Epilog

76.4K 5.7K 567
                                        

Tuing, tuing....

Masih adakah yang mampir-mapir manjah di lapak ini?

Nunggu ektra part?

Yuhu, gengs, ini dia extra partnya. Silahkan tinggalkan vote dan komennya.

*** 

         Cuaca sore sangat cerah, matahari menyengat ditambah hembusan angin yang kencang. Susunan gedung-gedung pencakar lagit di seluas Ibu kota memanjakan penglihatan dari atap gedung paling tinggi di antara gedung-gedung lainnya.

Di sana, seorang anak remaja sedang memandang lurus tanpa eksresi. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celana jeans berwarna hitam yang dipadukan dengan kaos putih dan kemeja navy tanpa dikancing.

Entah sudah berapa lama dia berdiri di atap gedung tersebut. Yang pasti cuaca menyengat itu tidak menurunkan niatnya untuk segera berlindung. Sekarang bayangannya sudah lebih panjang dari pada ukuran tinggi badannya. Awan yang tadinya berwarna putih cerah perlahan-lahan berubah kemerah-merahan.

"Woi, anjing, tunggu semua kumpul dulu!"

Suara teriakan dari belakang mengembalikannya ke alam sadar. Tiga orang remaja menghampirinya sambil merangkul heboh.

"Ck!"

Namun decakan itu tidak berati apa-apa.

"Gila, kalau lo loncat ke bawah, badan lo hancur, bre." Stef menggeleng dramatis.

"Gue nggak mau datang ke pemakaman lo!" Barta bergidik ngeri.

"Gue nggak mau ngakuin lo sebagai abang gue!" Romeo tidak ketinggalan. "Macem nggak ada cara yang lebih elit aja."

"Sialan!" Kevin berdecak.

"Lo udah bikin surat wasiat?" Stef mengerutkan dahi. "Jeep lo buat gue, ya!" Pintanya tidak tahu diri.

"Apartemen lo buat gue." Barta tersenyum lebar.

"Semua warisan perusahaan lo buat gue." Tambah Romeo tergelak senang.

"Gue bukan mau bunuh diri, anjing!" Kevin kesal dan dijawab gelak tawa oleh teman-temannya.

"Vin, jangan mati dulu. Adek bayinya Phoebe belum lahir." Cegah Queensha dari belakang. "Kamu mau kan nunggu adek bayinya lahir? Habis itu, terserah kamu. Nggak apa-apa kok kalau kamu mati duluan. Kita ikhlas."

"Siapa yang mau bunuh diri, Queensha?!" Teriak Kevin marah.

"Kamu." Jawab Queensha dan Phoebe barengan dan semangat. Nina tidak bisa menahan senyumnya, kedua cewek yang baru datang dengannya tersebut membuat kehebohan sejak ketiga cowok sambleng itu mengumumkan tentang Kevin dan Citra.

"Kata siapa?"

"...Barta, Romeo dan Stef." Queensha dan Phoebe saling mengangguki.

"Makanya mereka duluan ke sini, katanya kamu mau loncat dari atas." Phoebe menambahkan dengan semangat.

Kevin mendelik pada ketiga temannya yang dibalas kikikan geli. Di belakangnya lagi, tiga orang laki-laki berseragam membawa meja box beroda empat. Sebuah meja lipat kecil diletakkan di tengah-tengah mereka, disusul minuman kaleng dan makanan kecil. Selanjutnya kursi lipat kecil disusun mengelilingi meja tersebut.

"Makan dulu lah sebelum mati, Vin." Kikik Barta tengil.

"Mending kalian pulang. Gue nggak butuh kalian di sini." Jawab Kevin, tak urung mengikuti teman-temannya menduduki kursi masing-masing. Dia juga menerima minuman kaleng yang dilempar oleh Stef.

EX [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang