Bab 84 - Date For a Week
"Udah lama aku nggak ngerasain masakannya Prita," Lyra berkata seraya melahap ayam bumbu balado dan orak arik telur di piringnya.
"Kanada rasa rumah, nih," Dera berkomentar. "Dan ini enak banget."
"Kayaknya mending kamu buka restoran aja deh, jangan cuma kafe," usul Lyra.
Prita tersenyum dan menggeleng. "Aku lebih suka masak buat kalian daripada buat orang lain."
"Buat aku aja, Ta, nggak usah mereka juga," Ryan protes.
Sepanjang acara makan malam itu, mereka mengobrol santai, dan Lyra berhasil menyingkirkan penawaran gila Erlan tadi dari pikirannya.
Namun usai makan malam, ketika mereka pindah ke ruang tengah, sementara Prita dan Ryan tampak asyik melihat-lihat desain jadi proyek resort Lyra, dan Dera dengan Dhika sibuk dengan tab di tangan Dera, Lyra yang tadinya sedang memeriksa laporan pembangunan resort-nya, harus menghentikan kegiatannya sejenak ketika Erlan tiba-tiba membaringkan kepalanya di pangkuan Lyra.
Sebelum Lyra sempat menarik kakinya, Dera sudah lebih dulu melihat itu dan bersorak,
"Whoa, whoa ... kalian ..."
Hebohnya Dera itu membuat Ryan dan Prita ikut menoleh dan menatap Erlan dan Lyra. Tanpa ragu, Lyra menjambak rambut Erlan dan menarik kepala pria itu dari pangkuannya. Diabaikannya teriakan kesakitan beserta protes Erlan.
"Lagian, kalian juga, apa kalian jauh-jauh ke sini buat kerja?" Erlan menunjuk tab Dera.
"Kenapa lo jadi heboh?" Lyra yang membalas. "Gue udah senang mereka di sini. Mau mereka sambil kerja, mau mereka tidur seharian, yang penting mereka ada di rumah ini, di dekat gue."
Erlan mendengus tak percaya. "Oke, deh, oke. Tapi jangan lupa, mereka ada di sini berkat siapa?"
Lyra tak membalas dan kembali menunduk di atas pekerjaannya.
"Kalian sekarang berantemnya makin cute, ya." Komentar Dera itu membuat Lyra menatapnya dengan ngeri. "Makasih ya, berkat kalian aku jadi dapat ide cerita buat lanjutin ceritaku."
Lyra menyipitkan mata curiga. "Maksudnya?"
Dera tersenyum lebar. "Aku lagi nulis cerita yang karakternya pakai kamu sama Erlan. Judulnya Ice Princess."
Lyra mendengus tak percaya.
"Ini gambar karaktermu sama Erlan." Dera menyodorkan tab-nya pada Lyra.
Lyra menggeser duduknya ke arah Dera untuk mengambil alih tab itu. Di slide itu, ada dua gambar. Seorang gadis berambut sepunggung dengan wajah angkuh, dan seorang pria tampan dengan senyum yang ...
"Itu gue sama Lyra?" Suara Erlan begitu dekat, membuat Lyra menahan napas. Ia bisa merasakan kehadiran pria itu di sebelahnya tepat, melongok melewati bahunya.
Tak bisakah Erlan mengambil tempat lain yang lebih aman untuk melihat ini?
"Tapi, Lyra di sini kok cantik banget, sih? Penipuan publik, nih," Erlan berkata, membuat Lyra menoleh kesal.
Ia sudah akan protes, tapi suaranya tertahan di tenggorokan saat Erlan tiba-tiba menoleh juga padanya, membuat wajah mereka hanya berjarak tak lebih dari lima senti. Lyra menahan napas, sementara jantungnya berdegup kacau ketika mata Erlan menatap tepat ke matanya.
"Ah, sori, Ra. Aku yang salah. Ternyata gambar itu nggak bisa dibandingin sama Lyra yang ada di depanku ini," Erlan berkata seraya tersenyum, membuat perut Lyra bergolak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Be You (End)
Fiksi UmumTiga gadis muda dengan latar belakang berbeda, sama-sama sedang mencari tempat mereka di dunia yang kejam ini, dengan cara masing-masing. Dipertemukan di tempat yang tidak biasa, pabrik, kehidupan dan lingkungan yang keras harus mereka hadapi, denga...
