Pamit. Bisakah kata itu di awali kebahagiaan lalu tidak diisi oleh ke rinduan yang akan berganti menjadi kecemburuan?
-aku, Tassia.
LIMA PULUH SEMBILAN
❄❄❄
Kedua mata indahnya sudah mulai redup. Lama kelamaan kalau saja tidak ada ocehan bu Made di sampingnya yang selalu membahas permasalah seni di Negara ini pasti Tassia sudah terlelap dan damai dalam mimpinya. Tapi ini tidak, ocehan bu Made hanya sebagai dongeng tanpa tidur.
Rasanya pikiran Tassia terus berterbangan mencari kabar Nico. Lagi lagi dan entah sudah yang keberapa kali Nico tanpa kabar seperti ini.
Khawatair bukan main yang memenuhi pikiran Tassia saat ini. Lantunan musik jazz yang sengaja di setel bu Made tidak mampu menenangkan pikiran Tassia. Gadis itu menoleh dan melihat ramainya Jakarta hari ini yang memenuhi pengelihatannya tetapi dibatasi kaca mobil.
Gadis itu menoleh ke bu Made yang berada disampingnya. "Bu? Kira kira kalau macet gini sampai stasiun berapa jam?"
"Ibu bukan peramal sayang. Tapi kira kira bisa kurang lebih dua sampai sampai jam lah." ujar bu made yang terdengar cukup tenang menghadapi macet ibu kota. "Kenapa memangnya? Kamu belum makan?"
Makan? Gadis manis itu langsung teringat kotak nasi miliknya yang tadi pagi di berikan Rega. Tassia meraih tasnya mencari kotak nasi yang sempat ia masukan kedalam tas. Ketemu. Walaupun hatinya sedang hancur karna Nico, tapi hanya dengan sekotak bekal saja senyum manisnya kembali muncul.
"Oh bawa bekal," ucap bu Made.
Tassia tersenyum lalu beralih membuka kotak bekal yang isinya dari Nico. Isi dari bekal itu lengkap dengan buah dan sayuran, sampai rasanya Tassia terharu betapa seamangatnya Nico meluangkan waktu demi membuat ini.
Tassia langsung memakan nasi goreng bekalnya itu dan menawarkan kepada bu Made, tapi bu Made menolak. Baiklah, Tassia akan makan sendiri bekal ini. Rasanya tidak kalah dengan penampilan. Apa mungkin ini benar yang memasak adalah Nico? Atau bibinya?
Tanpa memikirkan yang aneh aneh. Dengan lahap Tassia memakan nasi goreng itu. Selesai menyantap makanan, Tassia kembali memeriksa notif ponselnya yang tidak ada notifikasi spesial dari Nico. Ibunya sudah menelpon Tassia sebelum Tassia berangkat. Jadi sekarang hanya tinggal Nico yang belum menghubunginya. Sekarang, boleh sakit hati?
Sesampainya di stasiun niat Tassia untuk mengurung menglihatannya mencari keberadaan orang itu, ya siapa lagi kalau bukan Nico? Kelihatannya Nico juga tidak akan menghampiri Tassia untuk mengucapkan pamit. Lebih baik Tassia segera masuk ke dalam kereta.
"Tassia, kamu mau duduk dimana? Dekat jendela? Ayo dong cepat masuk jangan diam disitu. Mikirin apa sih?"
"Maaf ya bu, hehe." Tassia mengikuti instruksi Bu Made agar segera duduk. Tassia memilih duduk di dekat jendela. Apapun itu, dekat jendela adalah tempat favoritenya.
Tassia berusaha duduk dengan rileks, ia menyandarkan punggungnya di kursi. Ponselnya bergetar, satu pesan masuk. Nama yang di tunggu akhirnya terdengar kabarnya.
Lihat keluar, maaf saya telat.
Tanpa sempat membalas pesan singkat dari Nico, Tassia langsung menegakan tubuhnya, matanya langsung mengedarkan pandangan keluar kereta. Di luar sana ada cowok dingin miliknya memakai jaket sederhana dengan kaos putih polos dan celana sedengkul. Memakai kacamata hitam, ya Nico memakai kacamata hitam untuk menutupi lebam pada matanya yang belum juga sembuh. Dan semua lebam pada tubuh Nico, sayangnya Tassia tidak mengetahui. Jadi seulas senyum tanpa kekhawatiran terlukis indah di wajah manis Tassia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Senior✔
Novela Juvenil[Completed] Kalian tahu rasanya memperjuangkan seseorang tapi yang diperjuangkan sama sekali tidak mengerti artinya perjuangan? Dua orang yang selalu bertolak belakang. Tassia menyukai keramaian, heboh dengan dirinya sendiri, selalu punya teman bany...
