Bab 77 - Your Smile
Saat Lyra membuka mata pagi itu, ia mendapati dirinya berada di dalam mobil. Lyra menoleh ke samping dan dilihatnya Erlan tersenyum padanya.
"Good morning," pria itu menyapa santai.
Lyra menyipitkan mata curiga, sebelum menunduk dan mendapati tubuhnya terbungkus rapat selimut yang semalam dia bawakan untuk Erlan.
"Lagian elo, sih, semalam pakai ketiduran di pelukan gue," Erlan berkata.
Semalam ... Lyra masih baik-baik saja ketika Erlan memeluknya. Namun setelah itu, Lyra melakukan kesalahan. Karena terbawa suasana, ia mengakui hal-hal yang tidak perlu.
"Sebelum insiden sama anak jurnalis hari itu, gue selalu berusaha buat bunuh diri tiap kali keingat rasa bersalah gue sama Mama. Tapi, setelah gue tahu tentang elo ... gue mikir ulang. Gue mikir, betapa hidup lo lebih berat lagi, karena status lo, karena kakek lo yang nggak mikirin perasaan lo. Tapi, bahkan meski gue tahu hidup lo, gue iri sama elo. Bahkan dengan status lo, orang-orang masih ngelihat usaha lo."
Lyra memejamkan matanya. Memalukan sekali. Kenapa ia harus mengakui kelemahannya seperti itu di depan Erlan? Pertama, usaha bunuh dirinya. Lalu, rasa irinya pada Erlan. Benar-benar memalukan.
Lyra mengerang pelan teringat semalam ia menangis di pelukan Erlan saat mengingat mamanya. Karena terbawa suasana, ia ...
"Sebenarnya, dulu pas kita liburan ke sini, gue pengen ngajak lo ke sini," Erlan berkata, membuat Lyra kembali membuka matanya.
Lyra baru saja mendesah lega, ketika Erlan kembali menatapnya dan berkata,
"Tapi, semalam bukannya lo harusnya ngehibur gue, ya? Dan lo malah nangis sampai ketiduran di pelukan gue."
Lyra memaki dirinya sendiri dalam hati, sementara Erlan tergelak puas seraya turun lebih dulu.
Lyra memperhatikan sekelilingnya, mengerutkan kening melihat jalan berkerikil di depannya. Setelah membebaskan diri dari selimutnya, Lyra bergabung dengan Erlan. Ketika pria itu mengulurkan tangan padanya, Lyra tak menolaknya.
"Ini di mana?" tanya Lyra.
Erlan tak menjawab, tapi tak lama kemudian, Lyra melihat aliran sungai di hadapannya.
"Ini sungai sebelum air terjun waktu itu," Erlan berkata.
"Sungai sebelum air terjunnya? Serius?" Lyra tak dapat menahan ketertarikannya.
Erlan mengangguk. Dia menggandeng Lyra hingga mereka berada tepat di sisi sungai. Erlan melepaskan tangan Lyra ketika berjongkok dan meraup air dari sungai. Melihat Erlan mencuci wajahnya dengan air itu, Lyra bergabung dengannya. Namun kemudian, Erlan tiba-tiba mencipratkan air ke arah Lyra.
"Jangan norak, deh," Lyra mengingatkan Erlan.
Bukannya berhenti, Erlan malah mencipratkan lebih banyak air, membuat Lyra menjerit kesal seraya berdiri dan menjauh dari Erlan. Melihat usaha Lyra itu, Erlan tertawa puas, dan Lyra merasakan kelegaan yang menenangkan melihat tawa pria itu.
"Nggak lagi, deh," janji Erlan.
Lyra menyipitkan mata curiga, tapi ia memutuskan kembali menghampiri pria itu begitu Erlan mengangkat kedua tangannya.
"Gue pengen nyeberang ke sana." Erlan menunjuk sisi lain sungai, tempat sebuah pohon menaungi batu yang cukup besar.
"Arusnya lumayan deras, nih," Lyra berkata.
"Lo takut?" tuduh Erlan.
Lyra mendengus. Ia lantas melepaskan sepatunya dan turun lebih dulu ke sungai. Erlan tersenyum seraya menyusul Lyra. Berusaha mematahkan tuduhan Erlan, Lyra berjalan lebih dulu menyeberangi sungai itu. Namun, di tengah sungai, Lyra merasakan kakinya terpeleset dan ia nyaris terjatuh, tapi pegangan kuat di belakangnya menyelamatkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Be You (End)
General FictionTiga gadis muda dengan latar belakang berbeda, sama-sama sedang mencari tempat mereka di dunia yang kejam ini, dengan cara masing-masing. Dipertemukan di tempat yang tidak biasa, pabrik, kehidupan dan lingkungan yang keras harus mereka hadapi, denga...
