Dimulainya Kerumitan

7.5K 251 5
                                        

"Mungkin dulu hanya aku yang menganggap persahabatan ini ada, sedangkan kamu? Tidak ku rasa."
_Elmi Ayudia_

***

Pagi ini begitu cerah karena tumben aku berangkat ke kampus namun tak perang dingin terlebih dahulu dengan Mama. Biasanya, Mama itu selalu mempermasalahkan kegiatanku di kampus yang menurutnya hanya merepotkan dan menyita banyak waktu.

Tapi, aku senang jika ada kegiatan di kampus kami. Lebih tepatnya sih, aku bahagia bisa bertemu dengan keluarga keduaku. Yaa, para sahabat-sahabatku.

Ada kak Irshad yang kerap di panggil Aa sama kita-kita, dia kebetulan dari tanah Sunda. Dia adalah kakaknya kami. Dia selalu membimbing kami dalam menjalankan tugas di kampus ini.

Ada Azam juniorku, dia sosok pembawa keceriaan, orangnya lucu namun kadang nyebelin. Dia adalah orang kedua yang bisa memelukku setelah kak Irshad. Aku bingung tapi setiap dia nyender di bahuku, menggandeng tanganku, aku merasa tak canggung, bukan karena dia junior juga, umurku hanya berbeda satu tahun dengannya. Apa karena sudah sangat dekat ya? Dan satu info lagi, Azam itu sedikit cucok alias melambai.

Haha..

Apa karena itu aku merasa biasa saja. Apa aku ngerasa kalau kita ini sama-sama perempuan, mangkannya kami biasa saja. Entahlah pusing juga jika dipikirkan.

Lalu.. ada Riva, dia ceesnya aku dan Azam, aku sangat dekat dengannya, bahkan aku juga sudah dianggap keluarga olehnya. Mungkin itu alasannya kenapa aku selalu nebeng sama dia.

Hahahaha.. Riva itu satu-satunya sahabat yang pengertian.

Aku jika sudah gabung bersama Azam dan Riva selalu buat rusuh dikegiatan. Mangkannya, aku sama tuh bocah dua tak pernah dibarengin kalau lagi kerja. Dan masih banyak lagi lah sahabat-sahabatku, dari junior sampai yang seangkatan.

"Yang! lagi ngapain sih? sibuk bener!" tanya ku sambil mengalungkan tangan di belakang leher Azam yang tengah sibuk mencari-cari berkas. Entah berkas apa?

"Azam lagi nyari proposal teh," jawab Azam tanpa melihatku.

Info saja, Azam memanggilku dengan sebutan Teteh karena dia Junior. Jadi, biar sopan semua Junior harus manggil Kakak ataupun Teteh kepada seniornya.

"Ih cerobohnya kamu, Aa tau pasti marah lho,"

"Udah tau! Aa marah sama Azam," jawabnya dengan raut wajah yang di sedih-sedihkan. Pengen ngakak dah.

"Aa nya di mana sekarang?" tanyaku akhirnya dan mulai melepaskan tangan ini yang berada di leher sahabat aku itu.

"Noh di ruangan sebelah, ih berkasnya di mana sih?" teriak Azam yang mulai frustasi sebab tak menemukan apa yang ia cari-cari.

"Meneketehe Yang, aku ke Aa dulu deh! Bye!" ucap ku sedikit terkikik, lalu berlalu meninggalkan Azam yang tengah sibuk mencari proposalnya.

"Ih bikez! Orang mah bantuin kek, dasar gak peka! gak heran kalau jomblo!"

"Gue denger lho, Zam.."

"BODO!" kata pria itu sewot, aku hanya terkekeh. Senangnya membuat Azam dalam mode sewot pagi-pagi buta.

***

Aku berjalan sendiri menuju ruangan tempat khusus kita breefing sebelum kegiatan. Kenapa hanya sendiri? jawabannya, karena si Riva sudah duluan ninggalin aku. Kurang asem banget kan tuh anak!

Tenang tenang aku jalan menuju ruangan tersebut, tiba-tiba mata elang ini menangkap sosok yang selalu aku hindari selama ini.

Oh My God.

Iya, dia Rady! Rady Mahaputra. Dia Sahabatku. Sahabat dekat selama di kegiatanku dulu. Tapi dia berubah setelah memutuskan keluar dari kegiatan. Awalnya, dia berjanji untuk tidak berubah tapi semakin hari kami jarang bertemu, apalagi sekarang dia mempunyai kekasih satu jurusan sama denganku dan mau tak mau dia harus menjaga jarak dariku. Dengan alasan dia yang tak mau membuat pacarnya cemburu.

Yaa, aku terima saja. Tapi aku juga tak bisa mengelak bahwa aku merasa sakit saat dia lebih memilih kekasih nya orang baru dibanding aku sahabatnya orang lama.

Aku juga merindukan sosok Rady yang begitu perhatian padaku. Sungguh! aku rindu.

"Si Elmi berubah ya? gak kenal gue sama si Elmi yang sekarang." Itu bukan Redy yang berbicara melainkan Si Rafi temannya, Rafi juga sempat menjadi temen aku walau tidak lama.

Rafi Atmaja. Dia itu orangnya busuk, dia hanya baik di depan. Tapi, di belakang dia berusaha menjatuhkan ku dan teman-teman. Dia berusaha menggagalkan semua kegiatan yang kita laksanakan di kampus ini. Mungkin dia dendam masih ingin mengikuti kegiatan tapi kami semua tak menerimanya. Dan satu lagi Rafi itu orangnya sombong dan aku sudah bener-bener muak dengannya.

"Rafi, kangen gue yang dulu? Gue Elmi yang sekarang ya bukan Elmi yang dulu. " Jawab gue sengit seraya tersenyum sinis ke arahnya.

"FUCK!" balasnya sambil menunjukan jari tengahnya ke arah muka ku, merasa geram aku tepis tangannya yang berada tepat di depan muka ini dengan sangat kasar.

Dasar Bajingan!

"Santai dong, pe-cu-ndang!!!" timpal ku santai seraya menekan perkataan dikalimat Pecundang. Aku sudah benar-benar muak dengan sikap si Rafi, aku merasa tak takut dengannya.

"Lo berani sama gue?" Rafi maju ke arah ku tapi langkahnya ditahan oleh Rady.

"Udah Fi, apaan sih lo!" Ucap Rady tanpa melihat sedikitpun ke arahku. Rasanya itu sakit. Aku merasa benar-benar tidak dianggap lagi.

Rad gue kangen sama lo.

"Liatin aja apa yang bakal gue lakuin sama lo," ucap Rafi penuh amarah.

"Udah!" Ucap Rady sekali lagi. Pria itu mencoba menahan si pecundang itu untuk tidak mendekat ke arah ku di bantu dua temannya di sana.

"Gue nggak pernah takut sama yang namanya Pecundang sayang.." ucapku menantang. Rafi hanya tersenyum penuh arti, sepertinya ada yang akan dia rencanakan setelah ini. Tapi-

"Dan lo~" Tunjuk gue ke arah Rady. "Nggak usah sok care sama gue.. "

Dan setelah mengatakan itu, aku langsung berlalu pergi meninggalkan para pecundang itu. Ada rasa takut setelah mengatakannya. Namun, aku berusaha tenang. Toh aku tak pernah melakukan hal yang salah.

Oh Tuhan.

Apakah ini pertanda awal kesialanku dimulai. Aku takut, benar-benar takut Tuhan!

***

Perhatian! Hanya berapa part yang sudah direvisi.

Salam cinta
Ncess

Touch Love (COMPLETE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang