Slow Lane 9 - A small feeling

87 5 0
                                    

"Enak rotinya, nak? maaf ya kita disini belum bisa makan nasi goreng lagi, karena disini nasi lumayan jarang..," ucap Papa gue di meja makan saat kami sedang sarapan pagi.

"Enak Pa, gapapa kok, aku bisa makan roti," kata gue sambil mengunyah, menikmati sepotong dua potong roti.

"Mau tambah? mau cobain pavlov nya buatan granny Ro nggak? enak, dari buah buahan."

"Hah? pavlov? apaan tuh?" tanya gue kaget dan kebingungan.

"Itu... dessert khas kiwi." jawab Papa kalem sambil mengoleskan selai lagi pada roti yang dia makan.

"Hah? kiwi?" sahut gue lagi, semakin kebingungan.

"Kiwi itu sebutan buat orang orang selandia baru nak," jawab Papa menjelaskan secara singkat kepada gue.

"Oh.... ngerti – ngerti," angguk gue setelah gue mengerti, haha! satu hal baru lagi yang gue pelajari.

"Iya.. mereka dipanggilnya kiwis, kayak kalau di new york, mereka dipanggilnya new yorkers," sanggah Papa memberikan penjelasan tambahan kepada gue.

"Oh... iya betul, kalo yang new yorkers, aku inget itu Pa," jawab gue setelah ingat akan sesuatu yang berasal dari kepala gue. — "Pa.. granny Ro kalau makan nggak ada suaranya ya, hihi." kata gue lagi dengan nada yang iseng.

"Iya tuh... ngunyah makanan nya pelan banget, maklum lah nak, dia sudah tua..." beber Papa menjelaskan lagi.

Saat kami bertiga sedang sarapan pada pagi itu, Papa bilang dia juga kangen sama Ibu... padahal baru beberapa hari yang lalu kami berdua bertemu Ibu. Hehe, hehe, ternyata nggak cuma gue yang kangen sama Ibu.

Satu hal lain yang harus gue relakan dari Indonesia di pagi hari itu adalah... kartun doraemon dan kenangan akan film Saras 008 nya, dan juga sinetron tersanjung, yang dibintangin sama om Arie Wibowo, gue suka menonton acara acara itu, dan tersanjung 2 sampai dengan 3 dan seterusnya itu, juga gue tonton..

Asli deh, rame banget itu sinetron, dan lagi lagi sih yaaaa, nggak kayak sinetron jaman sekarang, yang udah hampir jarang sekali gue nikmati. Kalau dulu artis sinetron nya benar benar kolektif, jadi benar benar artis yang memang jago main sinetron nya. Kalau sekarang jujur, gue agak kurang paham sama artis artis nya, berikut juga teman gue yang ngomong begitu di saat kami berdua sedang menulis tentang kisah dari masa kecil gue ini.

Oh ya, ngomong – ngomong, banyak hal yang belum gue deskripsiin tentang beberapa tempat disini, di rumah ini, kayak dining room tempat kami bertiga sarapan waktu itu, dengan cahaya matahari pagi yang tembus melalui jendela dan tirai – tirai nya.

Menghasilkan bayangan di bagian dalam rumah ini, menemani kami bertiga berbincang ringan atau bahkan tertawa kecil, saat gue juga melihat Papa sedang berusaha membuat bahan untuk kami tertawa, apa ya istilah simpelnya, nge lawak.

*Now Playing – Arcade Fire – Song on the beach*

Setelah selesai memakan sarapan pagi, gue masuk ke kamar Papa, membuka koper bawaan gue, mengeluarkan, dan merapihkan beberapa barang yang udah gue bawa dari Bandung, nggak banyak, hanya yang penting² aja.

Entah kenapa... setiap kali gue melihat dari jendela kamar Papa, dengan pemandangan padang rumput nya yang hijau dan luas, dari dalam kamar ini... gue selalu menerawang jauh... seperti terkunci, seperti hadir sebuah perbedaan baru yang tumbuh, meski kecil, ia ada di dalam hati gue, dan dalam hati, gue berharap pada saat itu...

Perbedaan ini tumbuh dan bisa berdamai dengan hati gue... dengan kerinduan kerinduan gue akan tempat asal gue... dengan segala macam kenangan yang gue tinggalkan di kota Bandung. Saat itu.... gue berdoa dalam diam, kepada Tuhan yang mengatur seluruh semesta, karena gue percaya bahwa Tuhan itu ada dan mengatur semesta yang begitu indahnya ini, hahaha, sebuah pujian untuk Tuhan.

Dengan banyak hal GILA seperti keajaiban didalamnya, beeegitu menyenangkan nya bahwa gue bisa diberikan kesempatan untuk hidup dan lahir ke dunia yang diciptakan nya ini.

Hari itu bener² indah, bro. Hari dimana sebetulnya gue sadar sebagai seorang anak kecil, kalau sebenernya udah bisa hidup dan bernafas aja, itu udah nikmat banget.... apalagi dengan posisi seperti gue begini, rasanya, masalah nggak jadi halangan bagi gue buat tetap menikmati setiap jengkal dalam kehidupan gue...meski Papa kadang jarang sekali bertemu dengan gue, dan sekarang, meski gue harus jauh dulu dari Ibu, dari temen² gue di Taruna Bravo, dari Ibu gue tercinta.

Tapi gue yakin kok, gue bisa memulai sesuatu yang baru, disini, di tempat ini, di Mangakakahi.. dan tanpa kerasa.... tahun demi tahun sudah berlalu...

Gue mengingat ini... sebagai memori dari masa lalu... rumahnya... pemandangan nya... cahaya matahari nya.... senyum mereka semua.... masing masing senyumnya.... warna bola mata mereka yang cerah cerah.... dialek mereka yang khas... karena mereka bukan orang Indonesia.

Dialek itu, yang selalu membuat gue kebingungan di awal ketika mendengarnya.... baiklah, semoga nanti kita akan bertemu lagi, di surga milik Tuhan yang maha kuasa.

Doyan Cewek, I Am A Boy!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang