Kita berbeda pilihan

242 7 0
                                        

Aku mencintaimu.
Semoga dari tulisan ini dapat kau pahami seutuhnya, bahwa ada mata yang enggan kau tatap, suara yang enggan kau dengar, tangan yang enggan kau genggam, dan hati yang enggan kau rasa. Padahal kau dulu sempat membanggakan aku (dulu).  Namun, rasanya tak pernah kemana-kemana. Selain kearahmu.

Sebab ada yang tak bisa ku pungkiri. Bahwa kepadamu lah aku merasa menggilai seseorang sampai pada titik dimana aku tidak tau bagaimana caranya untuk berhenti.

Tapi, mengapa kepadaku kau selalu bisa untuk bersikap bahwa seolah-olah tidak ada apa-apa?

Kau malu mengakuiku?
Kau berpura-pura terhadapku?
Kau menjaga hati seseorang yang lain?
Atau dihidupmu memang aku hanya sebagai wahana permainan?

Sudah, jawab saja!!!

Segala ketakutan ku adalah hal-hal yang bisa kupertanggung jawabkan dari mana asalnya. Tidak sepertimu kamu, yang selalu bersembunyi untuk bermain aman. Pandai memainkan kata hanya untuk mengembalikan rasa tenangku.

Dasar, pengecut!

Tololnya aku, aku masih sering terbedaya dengan janji yang itu-itu saja. Air mataku kau buat basah, kering dan selalu seperti itu tak berubah.

Aku benci ketika menyadari betapa seseorang yang membuat hatiku tak bisa berpaling.

Namun, aku sadar.
Sangat tidak adil kurasa jika hanya diriku yang mempertahankan mu, dan disaat bersamaan kau sedang mencoba untuk melepas.

Baiklah, aku bisa, aku pasti bisa.
Lihat saja nanti, jangan menyesal ya.

Padahal, kita adalah dua orang yang sama-sama memilih untuk bertahan. Namun bedanya:

Aku bertahan untuk tetap bersama mu. Dan kau bertahan dengan keputusan meninggalkan ku.

Karena memang saat ini aku sedang hancur lebur, remuk, redam, luluh lantak. Tapi aku tidak boleh hilang dan terkubur di dalamnya. Karena aku yakin, diluaran sana pasti ada seseorang yang mampu menghargai keberadaan ku dan membuatnya tak pernah berhenti untuk berdoa.

Baiklah tuan/puan.
Sekarang diputuskan untuk menjalani takdirku sendiri. Melapangkan dada dengan apa yang sudah seharusnya kuterima dan berbesar hati untuk segala sesuatu yang memang telah ditentukan bagiku.

Karena "iya-iya nya" diriku.
Bisa jadi "tidaknya" Tuhan.

Bangkit Dari KeterpurukanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang