Bab 44 - Confession
Dera turun dari kamarnya membawa beberapa tas berlogo toko dari mall tempat ia belanja dulu, yang berisi pakaian yang ia beli untuk kakak-kakaknya. Ukuran tubuh Dhika sepertinya tidak jauh berbeda dengan kakaknya, jadi pakaian itu pasti akan pas untuknya.
"Ini masih baru, kok. Rencananya buat kakakku, tapi kamu tahu sendiri gimana hubunganku sama kakakku sekarang. Jadi, kamu bisa ganti baju pakai ini." Dera meletakkan tas-tas itu di meja di depan Dhika.
Dhika menatap Dera dan malah berkata,
"Kamu ganti baju dulu sana. Bajumu juga basah. Ntar kamu sakit."
Dera menggeleng. "Aku nggak pa-pa, kok. Kamu kan, yang kehujanan. Lagian, besok kamu masih kerja. Kamu besok lembur, kan? Jangan sampai kamu sakit gara-gara kehujanan," ucap Dera.
"Aku bisa ngurus diriku sendiri," Dhika berkata. "Kamu buruan ganti baju, Ra," desaknya.
"Aku juga bisa ngurus diriku sendiri," Dera membalas. "Makanya, ini kamu buruan ke kamar mandi dan ganti baju dulu."
"Aku ngerti, jadi kamu buruan sana ganti baju," Dhika berkeras.
"Iya, aku ..."
"Hello?" Suara itu datang dari Lyra yang duduk di sofa dengan santainya. "Aku juga di sini, anyway. Jangan trus nganggap aku invisible dong meski kalian udah baikan."
Dera mendesah pelan. "Kamu ngapain juga tadi ikut ke sini? Aku kan udah bilang, kamu bisa langsung pulang."
"Ck, ck, ck ..." Lyra mendecak seraya menggelengkan kepalanya. "Kamu tuh nggak bisa lihat situasi, ya? Nih, sekarang di luar lagi hujan deras, hawanya dingin, dan kalau aku nggak ikut ke sini, kamu cuma bakal berdua sama Dhika."
Dera menatap Lyra bingung. "Trus kenapa?"
Lyra menatap Dera seolah Dera barusan melemparkan pertanyaan paling bodoh sedunia.
"Ra, kamu cewek. Dia cowok. Di luar hujan. Dingin. Dan kalian cuma berdua di dalam rumah. Menurutmu?" Lyra mengangkat alis.
Sementara Dera masih tak mengerti maksud Lyra, Dhika terdengar kesal saat berkata,
"Aku bukan orang kayak gitu."
Lyra menyeringai saat menatap Dhika.
"Who knows?" Lyra mengedik santai. "Mempertimbangkan perasaanmu ke Dera ..."
"Di mana kamar mandinya?" Dhika menyela kalimat Lyra seraya mengambil satu stel pakaian dari dalam tas di atas meja.
Dera menatap Dhika sedikit bingung, tapi ia menunjuk ke samping dapur.
"Kamu kalau mau istirahat, ke kamarnya kakakku aja. Ada kamar mandinya juga," Dera berkata saat Dhika berjalan melewatinya.
Seketika, pria itu menghentikan langkah dan kembali menatap Dera.
"Istirahat?" Dhika menyebutkan.
Dera mengangguk. "Kamu bisa tidur atau cuma istirahat aja, ntar begitu hujannya reda baru balik. Atau besok aja baliknya kan nggak pa-pa. Besok bisa minjam seragamnya Ryan," ucapnya seraya tersenyum.
Dhika mendengus tak percaya, sementara Lyra tergelak.
"Dera ini polosnya kebangetan ya, Ka?" Lyra berkata pada Dhika yang sudah berlalu ke kamar mandi.
"Aku salah ngomong?" Dera menatap Lyra bingung.
Lyra tersenyum geli. "Nggak, sih. Tapi, tadi itu berbahaya banget. Untung aku tadi ikut ke sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Be You (End)
Fiction généraleTiga gadis muda dengan latar belakang berbeda, sama-sama sedang mencari tempat mereka di dunia yang kejam ini, dengan cara masing-masing. Dipertemukan di tempat yang tidak biasa, pabrik, kehidupan dan lingkungan yang keras harus mereka hadapi, denga...
