Bab 14 - Hurt
"Damar belum pulang, Sya?" tanya Prita heran ketika Damar masih juga belum tiba di rumah meski jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
Tasya menggeleng. "Tasya juga baru balik jam tiga tadi, cuma beberapa menit sebelum Kakak pulang."
Prita mendesah berat.
"Kenapa, Kak? Ada masalah di pabrik?" tanya Tasya.
Prita tersenyum pada adiknya itu, menenangkannya. "Kamu tumben jam segini udah belajar? Ada ulangan besok?" ia mengalihkan topik.
Tasya yang memang sudah memangku buku yang tebalnya bisa untuk memukul pingsan maling itu menggeleng. "Lomba Karya Ilmiah, Kak. Lomba terakhir masa SMP, nih. Dua minggu lalu kan. Tasya juga udah bilang, Tasya masuk final dan besok hari lombanya."
Prita dalam hati mengomeli dirinya sendiri karena melupakan hal penting itu, sementara Tasya masih tampak santai di depannya.
"Maaf, deh. Kakak beneran lupa," sesal Prita.
Tasya mengangkat tatapannya dari buku untuk tersenyum pada Prita. "Nggak pa-pa. Aku tahu Kakak sibuk kerja. Dan aku bakal berusaha keras buat lombanya besok. Hadiahnya buat juara satu banyak lho, Kak." Mata beningnya berbinar bersemangat.
Prita tersenyum. "Jangan mikirin hadiahnya aja. Apa pun hasilnya besok, yang penting kamu udah ngelakuin yang terbaik. Dan Kakak percaya, kamu pasti bakal ngelakuin yang terbaik," dukungnya.
Tasya tersenyum lebar. "Pasti lah, Kak. Adiknya siapa dulu," ujarnya bangga.
Prita tertawa pelan. "Semoga sukses buat lombanya besok ya, adik Kakak yang paling cantik," puji Prita.
Tasya tertawa, tampak senang. Ia mengangguk penuh semangat. "Makasih, kakakku yang paling bawel," balasnya, membuat Prita mendesis kesal, tapi ketika Tasya kembali tergelak, Prita tak dapat menahan senyumnya juga.
"Kakak buatin susu cokelat, mau?" tawar Prita seraya berdiri.
"Jangan susu, Kak. Ntar aku ngantuk," tolak Tasya. "Pisang aja. Kemarin Kak Prita kan habis beli pisang, tuh? Dikasih susu cokelat gitu."
Prita tersenyum. Favorit Tasya.
"Iya, iya," ia menurut. Namun, saat melewati Tasya, ia samar mendengar gumaman kaget Tasya,
"Eh?"
Prita menunduk, dan jantungnya seolah diremas tatkala melihat setetes cairan merah, darah, mendarat di atas kertas putih dengan ketikan rapi di pangkuan adiknya itu. Saat Tasya mendongak, gadis itu tampak panik mendapati Prita melihatnya. Dengan cepat ia menutup hidungnya.
"Nggak pa-pa, Kak. Udah biasa. Kalau kecapekan Tasya sering mimisan gini," adiknya itu berkata.
Berusaha untuk tidak panik, Prita mengambil tisu dan menghampiri Tasya, membaringkan adiknya itu di pangkuannya, lalu membersihkan darah di wajahnya.
"Kamu sering mimisan gini, Sya?" tanya Prita, berusaha untuk tidak cemas atau panik.
Tasya tersenyum. "Habis kegiatan di sekolah banyak banget. Mana Tasya ikut banyak banget ekskul sama lomba, kan," terang adiknya itu. "Belum kelas tambahan."
Prita mengangguk seraya menutup hidup Tasya dengan tisu yang sudah dilipatnya kecil. Ia lalu membersihkan tangan Tasya yang juga terkena noda darah.
"Kalau kecapekan, besok kamu nggak perlu ..."
"Nggak bisa, Kak," Tasya sudah memotong. "Ini lomba kelompok. Tasya sama dua teman Tasya. Nggak enak kalau nggak ikut. Orang ini idenya Tasya juga. Dan Tasya udah janji kalau Tasya yang bakal presentasi poin-poin pentingnya besok."
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Be You (End)
General FictionTiga gadis muda dengan latar belakang berbeda, sama-sama sedang mencari tempat mereka di dunia yang kejam ini, dengan cara masing-masing. Dipertemukan di tempat yang tidak biasa, pabrik, kehidupan dan lingkungan yang keras harus mereka hadapi, denga...
