S E P U L U H
❄❄❄
Nico berdiri tegap, merasakan dengan sebisanya agar acara ini terasa nyaman. Tidak henti hentinya, cibiran dari cowo cowo gosip sekolah terus saja bekicau.
"Monster kayak dia kenapa bisa dapatin Maya yah?" Ucap salah satu mereka
"Oh, jangan jangan dia pakai pelet dukun. Ihh," gidik mereka jijik.
Seburuk itukah Nico dalam menyakiti perempuan, walaupun tidak pernah menyakiti fisik perempuan tetap saja kalau urusan hati pasti sudah banyak perempuan yang terluka bahkan takut jatuh cinta pada seorang Nico Devano. Tapi masih ada saja yang menyukai Nico.
"Hai, sayang?" Ucapan sayang dari Maya yang sebenarnya jijik di dengar Nico. Nico tidak memperdulikan itu, dia terus menyeruput minuman bersoda di gelasnya.
"Tadi kata Alfi, kamu gak mau datang. Kenapa?" Maya mengandeng tangan Nico dan kepalanya jatuh di bahu tegap milik lelaki itu.
"Itukan tadi, bukan sekarang."
Maya memutar otaknya agar bisa banyak topik dalam pembicaraan dia dengan Nico kekasihnya di acara ini. "Nanti kita ke atas panggung yuk, nyanyi bareng."
"Gak bisa nyanyi," bohong kalau Nico tidak bisa nyanyi, dia saja sewaktu SMP rajin masuk les musik.
Maya mendengus kesal, karena sifat kekasihnya yang dingin tidak bisa di cairin juga dengan apapun itu. "Yaudahlah, aku nyanyi sama Alfi!"
Maya menarik lengan Alfi kasar, sampai di atas panggung. Memang tidak ada malunya tuh cewe. Dilain perasaan, Nico hanya melihat apa kelakuan kekasihnya itu yang memalukan. Bukan cemburu, bahkan api cemburunya tidak tersentuh jadi tidak membara sama sekali.
Alfi anak band sekolah dengan terbiasa memainkan petikan gitar di jemarinya dengan duduk dikursi bersama gitar di pangkuannya. Maya mengetes mic yang sekarang sudah berdiri dengan penyangga di depan bibirnya.
Nico mengedarkan matanya tetap mencari gadis kecil itu yang kalau bertemu selalu membuat Nico risih, tapi kenapa kalau jauh Nico selalu mencarinya? Tetap saja, mata yang sudah mencari sampai sudut ruangan acara tidak menemukan sama sekali batang hidung milik gadis itu.
Mungkin dia gak datang, pikir Nico dan kembali lagi menyeruput minuman bersoda di cangkir yang sepertinya ingin habis.
"Tes tes, 1 2 3" Maya berdehem menandakan kesiapannya. "Sebenarnya gue gak mau berduet sama kambing buluk kayak Alfi. tapi karena Nico gak mau duet sama gue, jadinya sama kambing congek begini."
Semua pasang mata menepatkan pandangannya pasti ke arah sumber suara.
Grubuk! "Ih bego," lengkingan suara dari pintu masuk. Otomatis semua pasang mata memalingkan pandangannya ke situasi yang benar benar sangat memalukan.
Nico hanya diam, meneguk habis coca colanya. Mampus jatoh, ledek Nico dalam batinnya.
Tassia merapihkan dress nya yang kini sudah amburadul dalam keadaan jatuh duduk. malu banget gak sih, lagi acara begini malah masuk ke selokan depan gerbang? Udah mana di lihat semua lagi. Tassia, tahan malumu.
"Cha, lo malu maluin ih."
"Gue gak tau kalau si kemal nyediain selokan," bisik Tassia dengan lototan. "Malu maluin banget gak sih gue?"
"Sumpah cha, demi apapun lo bikin malu,"
"Ish brengsek," umpat Tassia seraya berdiri.
Tassia mengumpatkan wajahnya dengan sling bag yang digunakan. Kaki Tassia terus berdenyut nyeri, padahal hanya nyeblos ke selokan kecil yang dalamnya sih tidak seberapa, tapi birunya di mana mana. Betis, punggung kaki. Nyiksa, mending juga Tassia gak usah datang kalau begini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Teen Fiction[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
