E N A M . S A T U
❄❄❄
jas hujannya pegang dulu : Nico
Tassia : iya kak makasih ya
Menatap ke layar ponsel yang saat ini masih berada di genggamanku. Membiarkan pesannya itu hanya aku baca. Aku melempar ponsel ini ke kasur empuk itu ke sembarang arah. Entah kemana perginya ponsel yang aku lempar tadi. Kepala basah akibat terkena air hujan, tanganku sibuk mengeringkan rambut ini dengan handuk. Berdiri di depan cermin, melihat lurus keseliruhan tubuhku.
Gadis manis dengan rambut sebahu tadi, terlihat senang jika aku membantunya. Apa dengan cara ini hidupku bisa membuat perempuan senang? Dengan menepatkan perasaanku kepada Tassia? Ah... sudahlah aku tidak mau membuat dia ada perasaan kepadaku. Aku harus bisa menyadari aku sudah punya Maya. Harus menjaga perasaan Maya. Kalau aku tidak mau dianggap Monster es lagi.
Hujan semakin deras. Satu persatu rintikan hujan mengguyur halaman depan rumah mewah yang sepi ini. Mungkin Tassia juga sudah menghangatkan tubuhnya dengan selimut dan aku juga harus memanjakan tubuhku ini di rumah.
Baru saja aku merebahkan tubuhku, dan menarik selimut putih. Panggilan masuk bernada lagu mind milik jack U berbunyi kencang di ponselku.
Bunda Tari is calling...
"Kenapa bun?" Tanyaku. Jangan lupakan wajahku yang datar. Bunda Tari terdiam sebentar. Aku masih bisa mendengar tegukan bunda Tari.
"Papa kamu di rumah sakit, van!" Jawab Bunda dari sebrang telpon. Aku terdiam, membuatku terkejut. "Vano?" Lanjut bunda.
"Papa di mana, bun?"
Selesai bunda Tari memberi tahu alamat rumah sakit. Akupun langsung bergegas meninggalkan rumah dengan keadaan kosong. menuju rumah sakit yang di maksud bunda dengan speedometer motor yang mengarah diatas rata rata.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung mencari keberadaan papa. Langkahku terhenti sejenak melihat seorang wanita paruh baya menangis di bangku ruang tunggu.
Itu bunda Tari.
"Papa kenapa bisa masuk sini bun?" Tanyaku panik.
Bunda terus menangis dalam keheningan rumah sakit. "Papa kamu kena serangan jantung waktu dia lagi di kantor. Karyawannya yang menelepon kerumah memberitahu keadaan papa."
Napas bunda sangat sesak. Dia terus menangis matanya sangat sembab.
Aku duduk tepat disamping bunda menyenderkan kepalanya di bahuku supaya bunda menyisirkan kesedihannya. Menenangkan degup jantung bunda yang beritme kencang. Aku bisa merasakannya.
"Vano juga khawatir bun sama keadaan papa. Disini kita cuman bisa berdoa buat papa. Vano yakin, dokter juga bekerja keras untuk ini" ucapku sambil mengusap rambut halus bunda. Seperti menenangkan mama. Itu tidak mungkin aku rasakan sekarang.
Selang waktu tidak lama dari keheningan rumah sakit. Seluruh keluarga besarku datang untuk melihat keadaan papa. Semuanya menatapku sinis, seperti melihat orang asing. Mungkin alasan aku tinggal di rumah itu karena aku dicampakan dengan semua. termasuk kakak yang dulu aku anggap sebagai tameng penenang, Rendy.
Tatapan Rendy kepadaku sangat aneh. Tajam, seperti ada belati di iris mata coklat gelapnya. Mengingatkan kejadian waktu dua tahun lalu. Pandanganku teralihkan, ponselku bergetar menandakan pesan masuk melalui line. Dua pesan belum terbalas.
Alfi : koh lo dimana?
Alfi : Doi lo kerumah gue. Nangis nangis!
suruh pulang : Nico
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Teen Fiction[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
