Bab 45 - Another Confession
"Kamu marah? Sama dia?" Lyra tak dapat menahan nada geli dalam suaranya.
Dera meliriknya dengan dongkol sebagai balasannya. "Masih tanya?"
Lyra berdehem pelan, berusaha menahan senyum. Setelah Dera tahu tentang masa lalu Dhika minggu lalu, hubungan Dera dan Dhika sudah membaik. Dhika tak lagi menghindari Dera, bahkan mereka bertiga kini hampir selalu makan bersama saat jam istirahat. Namun hari ini, begitu Lyra masuk setelah ia libur hari Minggu saat shift malam kemarin, tiba-tiba Dera bersikap begitu bermusuhan pada Dhika. Sedikit tak ramah juga pada Lyra. Dugaan Lyra, kemarin dia pasti melewati hari yang berat. Sendirian.
"Salah dia apa, emang? Kemarin kan emang jadwalnya dia off. Aku juga kemarin nukar off karyawan lain," Lyra berusaha menerangkan. "Kamu kan, yang nggak mau ikutan off kemarin pas ada karyawan lain yang mau tukar juga."
Dera mendecakkan lidah kesal. "Iya, emang. Aku kemarin lagi semangat kerja aja. Dan aku sebenarnya mau marah juga sama kamu, tapi ntar kalau aku marah juga sama kamu, aku nggak ada yang nemenin, kan?" sungutnya.
Mendengar itu, kontan Lyra tak dapat menahan tawanya. Namun, ia segera mengakhiri tawanya tatkala Dera meliriknya tajam, kesal.
"Sori, sori. Habis kamu juga gitu, sih. Salah dia apa coba, kamu mendadak marah sama dia gini?" Lyra berusaha menjelaskan.
Dera merengut.
"Kemarin, berat banget, ya?" tanya Lyra pelan, simpati.
Dera mendesah berat, lalu bibirnya mengerucut. Kebiasaannya jika sedang kesal, atau kecewa.
"Bayangin aja, udah masuk shift malam, istirahat juga nggak sempat, dibantuin bawa plastik hampir delapan kilo ke ujung benua sono, capek to the max, eh malah dibilang, aku ini bisanya apa. Rese banget, kan? And top of that, I was all alone yesterday! Kalau emang tuh orang bisa semuanya sendiri, kenapa nggak dia aja yang ngelakuin semuanya sendiri?!" sembur Dera, tampak luar biasa kesal. "Nggak sekali-dua kali tuh orang kayak gitu ke aku. Sengaja banget bikin aku nggak betah. Padahal dia udah tahu siapa aku. Nggak takut dipecat apa?"
Lyra meringis. Memang, salah satu asisten mandor di sini agak sedikit keterlaluan, terutama pada Dera. Tepatnya setelah Dera sempat mengancam Yanti ketika dia menyiksa Dhika dulu. Lyra sendiri bisa melihat asisten mandor itu selama seminggu terakhir ini memang sengaja mengusik Dera. Ada saja hasil kerja Dera yang dia komentari tidak enak. Namun, Dera selalu mengabaikannya, karena Lyra dan Dhika ada di sampingnya kemarin-kemarin.
"Nggak sekali-dua kali juga, kan, kamu bisa nyuekin itu?" sahut Lyra.
Dera kembali meliriknya tajam. "And I've had enough."
Lyra mendesah pelan, mengangguk mengerti. "Sori, karena kemarin aku nggak ada di sini pas kamu ngalamin semua itu," ucapnya sungguh-sungguh.
Dera merengut. "Kamu, dia, sama-sama nyebelinnya. Bisa-bisanya ninggalin aku sendirian di tempat kayak gini."
"Oke, oke. Aku salah. Besok-besok kalau kamu nggak mau off, aku juga nggak bakal off, deh. Jadi, biar bisa nemenin kamu," Lyra mengalah. "Tapi, kalau cowokmu itu ..."
"Dia bukan cowokku!" sengit Dera.
"Oke, bukan," Lyra kembali mengalah. Mengingat betapa polosnya Dera, gadis itu mungkin tak sadar berapa banyak pengakuan tak sengaja yang ia lakukan, atau tunjukkan akan fakta itu. "Tapi, dia nggak bisa dibilang salah juga, kan? As you said, dia bukan cowokmu. Harus ya, dia stay di sampingmu meski dia bukan siapa-siapamu? Dan kemarin dia nggak masuk karena dia off, Dera. Kalau dia masuk. trus kecapekan, trus sakit, kamu juga nggak bakal ngerawat dia, kan? Tapi hari ini, tiba-tiba kamu bersikap dingin dan jutek banget ke dia. Dia nggak tahu apa-apa, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Be You (End)
Ficción GeneralTiga gadis muda dengan latar belakang berbeda, sama-sama sedang mencari tempat mereka di dunia yang kejam ini, dengan cara masing-masing. Dipertemukan di tempat yang tidak biasa, pabrik, kehidupan dan lingkungan yang keras harus mereka hadapi, denga...
