Bab 17 - Luka yang Dingin

1.7K 221 13
                                        

Bab 17 - Luka yang Dingin

"Damar kenapa, Kak?" tanya Tasya kaget saat ia membuka matanya pagi itu dan melihat wajah babak belur Damar.

"Berantem sama temannya kemarin," jawab Prita. "Kamu buruan mandi, ntar kan ada lomba," ia mengingatkan adiknya itu.

Tasya mengangguk. Namun, adiknya itu masih sempat mengomeli Damar,

"Kamu ngapain sih, berantem segala? Mau nambahin pikirannya Kak Prita?"

Damar mendecakkan lidah kesal, tapi tak membalas, pun tak berusaha membela diri. Tak ingin membuat keributan kemarin menjadi lebih besar lagi. Terkadang, untuk ukuran seorang anak berusia sebelas tahun, cara pikir adiknya itu lebih dewasa daripada anak-anak seusianya.

Begitu Tasya masuk ke kamar mandi, Prita menghampiri Damar untuk mengobati lukanya.

"Hari ini kamu nggak usah masuk. Nanti Kakak ke sekolahmu," Prita berkata.

"Kakak nggak usah ke sekolah juga nggak pa-pa," tukas Damar.

"Emangnya gurumu nggak ada yang mau ketemu Kakak dan ngelaporin tingkahmu ini?" kalem Prita.

"Damar berantemnya pas pulang sekolah, kok. Jadi, nggak ada guru di sekolah yang tahu," urai anak itu.

Prita menghela napas berat. "Apa pun alasannya, jangan diulangi lagi, Mar."

Damar tak segera menjawab. Kepalanya tertunduk.

"Damar?" Prita meminta, menunggu.

"Tapi, kalau mereka nyinggung masalah keluarga kita lagi ..."

"Itu nggak penting," sela Prita. "Jangan peduliin apa kata orang. Yang penting tuh kamu, Kak Tasya, Kak Prita, kita bertiga, sampai sekarang masih bisa sama-sama."

Damar perlahan mendongak dan menatap kakaknya itu.

"Jangan dengerin omongan orang lain. Apa pun itu. Toh kita sendiri yang tahu kebenarannya. Dan lagi, teman-temanmu itu pasti iri ya, sama kamu. Kamu kan pintar, jago main bola, cakep pula," Prita berusaha menghibur adiknya itu.

Damar tersenyum geli, lalu meringis karena kesakitan.

"Makanya jangan bandel." Prita menempelkan plester yang baru untuk menutupi luka di ujung bibirnya.

"Maaf ya, Kak," ucap Damar pelan.

"Asal jangan diulangi lagi berantemnya ..."

"Bukan masalah itu," Damar memotong.

Prita mengernyit. "Trus?"

"Masalah kemarin ... pas Damar bilang Damar benci Kak Prita ... Damar nggak beneran benci Kakak, kok," aku anak itu.

Prita tersenyum. "Kakak tahu," jawabnya mantap.

"Kakak nggak marah?" tanya Damar hati-hati.

"Kakak marah gara-gara kamu bikin wajahmu babak belur kayak gini. Bikin malu, tahu. Dikiranya Kakak yang ngapa-ngapain kamu. Padahal Kakak bahkan belum sempat mukul kamu sekali pun," omel Prita sok kesal.

Damar tertawa pelan. "Damar sayang kok sama Kak Prita. Yang ini beneran."

Prita tersenyum. "Itu, Kakak juga tahu. Kakak juga sayang sama kamu," balas Prita seraya menjitak pelan kepala adiknya itu, membuatnya protes, yang dengan cepat berakhir ketika Prita meletakkan sepiring nasi dan telur kecap favoritnya.

"Besok Minggu kita ke Manahan, yuk?" ajak Prita tiba-tiba, membuat Damar seketika mendongak menatapnya.

"Apa, Kak?" tanya anak itu, masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Just Be You (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang