45 | Harus?

2.6K 129 4
                                        

EMPAT PULUH LIMA
❄❄❄

Ruangan persegi dengan suara ocehan gadis manis mengisi tiap sudut. Tassia menunduk, membaca setiap kalimat pada undangan bercorak gold lebih dominan dari warna yang lainnya. Ukiran thypography lebih detail di setiap kalimat undangan itu.

"bener nggak sih kalimat undangan nya kayak gini?" tanya Tassia lagi ke gadis yang berada di samping. "takut salah tulisan."

"lo mau ngundang siapa sih? Pejabat? Menteri? atau CEO?" cetus Vanny yang tidak kuat dengan Tassia yang sedari tadi mengoceh sana sini tentang undangan ulang tahunnya. "ngundang temen aja kayak ngundang pejabat. Formal banget."

"ya abisnya gue bingung mau nulis gimana, ini udah bener belum?" Tassia menyodorkan hasil thypography yang ada di undangan.

"pesen aja sama olshop ulang tahun gitu. Ngapain bikin sendiri."

"nggak ah, mahal!" bantah Tassia melanjutkan tulisan kalimat pada undangan. "lagian juga harus kreatif."

"lo sih namanya kelewatan kreatif, cha." ucap Vany. "terus mau lo kasih siapa aja?"

"banyak" Tassia mengembangkan tangannya lebar lebar.

"lelaki yang bernama Nico Devano?" sahut Vanny membuat Tassia diam seketika.

"walaupun gue undang, emangnya dia bakalan dateng?"

Vanny hanya menyimdir dan sesekali terkekeh halus.

"kapan mau dibagi nya?" tanya Vany

"sekarang!" ajak Tassia semangat empat lima, jam istirahat masih berlangsung jadi masih ada beberapa menit yang cukup untuk membagi undangan ini.

Sudah hampir mendekati habisnya waktu istirahat, masih ada beberapa undangan lagi yang belum Tassia berikan ke pemiliknya. Undangan gold hitam lebih menonjolkan tema sweet seventeen Tassia.

Gadis manis itu duduk di tempat biasanya, kantin yang menjadi tempat favorit. karena di kantin ini lah pertama kalinya ia mencium aroma acqua, pertama kalinya dia mendengar suara dingin milik Nico. Ah, Tassia mengingat lagi kejadian itu. Tassia harap ia kali ini bisa menyerah, tidak selalu berjuang. Tassia menyerah untuk sifat Nico yang teramat sangat dingin.

Tassia menyedot es susu dihadapannya, Vanny asik dengan ponsel dan beberapa akun sosial media milik dirinya.

"tinggal siapa aja yang belum lo kasih?" tanya Vanny yang matanya masih tertuju pada layar ponsel.

Tassia berpikir sejenak. "hmmm. Alfi? Rega? Dia gue kasih juga nggak sih? Kan dia senior."

"kasih aja kali, cha. nanti pengen lagi tuh dua orang. Mereka kan apeng."

Tassia tersenyum lebar. "that's right"

"yuk cari dua kunyuk itu." semangat 45 Vanny mengobar seperti ada alasan dibalik pemberian undangan. Vanny langsung menyimpan ponselnya di dalam saku celana.

"semangat ya kalau urusan ketemu Alfi. Jangan jangan..." ledek Tassia tidak karuan memunculkan warna merah pada pipi Vanny.

Dua lelaki yang berurusan datang dengan tiba tiba. Entah datang dari mana yang pastinya Alfi datang dengan membawa kerusuhan. Alfi langsung melompat melewati bangku dan duduk di samping Tassia langsung menatap Tassia lekat. Puppy eyes macam apa yang di keluarkan lelaki satu ini?

Seketika pembicaraan Tassia dan Vanny langsung terhenti dan Vanny langsung mematung, matanya hampir keluar melihat Alfi datang tiba tiba.

"gue denger denger, lo mau ulang tahun, ya?" senyum Alfi sambil menatap Tassia. Ini bukan seperti menatap orang yang disukai, tapi tatalan mengerikan dari Alfi yang penuh arti.

Coldest Senior✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang