Bab 66 - Way Back to The Palace
Setelah orang-orangnya berhasil menjatuhkan para penjaga di pabrik, barulah Lyra masuk ke kantor pabrik itu. Lyra punya waktu setidaknya delapan jam, sebelum para staf kantor tiba besok pagi. Namun, hingga dini hari itu, Lyra tak menemukan apa pun di sana. Ia bahkan langsung terbang kemari begitu pulang kerja tadi dan mempelajari semua informasi tentang manajer yang bertanggung jawab di tempat ini, staf-staf kantor lainnya, juga rumor-rumor di pabrik belakangan ini.
Ternyata tuduhan korupsi padanya dulu itu bukannya tanpa alasan. Insentif bulanan yang memang sudah dijanjikan perusahaan tidak pernah sampai pada karyawan. Selain itu, ada tunjangan lain-lain yang juga tidak diberikan kepada karyawan pabrik.
Sejauh ini, dugaan Lyra jatuh pada manajer keuangan, tapi ia tak menemukan rekening gelapnya. Di rekeningnya, Lyra tak melihat adanya uang masuk dengan jumlah yang cukup besar. Pun pemasukan setiap bulannya juga stabil, sesuai penghasilannya.
Lalu, di mana semua uang itu? Insentif bulanan adalah hal yang dijanjikan Arman sebelum Lyra ditugaskan di pabrik ini. Dulu, Arman bilang dia sudah memastikan jika karyawan pabrik menerima insentif itu. Namun, kenapa tiba-tiba mereka demo dan menuduh Lyra korupsi?
Lyra membanting berkas di tangannya dengan kesal. Ia tak juga menemukan apa pun meski sudah mencari selama hampir empat jam terakhir. Lyra menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Ini memang tidak mudah. Seharusnya Lyra tahu.
Lyra akhirnya meninggalkan berkas-berkas itu dan berusaha mencari di laptop. Namun, sampai jam empat pagi itu, Lyra belum menemukan apa pun. Lyra harus menahan diri untuk tidak membanting laptop di depannya itu. Lyra mendecak kesal.
Ketika pintu ruangan itu tiba-tiba menjeblak terbuka, Lyra tersentak. Ia ternganga mendapati Erlan berdiri di sana. Apa yang pria itu lakukan di sini?
"Harusnya lo nggak ngelakuin rencana berbahaya kayak gini sendirian," Erlan berkata seraya menghampiri Lyra.
Lyra mendengus. "Jangan ikut campur."
"Kalau ada staf kantor yang tahu, mereka bisa ngelaporin elo ke kantor pusat. Lo tahu kan, lo bukan staf audit? Lo nggak bisa sembarangan ngelakuin ini bahkan meskipun elo putri Presdir Brawijaya, Lyr. Lo juga tahu kebijakan perusahaan lo yang satu itu," tandas Erlan.
"Kebijakan yang akhirnya bikin kita nggak bisa ngelakuin apa pun?" sinis Lyra. "Lihat aja ntar, begitu gue duduk di kursi direktur, bakal gue hapus kebijakan sialan itu."
Erlan tersenyum kecil. "Lo dapat sesuatu?"
Lyra tak menjawab dan malah balik bertanya, "Lo tahu dari mana gue ada di sini?"
"Gue tahu lo nggak bakal dapat apa-apa," Erlan menjawab pertanyaannya sendiri, membuat Lyra harus memejamkan mata untuk menahan teriakan kesalnya. "Gue tadi ngikutin lo, tapi gue nungguin di luar dan ngasih lo kesempatan. Karena gue tahu, lo nggak suka kalau gue ikut campur."
Lyra mendengus kasar. "Dan lo sekarang di sini, lagi ikut campur, kalau lo lupa," sinisnya.
Erlan mengangguk mengakui, lalu menyodorkan sebuah flashdisk pada Lyra.
"Apa ini?" sinis Lyra. "Jangan bilang semua dokumen yang gue cari udah ada di sini."
Erlan menggeleng. "Kalau gue ngelakuin itu, lo pasti bakal marah ke gue. Iya, kan?"
Lyra mendecih. "Trus, ini apa?"
"Sesuatu yang bisa bantuin lo. Buruan diinstal. Di situ ada program buat ngebalikin file yang udah dihapus dari Recycle Bin. Bakal susah sih nyarinya meski semua file bisa dibalikin. Tapi, gue yakin nggak bakal susah nemuinnya, toh nggak bakal banyak file yang harusnya dihapus, kecuali file yang seharusnya nggak dilihat tim audit perusahaan, atau elo," urai Erlan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Be You (End)
Ficção GeralTiga gadis muda dengan latar belakang berbeda, sama-sama sedang mencari tempat mereka di dunia yang kejam ini, dengan cara masing-masing. Dipertemukan di tempat yang tidak biasa, pabrik, kehidupan dan lingkungan yang keras harus mereka hadapi, denga...
