Bab 11 - Keluarga Kecil

1.8K 232 6
                                        

Bab 11 - Keluarga Kecil

"Kak, pas tujuh belasan ntar, Kak Prita bisa datang ke acara sekolahku, kan?" tanya Damar saat mereka makan malam itu.

"Acara apa emangnya?" Ryan yang memang malam itu ikut makan malam bersama mereka bertanya penasaran.

"Lomba, Kak. Sebenarnya sih sama orang tuanya, tapi kan aku adanya Kak Prita," jawab Damar. Anak itu bahkan bisa mengatakannya dengan riang.

Prita tersenyum kecil, merasakan sedikit rasa sakit di ulu hatinya karena ketegaran Damar bahkan meski kini mereka sudah tidak lagi memiliki orang tua.

"Oh, ya?" Ryan tampak tertarik. "Lombanya apa aja, tuh?"

Lalu Damar dengan semangat menceritakan tentang acara tujuh belasan di sekolah lamanya tahun lalu, dan bagaimana ia menang ketika mengikuti lomba badminton dengan Prita. Kebanggaan dalam suara Damar menyulut haru di dada Prita.

"Sebenarnya, aku pengen ikut pertandingan sepak bolanya, Kak. Tapi kan Kak Prita nggak bisa main bola," adu Damar. "Nah, ini di sekolah baru ternyata lomba tujuh belasannya juga acaranya sama keluarga gitu. Ada sepak bola juga, tapi Kak Prita ..." Damar menatap Prita, seolah menyalahkan, membuat Prita berdehem canggung.

Ryan tergelak. "Kak Ryan jago main bolanya," pamer pria itu kemudian.

"Serius, Kak?" Mata Damar berbinar. "Kalau gitu, pas acara tujuh belasan itu, Kak Ryan juga datang aja," undangnya gembira.

"Kak Ryan mungkin ada acara pas hari itu, Damar." Prita melepaskan Ryan dari kewajiban itu.

"Nggak, kok," tukas Ryan. "Ntar pasti Kak Ryan datang, Mar," ia memberi janji pada Damar yang sudah bersorak.

Prita tak dapat menahan senyumnya saat menoleh menatap Ryan yang dengan senyum lebar menyambut tos dari Damar. Suara dehem dari sebelahnya membuat Prita seketika menoleh. Dilihatnya Tasya yang sudah mengangkat alis, melirik Ryan sekilas, sebelum mendengus pelan.

Prita meringis. Adiknya yang satu ini benar-benar pengkhayal sejati. Dia memang pernah mengatakan pada Prita bahwa dia suka mengarang dan ingin menjadi novelis suatu saat nanti. Sekarang, sepertinya dia sudah menggambarkan ceritanya sendiri untuk Prita.

"Nggak usah mikir macam-macam," Prita mengingatkan Tasya pelan.

Tasya tersenyum geli. "Nggak pa-pa, Kak. Tasya setuju, kok. Orangnya baik."

Prita kontan melotot mendengar itu.

"Bisik-bisik apaan, sih?" Suara Ryan itu membuat Prita kontan menatap pria itu dengan canggung dan salah tingkah.

"Eh, nggak ... nggak pa-pa. Ini, Tasya bilang sambalnya pedas," dusta Prita.

Tasya tiba-tiba tertawa ketika Ryan mengangguk-angguk percaya. Ketika tatapan bingung Ryan terarah padanya, Tasya berdehem.

"Maaf, Kak. Tiba-tiba keingat hal lucu aja tadi," adiknya itu memberi alasan.

"Dia emang suka mikir aneh-aneh. Pengen jadi pengarang, tuh," ujar Prita.

"Novelis," Tasya meralat.

"Iya, novelis," Prita membeo.

"Wah, Kak Ryan mau dong, ditulis di novelmu, Sya," ujar Ryan antusias.

Tasya melirik Prita. "Tapi, ntar nggak boleh protes, dapat peran apa pun."

"Yang penting keren, sih," kata Ryan.

Tasya tersenyum geli. "Iya, lah. Kalau itu pasti. Kalau nggak keren, mana mungkin Kak Prita ..."

"Sya, tadi katanya kamu ada tugas Fisika?" Prita menyela cepat. "Sini, Kakak cek sekalian, deh."

Just Be You (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang