Bab 31 - Menjauh
Hari pertama masuk di bagian packing mesin, Dera langsung dekat dengan Rika, salah seorang karyawan baru juga. Melihat Rika yang kalem, berbeda jauh dengan Lyra, Dera merasa lebih aman berteman dengan anak itu. Ketakutan Dera akan karyawan-karyawan lain yang lebih senior di bagian packing mesin itu juga terpatahkan ketika seorang karyawan operator mesin yang bertugas mengajarinya, bersikap sangat baik dan dengan sabar mengajarinya.
"Mbak Nuri, ini aku ngikatnya gini, udah benar?" tanya Dera seraya menunjukkan hasil ikatannya pada karyawan operator mesinnya, Nuri.
"Nah, itu bisa," sahut Nuri seraya tersenyum.
"Tadinya nggak. Habis Mbak Nuri bilang kalau aku pasti bisa, ngeyel pula," balas Dera, membuat Nuri tersenyum.
Pasalnya, ia mendapat tugas mengikat plastik yang memang ukurannya lebih besar daripada sebelumnya, dengan ikatan yang rumit. Jika bukan karena Nuri yang dengan sabar mengajarinya tadi, pastilah ia sudah menyerah tadi.
"Jangan lembek kalau sama dia, Mbak. Dikerasin juga nggak pa-pa. Strong kok dia," tiba-tiba Lyra yang ada di mesin sebelah nyeletuk.
Dera mendesis kesal ke arahnya. "Sirik."
"Pede," balas Lyra, tak sedikit pun mau mengalah.
"Udah, udah. Kalian dari tadi ribut terus, sih," lerai Nuri.
"Iya, nih. Lyra kayaknya senang banget ngegodain Dera," Hayu, karyawan senior yang ada di mesin yang sama dengan Lyra berkomentar.
"Kebiasaan, Mbak," jawab Lyra dengan santainya.
"Kurang kerjaan," desis Dera kesal.
Begitulah, ia memulai hari pertamanya di bagian baru dengan cukup baik. Syukurlah karena ia dipertemukan dengan karyawan senior yang baik dan sabar seperti Nuri dan Hayu. Lain halnya dengan Rika, yang sepertinya tampak tidak akur dengan karyawan senior lainnya. Ketika gadis itu berkeluh kesah padanya saat jam istirahat petang itu, Dera dengan sabar mendengarkan semuanya.
Namun, perhatian Dera pada Rika terpecah ketika melihat Dhika sudah kembali bekerja padahal jam istirahat masih cukup panjang. Beberapa karyawan memujinya, tapi Dera mendadak merasa ada yang aneh dengan pria itu. Sejak tadi, dia berkali-kali berpapasan dengan Dera, tapi bersikap seolah tak mengenal Dera.
Khawatir, Dera pun pamit pada Rika, dan menghampiri Dhika yang sedang mengepak plastik di salah satu mesin. Namun, begitu Dera sampai di hadapannya, tiba-tiba pria itu berdiri dan pergi begitu saja, meninggalkan Dera terpaku di tempatnya, bingung. Kekesalan mulai menguasainya ketika mendapati pria itu terus mengabaikannya setelahnya.
"Kenapa, Ra?" tanya Lyra yang baru kembali dari kafe. Dera tadi tidak ikut karena ingin menemani Rika, memang.
Dera mengedik ke arah Dhika. "Kumat lagi tuh cowok nyebelinnya."
Ketika Lyra tak menanggapi, Dera menoleh dan melihat Lyra mengerutkan keningnya, tampak berpikir.
"Kamu ngapain mendadak ngelamun gitu?" tuntut Dera.
"Eh? Nggak, nggak pa-pa. Ini, tadi kamu katanya titip es cokelat, kan?" Lyra mengangsurkan gelas plastik berisi es cokelat favorit Dera. Seketika, pikiran Dera akan Dhika berganti dengan es kesukaannya itu.
"Lyra, thank you," ucap Dera riang sebelum ia kembali ke tempat Rika dan menawarkan minuman itu padanya. Lebih baik mengobrol dengan Rika dan menikmati es cokelatnya daripada memikirkan pria dingin menyebalkan itu.
***
"Kamu kalau pulang lewat jalan kecil itu?" Lyra menanggapi cerita Dera pada Nuri tentang jalan menuju rumahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Be You (End)
Narrativa generaleTiga gadis muda dengan latar belakang berbeda, sama-sama sedang mencari tempat mereka di dunia yang kejam ini, dengan cara masing-masing. Dipertemukan di tempat yang tidak biasa, pabrik, kehidupan dan lingkungan yang keras harus mereka hadapi, denga...
