Apa ini yang kamu rasakan ketika saya pergi seenaknya? Sangat khawatir, saya tidak tahan, tolong berhenti. Pulang.
-Nico Devano.
ENAM PULUH
❄❄❄
Nico melemparkan tasnya kesembarang arah lalu diikuti dengan melepaskan sepatu dan juga kaus kaki. Cowok dingin itu langsung membanting tubuhnya diatas sofa, ia mengusap wajahnya kasar. Terakhir ia berkomunikasi dengan Tassia saat ia di rawat, berarti sudah sekitar lima bulan ia tidak tahu kabar Tassia sama sekali.
Sudah berkali kali Nico menghubungi Tassia. Tapi hanya suara operator menyebalkan yang berhasil tertangkap oleh telinga Nico.
"Why you look so sad, bro?" Fachri datang sambil membawa semangkuk sereal ditangannya. "Tassia lagi?"
"Iyaalah, siapa lagi." tatapan Nico lurus melihat keatap yang putih bersih tanpa corak, seakan mewakili hatinya saat ini.
"Lo kabarin dia lagi lah, lo telpon."
"Nggak pernah diangkat, nomornya udah ganti kali ya?" tanya Nico masih dengan keadaan tidur di atas sofa.
Fachri meletakan semangkuk seral di meja dan duduk di sofa depan televisi. "Mungkin," Fachri memberikan jeda. "lo tau sendiri lah, kita kita juga nggak dapet kabar lagi dari Tassia."
"Ya terus gue harus apa?"
Fachri bergaya seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa nggak lo susulin aja ke sana? Jogja ini bukan Jerman."
"Gue perlu izin dari bokap."
"Bokapnya Tassia?"
Nico langsung mengambil posisi duduk dan bersiap untuk melempar bantal sofa ke wajah Fachri. "Bokap gue!"
"Yaudah dong, sans." ucap Fachri seraya berjaga jaga akan kedatangan bantal sofa yang ingin di lempar Nico. "Nah itu yang ribet, gue denger denger bokap lo kurang setuju sama Tassia."
"Hmm."
"Kenapa sih?"
"Nggak tau ah!"
Pandangan Fachri mulai serius. "Koh, coba jangan egois. Bokap lo bukannya nggak suka sama Tassia, cuman lo aja yang kurang ngenalin Tassia sama bokap. Coba lo liat bunda lo, fine fine aja kan ketemu Tassia? Malahan seneng."
"Gue udah ngenalin Tassia sama bokap, tapi bokap keliatannya bener bener nggak suka karna Tassia alasan gue ngebantah buat nggak tinggal di Jerman." jawab Nico memijat batang hidungnya sendiri. Ia terlalu pusing, masalahnya belum juga selesai sampai saat ini.
"Lo ajak ngomong bokap lo baik baik, jalan keluar masalah lo, ya lo harus bisa ngeluapin apa yang lo rasa. Lo bukan batu yang diem dan keras. Lo tuh kayak es, sebeku bekunya lo, lo bisa cair. Cukup masalah cinta aja lo dingin, tapi ini keluarga lo, jadi diri lo yang hangat di keluarga lo." Fachri menepuk pundak Nico dengan tenang.
"Yaudah makan itu sereal lo, keburu dingin." jawab Nico memgalihkan pembicaraan. Cowok dingin itu bangkit dari sofa menyampirkan tasnya di salah satu pundak. Nico berjalan menuju kamarnya.
Fachri menatap bahu tegap Nico. Ia berteriak, "jangan lupa, nanti malem Alfi sama Rega ngajakin maen."
"Mau ngapain sih?" tengok Nico, langkahnya terhenti.
"Ngomongin cewe buat lo." Fachri sambil tertawa. Karma datang dengan cepat, Fachri langsung tersedak ketika meledek Nico.
"Udah nggak suka cewe." tinggal Nico melanjutkan perjalanannya ke kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Teen Fiction[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
