TIGA PULUH SEMBILAN . DUA
❄❄❄
Nico menghirup hangat aroma teh buatanya. Hari ini masih terlalu pagi untuk mengolah pikiran. Mungkin kalau Nico masih sekolah di Jakarta, dia akan siap siap untuk berangkat sekolah. Nico duduk santai di kursi teras, memikirkan bingkaian cerita yang baru saja ia buat semalam bersama gadis manis. Lalu mencatatnya di buku berukuran tidak terlalu kecil.
Nico tersenyum hangat mengalahkan sang fajar. Ia menyeruput pelan teh hangatnya lalu mendengus.
"Selamat pagi!"
"Ada kiriman paket!"
Suara teriakan khas. Nico tahu ini suara siapa, Nico yakin dia tidak salah mengira. Nico langsung menaruh cangkir tehnya di atas meja dan segera menghampiri pusat suara tadi. Nico membuka gerbangnya dengan semangat dan berakhir dengan hati yang hangat.
Gadis manis pagi ini dengan kuncir kuda andalannya, menyisahkan beberapa helai rambut yang dibiarkan tidak terikat. Tassia terseyum ramah dan menyodorkan kotak makan berwarna biru.
"Ada paket!" Ucap Tassia gembira dengan semangat pagi.
Nico memperhatikan Tassia, dengan tas punggung dan pakaian seragam rapih. Nico jadi mengingat waktu ia masih berada di sekolah Rajawali.
"Penting banget ke sini?" Tanya Nico dingin.
Tassia memyodorkan jam tangannya agar Nico dapat melihat jam berapa sekarang. 6.10 menit. "Waktu gue setengah jam lagi, kak, buat waktu gue berharga dong."
Nico mendengus pasrah melihat kelakuan Tassia sepagi ini. Ia berbalik dan berjalan kembali masuk ke halaman rumahnya dan menutup pintu gerbang. Meninggalkan Tassia di luar gerbang.
"KAK! GUE KE SINI MAU SARAPAN!"
"MENCAIRLAH KAU WAHAI ES BATU!"
Nico tertawa mendengar celotehan keras di depan gerbang sana. Kembali lagi menuju gerbang dan mengintip melalui sela gerbang berwarna hitam. "Bisa buka sendirikan?"
"Ngapain ditutup kalau gue disuruh masuk." Tassia kesal, masih sepagi ini dia sudah meladeni pacarnya yang dingin.
Tassia mengekori Nico menuju teras. Gadis manis itu langsung disuguhkan dengan aroma acqua khas Nico. Nico masuk kedalam rumahnya sedangkan Tassia duduk di kursi santai tepat memandang kearah pagar. Dia melirik ada secangkir teh dan buku catatan serta lengkap dengan pulpen.
"Manusia es ini ternyata suka nulis juga." Pikir Tassia dan kembali lagi menatap lurus gerbang hitam dan beralih ke kotak biru bekalnya.
Nico kembali dari dapur sehabis membuatkan teh hangat untuk gadis penyemangat paginya. Bukan langsung duduk dikursi satunya, Nico bersandar di pintu dengan tangan yang masih memegang cangkir. Dia tidak ingin melewatkan senyum manis gadis itu. Mata cokelatnya terus mengintimidasi Tassia. Mencari kekurangan, yang ternyata Nico tidak menemukan.
"Hai, kak?" Tassia melihat Nico yang masih menatapnya diam. "Hallo? Kok di pintu? Nggak mau nemenin gue di sini, duduk?"
Nico berdehemem setelah tersadarkan oleh suara Tassia. "Oh." Lalu duduk di kursi yang satunya seraya menaruh secangkir teh hangat dengan aroma melati.
"Lo udah sarapan, ka?" Tanya Tassia sambil membuka bekalnya. Tanpa melihat ke arah Nico sama sekali. Sekali lagi, Nico memperhatikan gadis manisnya.
"Nanti saya pesan makanan."
"Lo suka bikin teh ya kalau pagi pagi?" Tanya Tassia sesudah kunyahannya habis.
"Hmm."
"Lo suka kesepian ya kalau sendiri dirumah?" Lagi lagi Tassia menanya dengan iris mata hitamnya yang masih menatap tubuh Nico.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Fiksi Remaja[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
