Bab 40 - I'll Protect You

1.7K 215 26
                                        

Bab 40 – I'll Protect You

Sejak kejadian di kafe beberapa hari lalu, Dera mendapati dirinya semakin jauh dari Lyra dan Prita. Sementara Epik dan karyawan-karyawan pabrik lainnya, kecuali Nuri dan Hayu, juga mendadak bersikap terlalu manis padanya. Beberapa kali Prita atau Ryan berusaha mengajaknya berbicara, tapi Dera sengaja menjaga jarak dari mereka. Apa mereka juga berpikiran sama dengan Lyra? Apa Dera juga merepotkan mereka?

Memikirkan itu saja sudah cukup membuat Dera terluka sekaligus marah. Ya, ia marah. Dan satu-satunya yang bisa ia salahkan adalah Dhika.

Apalagi ketika Dera tahu, Lyra melakukan ini pada Dera juga karena kakaknya menawarkan bantuan agar dia bisa masuk ke perusahaannya. Dera merasa terkhianati, lebih dari apa pun. Ia ingin marah pada Lyra, tapi tak bisa. Ia tahu bagaimana perjuangan Lyra untuk masuk ke perusahaannya. Dan ia sadar, ia telah sangat merepotkan Lyra. Ia tidak bisa menyalahkan Lyra.

Namun, tidak dengan Dhika. Seandainya waktu itu Dhika tak mengatakan hal-hal seperti itu pada Raka, tentu Raka tidak akan mendekati Lyra dan menawarkan kerja sama gila itu. Dera tahu Raka. Ia tentu tidak akan melewatkan kesempatan seperti itu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia bahkan menggunakan staf HRD untuk memindahkan Dera ke bagian packing mesin juga dulu.

Memikirkan kejadian itu lagi, mendadak Dera merasa kesal. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebentar lagi suasana pabrik akan sangat sibuk karena menjelang jam pulang. Dan yang paling sibuk, tentu saja karyawan bagian Umum. Dhika salah satunya.

"Ra, mau ke mana?" tanya Nuri saat Dera berjalan pergi.

Dera tak menjawab, tapi ia menghampiri timbangan, tempat beberapa sak plastik yang sudah dipak tertata di sana. Dhika juga ada di sana. Mengingat semua orang sudah tahu siapa dirinya, dan siapa kakaknya, kali ini tak akan ada yang menghentikannya.

Dhika mendongak ketika akhirnya menyadari kehadiran Dera di hadapannya. Pria itu tak mengatakan apa pun dan hanya menatap Dera.

Dera mendengus kasar, lalu ia menendang salah satu sak yang sudah dipak dengan rapi dan menumpahkan isinya ke lantai. Terdengar kesiap dan seruan kaget di tengah berisiknya suara mesin potong itu.

"Nadera!" Terdengar seruan Yanti dari sisi ruangan.

Dera memutar tubuh untuk menatap Yanti yang sudah berdiri di depannya.

"Jangan ikut campur kalau nggak mau kehilangan pekerjaanmu," Dera berkata dingin.

Yanti menatap Dera kaget. Mengabaikan keterkejutan mandornya itu, Dera melanjutkan apa yang dia lakukan tadi. Ia menumpahkan semua isi sak yang sudah ditata rapi itu ke lantai. Namun di depannya, Dhika bahkan tak berusaha menghentikan Dera. Sikap Dhika itu justru membuat Dera semakin marah.

Namun, ketika Dera menendang sak berikutnya dan baru akan menyuntakkan isinya ke lantai, seseorang menahan tangannya dan menariknya hingga ia berdiri tegak. Ryan.

"Apa yang kamu lakuin, Ra?" Ryan menatapnya tajam.

Dera mengangkat dagu angkuh. "Dia duluan yang mulai. Kalau dia udah buat aku susah, dia juga harus ngerasain itu. Karma does exist, right?"

Ryan menyipitkan mata tak suka.

"Kalau kamu marah sama Lyra, kamu bisa nyerang dia. Ngapain kamu nyerang Dhika kayak gini dan ..."

"Karena aku marah sama dia," sela Dera tajam. "Dia yang udah ngacauin rencanaku di sini. Dia tahu gimana aku berusaha bertahan di sini dan dengan mudahnya dia ngomong kayak gitu ke kakakku. Nggak cukup itu, gara-gara dia, aku juga kehilangan sahabat-sahabatku. Sekarang, aku udah kayak gini, kamu juga mikir kalau aku ini ngerepotin, kan? Kalau aku suka bikin ribut? Tapi, aku nggak peduli lagi sekarang. Dia yang udah buat aku kayak gini, jadi dia juga harus nerima itu semua."

Just Be You (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang