TIGA PULUH ENAM
❄❄❄
Lantai marmer yang pernah dia injak sewaktu kecil. Memandangi lurus seolah hanya itu yang bisa Nico lihat. Di luar sana hujan deras menambah situasi horor hari ini, dengan kilat yang menjadi pendukung. Nico terus menunduk pasrah dengan dirinya yang masih menahan rasa ngilu pada lebam dibeberapa titik wajahnya. Saat ini Nico sama sekali tidak bisa membantah, bahkan dihadapan papanya.
Hembusan napas sesekali terdengar di ruang kerja ini. Suara detik jarum jam membuat sunyi semakin terasa, ketegangan antara ketiganya semakin nyata.
"Papa nggak pernah mengajarkan kamu mabuk mabukan seperti itu." Maki papa dengan suara yang masih bisa terbilang lembut.
Ini semua karena Rendy. Mungkin lebam di wajah Rendy menjadi titik mulainya pertanyaan papa tentang penyebab lebam yang sama di wajah Nico. Membuat papa semakin yakin kalau kedua putranya berkelahi bukan lagi dihadapannya lagi.
"Dia itu karena cewe pa!" Kejam, lagi lagi Rendy membuka semua hal pribadi Nico.
Mata Nico rasanya memerah, dan memanas. Tangannya juga mengepal hebat siap untuk meninju dan menambahkan lebam di wajah Rendy.
Kenapa lo selalu ganggu gue ka!
Nico mendengus kasar menahan semua amarahnya yang ingin mencapai puncak.
Rianto-papa melirik Nico bingung, baru kali ini mendengar kalau Nico mendekati perempuan ataupun memikirkan perempuan setelah kepergian mamahnya lalu.
"Kenapa sampai segitunya, Vano?" Rianto menggelengkan kepalanya. Menurutnya ini alasan yang mungkin tidak terlalu penting.
"Vano... Vano nggak bisa mengendalikan emosi."
"Trus kenapa lo ninggalin sekolah lo di Jerman, Van? Karena cewe itu juga?!"
Nico melirik kakanya dengan lirih ingin sekali dirinya tidak memperdulikan semua omongan Rendy dari awal. Toh Rendy juga tidak pernah menganggapnya lagi sebagai adik kandung semenjak kepergian mamah.
"Papah udah biayain sekolah lo di Jerman dan lo jadi pengurus perusahaan papa di sana. Lo udah dewasa, apa lagi yang lo mau sih Van! Apa lagi!" Bentak Rendy.
"Jangan ganggu masalah pribadi gue." Balas Nico dengan nada dinginnya. "Bisa?"
"Kalian semua sudah dewasa. Papa nggak mau kalian bertengkar seperti anak kecil." Balas Rianto disela sela perkelahian kedua putranya. "Rendy minta maaf sama Vano, papa nggak ingin melihat kalian berkelahi lagi."
"Kenapa harus Rendy?"
"Karena lo yang..." ucap Nico terputus.
"Apa? Lo masih mau nyalahin gue, Van?" Rendy berdecih. "Kalau nggak ada gue lo akan di keroyok masa di depan club! Lo akan lebih babak belur dari ini!"
"Karena lo nggak mencegah mama buat nggak gantiin jantung gue."
Seketika dengan nada bicara Nico yang dingin keheningan lagi lagi menyelimuti ruangan ini. Ruangan penuh dengan buku kantor, ruang kerja Rianto.
Rendy memilih diam untuk beberapa saat. Memang benar, detik detik mamahnya ingin menggantikan jantung Nico, Rendy langsung pergi ke Jerman. Sama seperti yang Nico lakukan sekarang, mengurus perusahaan. Rendy tidak mencegah kejadian itu, Rendy tidak menbujuk mamahnya untuk tidak mendonorkan jantungnya.
"Papa nggak kuat kalau sampai akhir papa, kalian masih seperti ini."
"Papa ngomong apa sih." Celetuk Rendy.
Nico menatap Rianto dengan padangan teduh dan iba. Ingin sekali dia menghentikan emosi Rendy tapi entah mengapa seakan sifat dingin dan apatis Nico lebih tebal dari biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Roman pour Adolescents[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
