Bab 7 - Pria Kurang Ajar Menyebalkan

1.9K 234 9
                                        

Bab 7 - Pria Kurang Ajar Menyebalkan

"Pantas aja Kakak nggak seheboh biasanya. Nggak ada pengawal-pengawal rese yang ngikutin aku sampai ke pabrik juga. Kakak bahkan nggak nawarin aku kerja di kantor," Dera langsung berbicara dengan nada bermusuhan begitu melihat kakaknya di ruang tunggu kantor pabrik itu.

"Maaf, saya permisi dulu, Pak," Fina bergegas pamit, merasa tak nyaman dengan situasi itu.

Raka bahkan tak mengelak dan hanya mengangguk. "Seenggaknya, di sini, Kakak masih bisa jagain kamu."

Dera mendengus tak percaya. Tentu saja. Rumah yang ia tempati sekarang, kenapa berada di sana, tentu bukannya tanpa alasan. Dera yang bodoh karena tidak memikirkan itu sejak awal.

"Justru karena Kakak, Dera bisa kena masalah. Tapi ... ini bukan nepotisme, kan?" sebut Dera curiga.

Raka tersenyum, menggeleng. "Pabrik ini emang lagi butuh karyawan."

"Dan alasan Kakak setenang itu bahkan setelah aku masuk di pabrik ini ..."

"Nanti juga kamu tahu sendiri," sela Raka mantap. "Kakak cuma mau mastiin kamu baik-baik aja selama di sini. Minggu depan, Kakak bakal balik ke sini lagi. Angga sama Dimas juga pasti ikut. Mereka udah heboh mau cepat balik habis Kakak ngabarin kalau kamu mulai masuk kerja hari ini."

Dera memutar mata. "Terserah Kakak, deh. Tapi yang jelas, aku kerja di sini bukan cuma buat main-main."

Raka mengangguk. "Kalau ada masalah, kamu bisa nyari Fina dan ..."

"Aku baik-baik aja, Kak. Kakak nggak perlu khawatir," Dera menekankan.

Raka tersenyum. Ia lalu menghampiri Dera, memeluknya. "Kakak pulang, ya? Kalau ada apa-apa, langsung telepon Kakak. Bahkan meski besok kamu ..."

"Oke, makasih, Kak," Dera memotong cepat. "Nanti pulang kerja aku telepon Kakak. Kakak hati-hati di jalan." Dera melepaskan pelukan kakaknya, memberikan ciuman ringan di pipinya. "Bye," pamitnya seraya melambai pada kakaknya yang sudah tergelak, sadar Dera mengusirnya tanpa kata.

Saat itulah, Fina kembali masuk.

"Oh, Bu Fina, saya titip adik saya, ya?" Raka berkata pada Fina yang mengangguk antusias, sementara Dera sampai memutar mata mendengarnya.

"Tolong perlakuin saya sama kayak karyawan lainnya aja," Dera meminta pada Fina.

Fina tampak ragu, tapi kemudian Raka meyakinkan,

"Iya. Begitu juga nggak pa-pa." Raka lalu menatap Dera. "Toh dia nggak bakal lama di sini," tambahnya, membuat Dera mendesis kesal.

Namun, Dera tak mengatakan apa pun dan berjalan ke pintu, hendak kembali ke pabrik, tapi Fina menahannya.

"Saya antar sa ..."

"Nggak usah, Bu, makasih. Saya udah tahu jalannya," Dera tak dapat menahan kesal dalam suaranya. Ia melempar tatapan jengkel pada Raka sebelum meninggalkan ruangan itu dan berjalan dengan wajah tertekuk kembali ke arah pabrik.

"Hari pertama udah dapat masalah sama HRD?"

Suara itu membuat Dera menghentikan langkah, mendongak, dan terbelalak mendapati pria yang sempat berbicara dengannya tadi sudah berdiri di depannya. Dan omong-omong, Dera belum tahu namanya.

"Ryan," pria itu berkata. "Namaku Ryan. Kamu ... Nadera?"

"Dera aja," ralat Dera.

Ryan mengangguk-angguk. "Dan itu ..." Pria itu mengedik ke balik bahu Dera.

Just Be You (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang