37 | change

4.1K 147 4
                                        

TIGA PULUH TUJUH
❄❄❄

Tassia sibuk mengikat tali sepatunya. Pagi ini sialnya dia harus berangkat lebih pagi dari biasanya. Dikarenakan Sovie berhalangan untuk mengantar gadis kecilnya kesrkolah, kalau alasan Sovie ingin mengurus butiknya Tassia tidak terima dan akan terus merongrong agar Sovie mengantarnya. Tapi alasannya karena Tiar hari ini pulang dan Sovie haru menjemputnya lebih dulu dari pada sekolah Tassia.

Akhirnya gadis malang dipagi hari ini harus mendapatkan uang jajan lebih untuk naik angkutan umum dan waktu ekstra agar sampai kesekolah.

Tassia menaruh payung lipat di dalam tas punggungnya. Prediksi Sovie hari ini akan turun hujan. Walaupun Tassia sedikit membantah Sovie, akhirnya memang harus Tassia yang mengalah.

Sovie sudah berangkat dari satu jam yang lalu. Membuat Tassia sedikit kerepotan untuk berangkat sekolah.

"Ayah kenapa nggak pulangnya habis pulang sekolah sih. Kan biar gue bisa jemput juga." Runtuk Tassia selesai mengikat tali sepatunya.

Tassia berdiri merapihkan semua seragamnya. Melihat tidak ada yang kurang dari seragamnya, Tassia melanjutkan langkahnya menuju gerbang.

"ASTAGFIRULLAH!"

"GUE MASIH MAU TINGGAL DIRUMAH INI."

"JANGAN CULIK GUE PLIS, GUE BELUM SARAPAN!"

Tassia menutup wajahnya kaget melihat apa yang ada dihadapannya sekarang sehabis menutup gerbang rumahnya.

"Siapa yang mau nyulik kamu?

Perlahan lahan Tassia mengintip sesorang dihadapannya yang sempat membuat Tassia terkejut bukan main. Memang Tassia terkejut, bagaimana tidak sosok yang selalu dia nantikan tiba tiba ada di depan rumahnya. Pagi pagi seperti ini.

Tassia sempat mengerjapkan matanya beberapa kali mencubiti dirinya sendiri meyakini bahwa ini cuman mimpi. Tapi berbanding terbalik, kenyataan menampar gadis itu pagi ini.

Ada rasa senang, terkejut dan bingung. Senang karena orang yang dinantikan sekaranga ada di hadapannya dengan ninja hitam kesayangn Nico. Terkejut karena kehadiran lelaki yang bernama Nico Devano muncul dengan tiba tiba. Bingung karena..

"LO NGAPAIN DISINI KAK?"

"Kamu nggak senang? Yaudah saya balik aja." Balas Nico yang membuat Tassia langsung melotot tidak yakin dengan jawaban Nico. Tapi mau bagaimana lagi memang sifat Nico seperti itu.

Tassia gagap untuk menjawab lagi. "Ya..ya se.. see"

"Udah saya balik aja."

Belum sempat Tassia bilang iya, pemilik mata cokelat terang itu pergi hilang entah kemana yang pastinya menumbuhkan rasa kecewa pada Tassia.

Tassia meruntuki dirinya sendiri sepanjang jalan keluar komplek. Sambil menendangi batu kerikil dijalan. Tapi dilain hal Tassia sempat mengukir senyumnya sendiri memikirkan paginya yang langsung disambut dingin oleh lelaki itu.

Tassia tahu kalau Nico sudah di Jakarta. Tapi kehadiran Nico di depan gerbang tadi menambah kebahagiaan Tassia. Walaupun tetap saja bersikap seperti balok es.

"Kenapa nggak nganterin gue aja gitu ka Nico." Tassia mengerucutkan bibirnya.

"Kamu ngomongin saya?" Nico muncul tiba tiba di samping Tassia masih menunggangi motor Ninjanya.

"Siapayangngomonginlosih." Umpat Tassia mengoceh pada dirinya sendiri.

"Tassia, saya denger." Nico mengambil helm yang sedari tadi masih menggantung di lengannya. "Pakai, habis itu naik."

Coldest Senior✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang