6.2 | Nico Devano (2)

6.5K 272 0
                                        

E N A M . D U A
❄❄❄

Tepatnya tiga tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku smp. Semuanya di luar dugaan, saat itu benar mementingkan egoku. Diluar kendali.

"Mah, tapi vano mau ikut mereka mah. Vano juga nggak ingin terkekang kayak gini."

"ini udah malem van. Kamu jangan keluar. Mau ngap-"

Saat itu aku tidak mendengar semua larangan mama, Rendy masuk kerumah bertabrakan dengan tubuhku yang sedang memakai jaket kulit hitam.

Dia menatapku sangat curiga. Dan tatapan itu terhenti ketika dia mendengar suara mama yang sedang melarangku untuk keluar malam.

Aku menghiraukan semua perkataan mama. Dan aku mengeluarkan amunisiku dari garasi. Sebuah motor hitam yang siap untuk bertanding malam ini.

Suara mama masih terdengar di telingaku. Aku hanya mengikuti egoku untuk pergi. Rendy menahan mama untuk mengejarku. Dan aku pergi.

Malam ini aku balap liar. Entah apa yang ada dipikiranku. Aku terkena candu balapan liar ini, walaupun umurku yang belum mempunyai surat mengemudi. Namun, ego mengalahkan semuanya.

Semuanya telah berkumpul sedari tadi, untuk menyaksikan pertandingan liar ini.

Aku bersiap siap melawan empat pengendara yang terbilang cukup sulit dikalahkan. Semuanya sidah siap di posisi masing masing untuk menancap gas tertinggi.

Tiga...
Dua...
Satu...

Aku menancap gas dan speedometer motorku sudah menunjukan angka maksimal. Hanya mengikuti jalur dan selalu menancap gas. Itu yang ada dipikiranku.

Lawan lawanku terlihat masih jauh di belakang. menancap gas sampai melebihi kecepatan maksimal.

Salah satu lawanku berhasil menyamai kedudukan. Tarapan licik itu diarahkan ketubuhku.

Kecurangan itu terjadi, salah satu lawanku menendang motor di luar dugaan. Saat itu aku masih dalam kecepatan diatas rata rata. Aku terjatuh jauh dari arena balap. Terseret, dan motorku rusak.

Semuanya sakit, kulitku sudah tergores kasar oleh aspal. Hanya saja kepalaku masih terlindungi oleh helm.

Dan...

Ini sangat sakit...

Satu serpihan besi motorku berhasil menancap di bagian tubuhku ini. Aku terkapar di aspal.

Benar benar sakit. Dan sampai pandanganku mulai redup dan semuanya hitam.

"Mah?" Cahaya masuk menusuk mata ketika aku membuka kelopak mata.

"Vano? Kamu udah sadar?"

Itu bukan suara mamah. Suara itu berat. Wajah papa menatapku dengan raut yang sedih.

Rendy hanya berdiri tegap di samping pintu. Dia sama sekali tidak menyapa kebangunanku.

"Mama diamana pa? Vano mau ketemu mama, vano udah...

Wajah papa meringkup di tangan kananku yang masih tertusuk jarum infus.

"Pa? Vano mau bilang ke mama. Mau minta maaf udah ngebantah mama." Satu air mata berhasil lolos dari bendungan ini.

Suara papa sangat sesak. "Mama kamu ada disini"

Telunjuk papa tertuju di tubuhku. Entah apa yang dimaksud papa. Aku tidak mengerti sama sekali.

Rendy hanya menatapku dengan mata yang sudah memerah. Tanpa berbicara sepatah katapun.

Aku menaikan satu alisku. Tanpak aneh dengan perlakuan papa.

"Maksudnya pa?"

"Ini jantung mama kamu van." Lanjut dengan tangisan papa.

"Terus mama kemana pa? Kenapa jantung mama ada di vano?" Bentakku dan berusaha untuk bangun.

Tidak, ini masih sangat sakit untuk bangun. Aku kembali lagi terkapar dikasur putih rumah sakit.

"Kamu kecelakaan keras. Dan mengakibatkan jantung kamu benar benar rusak. Jadi kalau jantung kamu--"

"Aku nanya mama dimana pa?" Bentakku sangat kesal.

"Kamu koma dua minggu. Dan selama itu kamu juga di tinggal mama ke surga." Jawab papa dengan setetes air mata yang membasahinya.

Benar benar tidak ku sangka semuanya salahku. Kalau saja aku tidak mengharaukan larangan mama. Mama tidak bakal kesurga saat ini.

Mataku membulat dan kini memerah sehingga tidak bisa menahan tangis dan menerima keadaan.

Papa pergi untuk mengurus semua administrasi di lantai utama.

Tinggal aku dan Rendy.

Aku melihat ke arah rendy tampak wajah Rendy yang sangat kesal.

Dia maju selangkah dan lebih cepat. Pukulannya tepat menabrak di pipi kiriku.

"Kalo lo nggak kesana. Mama nggak bakalan pergi van!"

Aku hanya mengusap bekas hantaman Rendy. Dengan kondisiku yang masih di atas kasur dan tangan terhinfus. Aku benar benar tidak melawannya.

Nafas Rendy juga terdengar terengah engah dan lebih cepat. Sehabis menghantamku

"Semua keluarga besar benci sama lo. Sekarang lo bener bener nggak berguna Van. Gue bakal benci lo sampe kapanpun!" Maki Rendy. Suara Rendy benar benar menekan.

"Ya, seandainya waktu dapat berdetik kekiri. Aku, nico devano tidak akan menyianyiakan larangan mama. Vano benar benar menyesal ma."
-vano, anak mama.

Semenjak kejadian itu. Semua keluarga besarku menjauhi entah apa yang ada dipikiran mereka semua. Aku diasingkan sendiri dirumah yang sangat mewah, itu semua pemberian bunda Tari dan papa. Bunda Tari dan papa menikah setelah setahun kejadian itu. Dan hanya bunda Tari dan papa yang masih menganggapku anggota keluarga.

❄❄❄

"Woi.. Tassia dapet salam dari Nico."

Teriakan seorang cewe. Ya itu dari arah lapangan. Teriakan itu benar benar lantang. Sampai suara cewe itu memasuki telingaku yang sedang berada di dalam kelas.

Aku kenal suara cewe itu. Tentu suara itu sangat akrab di telingaku. Dia Maya. Mungkin semuanya mendengar suaranya itu. Dan mungkin sekarang Tassia sedang malu mendengar teriakan itu yang diikuti juga namaku di belakangnya.

Langsung aku ambil ponsel yang berada di atas meja tepat di depan mataku.

kamu denger? : Nico

Tassia : jelas di telinga gue ka. Itu siapa?

oh : Nico

Aku hanya ingin membuktikan. Dan ternyata benar Tassia mendengar itu. Jujur, Sebagai pacarnya Maya aku cukup malu mendengar teriakannya itu yang terlalu blakblakan. Perbuatan maya, benar benar gak tahu malu! Apa dia memang sudah gak punya malu?

Aku menggerutu di tempat duduku yang sudah tetap di belakang. Sedikit menahan emosi.

Coldest Senior✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang