Dua tahun lalu, bulan ini menjadi saksi bisu pertemuan kita via social media. Lalu aku dan kamu bersama. Hubungan berjalan mulus dan lambat laun rasa bosan menghampiri satu sama lain. Kabar baiknya, aku mampu melawan rasa bosan itu. Lalu, kabar buruknya kamu terikat oleh pria lain.
Dengan mudah menghempaskan. Bukan aku saja yang kamu hempaskan, tapi hati tak lupa kamu remukkan. Kamu melukaiku dengan hebat, dan menghancurkan ku dengan sangat. Perpisahan ini t'lah menjadi pelajaran berarti.
Bagaimana kabarmu? Kabar laki-laki itu? Kurasa ia sudah melakukan tugasnya dengan baik. Bukannya aku tidak dewasa karna tidak bisa berteman denganmu. Lebih baik kita tidak mengenal satu sama lain. kita sudah asing, aku tidak ingin karna hadirnya aku sebagai temanmu menjadi hal yang menakutkan baginya. Itu keputusan bulatku. Menjauh.
April adalah bulan kebahagian, sementara agustus adalah akhir dari kebahagiaan itu. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan kamu, atau pria sialan itu. Mungkin, aku terlalu egois memaksamu tetap bersamaku. Bukankah cinta dua insan yang saling mencintai? Sementara waktu lalu hanya aku yang mencintai, hahaha persetan!
KAMU SEDANG MEMBACA
Bangkit Dari Keterpurukan
PoetryBangkit dari masa lalu yang menghantui pikiran, dan kenangan. Fase dimana dari awal saya terpuruk menjadi bahagia seperti sekarang. Semua tergantung masing-masing orang. Ingin bertahan tetapi disakiti atau melepaskan Demi kebahagiannya. Tuhan tidak...
