Tepat tadi sore kau mengirim pesan lewat WhatsApp, dengan berisi sebuah kata untuk aku tidak mengganggu nya lagi.
Jika kau sudah benar-benar bahagia, aku pun senang mendengarnya. Aku sudah menemukan kebahagiaanku sendiri, yaa bersamanya. Mungkin aku dengan dia hanya teman saja, lebih tepatnya friendzone.
Dia orangnya lucu, menggemaskan, aktif dalam bersosialisasi. Orang tuaku senang dengannya. Teman-temanku menyarankan ku untuk memilikinya.
Hai sobat, dengar. dia sudah punya pasangan, jika aku merebutnya dari pasangannya itu. Bukannya tidak ada bedanya sama si perebut pacarku kemarin?.
Aku bahagia dengannya walaupun ada kata teman didalamnya. Ketika dia pergi, kau selalu menghiburku, kadang setiap malam kita bertelfon sampai berjam-jam.
Kau bahagia dengan diperebut, dan aku juga bahagia dengannya.
Cukup miris bukan, ada kata teman didalamnya.
***
Lakukan apa yang membuat mu bahagia, selagi tidak ada luka didalamnya. Jalankan saja.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Bangkit Dari Keterpurukan
PoesiaBangkit dari masa lalu yang menghantui pikiran, dan kenangan. Fase dimana dari awal saya terpuruk menjadi bahagia seperti sekarang. Semua tergantung masing-masing orang. Ingin bertahan tetapi disakiti atau melepaskan Demi kebahagiannya. Tuhan tidak...
