EMPAT PULUH SEMBILAN
❄❄❄
Suara familiar memanggil nama akrab Tassia. Gadis itu langusng menoleh ke arah sumber suara tanpa memperdulikan lagi salah tingkahnya cowok yang tadi ada di hadapannya.
Mata gadis itu menemukan si pemilik vespa antik. Fachri. "Lho lo disini? Dari kapan? Sama siapa?"
"Sama dua anak biawak. Nih." tunjuk Fachri mengarah ke dua cowo yang baru datang.
Kali ini benar benar hancur. Kenapa harus dua orang ini yang ada di hadapan Tassia. Kenapa harus Alfi dan Rega yang datang? Kenapa bukan Vanny dan Hani. Setelah mengetahui segalanya, sikap Tassia seperti bekuan air yang tajam. Sikapnya dingin dan pandangannya sesekali menusuk. Tassia tidak mengerti dengan dirinya, padahal ia tidak pernah merasa sekesal ini.
"Oh," jawab Tassia singkat.
Fachri melihat tangan Tassia yang masih di genggam erat oleh cowok yang sekarang kembali terfokus pada acara ini. Menyadari pandangan Fachri, gadis itu langsung melepaskan pelan genggaman Aditya yang hampir membuatnya nyaman.
"Pacar, lo?" tanya Alfi pelan. Tassia hanya menggeleng.
Rega penasaran dengan siapa sosok cowok yang tadi berani beraninya mengandeng mantan pacar sepupunya itu. Rega memiringkan wajahnya, di saat bersamaan cowok bertubuh tegap itu juga menoleh ke arah mereka bertiga. Menyapanya dengan senyum. Rega langsung menyipitkan matanya, menatap cowok itu dengan intens.
Aditya hanya tersenyum horor melihat ekspresi wajah Rega yang seperti itu. Pandangan Rega masih terpaku melihat Aditya, tapi tangannya berhasil membawa Tassia menjauh dari keramaian dan posisi teman temannya.
Kini tinggal mereka berdua yang harus menyelesaikan ini.
"Apa apaan sih lo, Ga?" Tanya Tassia, suaranya rendah tapi tajam.
Rega megacak acak rambutnya frustasi, entah ucapannya akan benar atau salah. Rega bingung harus memulai pembicaraan ini dari mana, masalah yang kemarin saja belum selesai sudah ada si biang kerok datang.
"Cha, lo marah sama gue dan Alfi?"
"Kapan gue marah sama kalian?" ucap Tassia masih sama dinginnya seperti Nico.
Rega mengusap wajahnya frustasi. Gadis ini sudah menjadi dingin. "Sikap lo nunjukin kalau lo itu marah sama kita."
Tassia hanya menaikan satu alisnya.
"Oke gue minta maaf karena waktu itu gue sama Alfi tau keberadaan Nico di jerman ---"
"Dan kalian ngebiarinin gue nangis kayak orang nggak jelas nungguin kabar orang itu." Tassia berdecih sebal. "Kalian bertiga hebat ya, berhasil mainin persaan gue gitu aja."
"Seharusnya tuh kalian bilang, jujur sama gue kalau Nico kembali lagi ke Jerman. Nggak usah ada yang di tutup tutupin, Ga. Kalian taukan gimana gue saat itu, seputus asa itu dengan hubungan gue sama Nico. Tapi kalian cuman diam padahal kalian tau Nico ada di Jerman!"
"Cha?" sebenarnya Rega sangat ingin bicara panjang lebar. Tapi dia bukan seperti Nico yang bisa menahan lebih lama emosi. Rega beda.
"Kenapa kalian nggak bilang lebih awal ke gue? Kenapa Alfi ngumpetin pemberian Nico dari gue, dia bilang semua es krim cokelat yang di kasih dia itu dari dia. Apa kalian pikir gue akan senang dengan permaian kalian yang kayak gini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Teen Fiction[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
