EMPAT PULUH DELAPAN . DUA
❄❄❄
"Kenapa sih?"
Tanpa menunggu lama. Jemari Rega langsung memutuskan sambungan telponnya dengan Tassia. Emosinya sudah meningkat, penyesalannya tambah mondorong dirinya untuk menjadi seperti yang sekarang.
"Malam ini kita nginep di rumah si brengsek!" teriak Alfi sambil meregangkan tubuhnya di atas kasur.
Rega menggerutu kesal. Nafasnya berderu cepat, siapapun yang melihat keadaan Rega sekarang pasti sudah bisa menebak apa yang Rega rasakan.
"Brengsek brengsek juga sahabat lo dari kelas sepuluh, kambing!" Fachri melemparkan bantal asal dan tepat mengenai wajah Alfi.
"Mending rumahnya buat gue deh." lanjut Fachri seraya melihat keseluruhan ruangan kamar tidur Nico yang menyatu dengan ruang khusus game nya. Hanya ada sekat dua lemari.
"Kalian ngeberantakin? Jangan harap bisa keluar hidup hidup dari rumah ini!" seru Rega melihat sudah tiga bantal berpindah dari tempat semula.
"Serem banget sih."
"Kenapa muka lo kusut bener abis nelpon Tassia?"
"Nggak, perasaan gue nggak enak aja." sahut Rega menyegarkan wajahnya dengan sedikit senam wajah.
"Sungut banget muka lo," Alfi kembali duduk pada posisinya yamg semula terlentang.
"Doi kesel kali sama kita," pandangan Fachri beralih ke tubuh jangkung si pemakai kacamata di sana yang sedang berdiri, cemas. "Gara gara kita nginep."
"Taudah, kenapa nggak nginep di rumah lo aja sih? Kenapa harus nginep disini? Nanti yang punya rumah ngomel gimana?"
Rega menatap dua anak kunyuk di depannya. "Lo mau di gorok bokap gue kalau nginep di rumah gue, huh?! Lagian ue udah bilang sama om Rianto, bokapnya Nico. Om lucas yang mantau kita, jangan aneh aneh lo makanya berdua."
"Selau." Fachri mengacukan jempolnya seraya mencari posisi yang nyaman utuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Lo abis telpon Tassia 'kan tadi?"
Rega mengangguk untuk jawaban pertanyaan Alfi.
"Nah tuh anak dari mana? Kenapa telpon kita nggak diangkat angkat?" tanya Alfi.
Fachri mengacungkan satu tanggannya, menunjuk langit langit ruangan ini. "Sori gue nggak termasuk, soalnya gue nggak nelpon."
"Yeh, lo aja nggak punya pulsa. Beruk!" Alfi menutup wajah Fachri menggunakan bantal besar, menekan nekan wajah Fachri agar tidak bisa nafas.
Sekalian mati aja apa yak? Matiin orang dosa nggak sih?
"Duh. Gue nggak tau kalau dia abis kemana, telponnya gue yang matiin duluan. Gua takut kalau omongan kebun binatang gue keluar semua. Takut khilap sama emosi sendiri." jelas Rega memposisikan dirinya duduk di kursi belajar.
"Tapi perasaan gue nggak enak." lanjut Rega setelah mendengus kasar.
Kedua cowok itu saling menyumbang tatapannya seraya berpikir. Satu nama yang di lontarkan mereka berdua secara bersamaan dan langsung melirik cowok yang wajahnya masih nyaman tertutup dengan bantal.
"Ri, masih komunikasi sama Hani nggak?" ucap Rega penuh dengan harapan.
"Ma... I a...i" suara Fachri tidak jelas karena mulutnya yang masih tertutup bantal. Fachri sangat malas untuk menyingkirkan bantal yang di atasnya, apa lagi dengan menjawab pertanyaan Rega tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Fiksi Remaja[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
