boleh buat? Sejak kedatangan Angga semua yang Tassia inginkan menjadi tidak ada. Padahal gadis manis itu ingin sekali mengajak pergi Nico ke suatu tempat yang romantis. Sejak awal Nico membuat perselisihan antara dia dan Tassia.
Nico masih fokus menyetir, tapi ia sangat merasa kalau Tassia berbeda semenjak perkelahiannya dengan Angga tadi. "Cha, mau langsung pulang?"
"Iya, gue capek banget." masuh dengan manaruh dagunya di tumpuan tangan.
"Luka yang tadi masih perih?" Nico menepikan mobilnya memasuki rest area di dalam tol. Mobil kedua yang berisi teman temannya ikut berhenti di rest area. "Nggak usah di tutupin kalau emang perih."
"Mendingan kok,"
"Saya percaya kalau kamu nggak cemberut lagi." senyum Nico melepas seatbeltnya. "Kita makan ya? Nggak ada penolakan."
"Ish kok gitu? Gue nggak laper."
"Nggak laper tapi nanti makan juga." sahut Nico meledek.
Tassia tidak menanggapi sahutan Nico tadi. Ia langsung keluar dari mobil tapi dengan cepat Nico langsung menarik Tassia masuk kembali ke dalam mobil. Mata Tassia seperti sedang bertanya. Kenapa?
"Jangan gue-lo ya manggilnya. Lebih manis lagi bisa?"
Tassia diam, dia perpikir sejenak. "Emangnya kenapa?"
"Saya mau hubungan ini lebih manis."
Tassia tersenyum setelah diamnya selama di perjalanan tadi. "Liat gue aja juga manis."
"Kalau itu saya juga tau, cha." Nico langsung mengecup punggung lalu menatap gadisnya dengan tatapan manis. Selanjutnya mereka berdua keluar dari mobil dan langsung mengahampiri teman temannya.
Hani sudah terlihat mengantuk. Tangannya memeluk erat bantal yang sengaja Fachri bawa dari rumah Nico. "Kita mau ngapain sih? Dingin tau, mendingan langsung pulang."
"Eh kutil badak, emang lo kira nyetir nggak butuh tenaga? Gua aja yang gantian sama Rega, capek. Apa lagi Nico." celoteh Alfi diawali dengan tonyoron ke kepala Hani.
Vanny medekati Hani yang sedang berwajah kesal karena terkena ocehan Alfi sedari tadi di dalam mobil. "Sabar sabar, gue tau lo mau tinju dia'kan?" ucap Vany.
Hani mengangguk lalu lanjut menatap Alfi horor.
"Mata lo gue colok sekali lagi ngeliat kayak gitu!" omel Alfi, sepertinya cowok yang satu ini sedang pms.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Jugendliteratur[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
