Bab 62 - Our Own Party

1.5K 208 23
                                        

Bab 62 - Our Own Party

"Untung lo tadi datang bareng Erlan," Arman yang entah kapan tiba di sebelah Lyra itu berbicara.

Lyra berusaha untuk tidak mendengarkan Arman, tapi kakaknya itu melanjutkan, "Seenggaknya ada tiga orang yang berniat ngomongin perjodohan sama lo. Tapi, berkat ada Erlan di samping lo, lo terselamatkan dari itu."

Lyra masih tak menanggapi.

"Kalau lo beneran dijodohin juga, apa lo yakin lo bisa masuk ke perusahaan?" Pertanyaan Arman itu membuat Lyra kontan menatap kakaknya itu tajam.

"Gue cuma mau bilang, pilihan lo cuma Erlan, kan?" Arman menyeringai.

"Gue bisa ngebayar cowok mana pun kalau gue mau," Lyra akhirnya tak tahan untuk tak membalas.

Arman tergelak. "Lo pikir Papa bakal diam aja kalau tahu?" dengusnya meledek.

"Dan gue nggak datang sama Erlan. Dia aja yang ngikut mobil gue tadi, bareng sama Dhika sama Dera. Gue yang nyetir, kalau lo belum tahu," tandas Lyra.

"Sopir yang baik," Arman berkomentar, lalu mengangkat gelasnya hingga menabrak gelas di tangan Lyra dengan bunyi berdenting pelan, sebelum meninggalkan Lyra.

Tatapan Lyra mengikuti Arman yang menyusul Evelyn yang sedang mengobrol bersama Prita dan Dera, sementara Dhika dan Ryan tampak mengobrol tak jauh dari mereka. Dhika tampak lebih santai dari pada saat pertama mereka datang tadi. Tadinya ia begitu nervous, hingga Dera harus menggenggam tangannya sepanjang waktu setiap kali ada orang yang menanyakan tentang dirinya.

Angga yang tampak paling gembira melihat Dhika di pesta itu, sementara Raka tampaknya masih belum terlalu menyetujui hubungan Dhika dan Dera, meski kakak sulung Dera itu tak mengatakan apa pun. Hanya melempar tatapan tajam pada Dhika. Sepanjang waktu. Bahkan saat ini juga, hingga Dimas harus menegurnya, lagi.

Lalu, Erlan ...

Lyra berusaha mencari ke sekeliling ball room hotel itu, dan saat matanya menangkap sosok Erlan, Lyra mencelos melihat siapa yang berdiri di depan Erlan; Simon.

Lyra meletakkan gelasnya di meja terdekat dan bergegas menghampiri Erlan. Ekspresi Erlan tak berubah sedikit pun, sementara di depannya, Simon terus berbicara dengan ekspresi mengejek.

"Jadi sekarang, lo mau ngerebut Brawijaya buat nunjukin ke orang-orang di perusahaan kakek lo, kalau anak haram kayak lo juga berguna?" Lyra mendengar Simon berbicara diiringi tawa meledek.

Di depannya, Erlan masih menatap Simon dengan datar, tak sedikit pun tampak marah atau terganggu.

"Tenang aja, nanti pas lo dapatin Brawijaya, gue bakal bantuin lo nunjukin ke orang-orang, kalau lo anak haram yang berguna," Simon berkata, sebelum ia terbahak puas, cukup keras hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. "Tapi bahkan meski lo bisa milikin perusahaan kakek lo, semua orang yang tahu kalau lo anak haram pasti bakal ngetawain lo di belakang lo. Mereka ..."

"Seenggaknya dia dapat posisinya karena usahanya," Lyra memotong kalimat Simon itu dengan tajam.

Simon tampak terkejut ketika Lyra tiba di samping Erlan.

Pria itu berdehem, lalu melempar senyum sok ramah pada Lyra.

"Gue dengar, lo dapat posisi lo itu karena nyuap dewan direksi, ya?" Lyra melemparkan bom ke wajah Simon yang seketika memerah, marah. "Kalau gue jadi lo, gue bakal pakai cara yang pintar dikit. Daripada buang-buang duit ke perut-perut orang-orang itu, mending gue beli saham minoritas sebanyak mungkin. Ah, tapi lo lebih suka cara yang praktis, ya? Um, maksud gue, cara yang kotor. Iya, kan?"

Just Be You (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang